Thursday, 12 March 2026


Kisah Haru Mahasiswa Kesehatan Hewan, Rawat Hewan dengan Penuh Empati

28 Feb 2026, 21:26 WIBEditor : Nattasya

Mahasiswa Kesehatan Hewan Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor menghadapi tantangan merawat hewan sakit di Klinik Pendidikan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Mahasiswa Kesehatan Hewan Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor menghadapi tantangan merawat hewan sakit di Klinik Pendidikan. Di balik risiko dan kelelahan, tersimpan kisah haru tentang empati, perjuangan, dan dedikasi tanpa henti.

Empat mahasiswa tingkat dua Program Studi (Prodi) Kesehatan Hewan di Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor membagikan kisah perjuangan mereka menempuh pendidikan yang penuh tantangan sekaligus sarat empati terhadap hewan. 

Cerita tersebut disampaikan melalui video bertajuk “Ceria: Banyak Tantangan, Siapa Takut” yang diunggah di kanal YouTube resmi kampus pada Senin (23/2).

Keempat mahasiswa itu yakni Ghina Tilawaty Diennur, Halwa Nur Insan Elhikmah, Alessandro Nesta Kurniawan, dan Muhammad Shidai Faiz Hidayat. 

Mereka mengungkap pengalaman belajar selama menjalani pendidikan Diploma 3 (D3) Kesehatan Hewan, mulai dari praktik laboratorium hingga penanganan langsung hewan sakit.

Muhammad Shidai Faiz Hidayat mengaku awalnya mengira perkuliahan hanya berfokus pada biologi hewan secara umum. Namun, kenyataannya materi yang dipelajari jauh lebih luas dan kompleks.

“Kami belajar teknik restrain, handling hewan sakit, pengobatan, hingga memastikan hewan bisa sembuh dengan baik. Ternyata ilmunya sangat komprehensif,” ujarnya.

Sementara itu, Alessandro Nesta Kurniawan menuturkan pengalaman paling berkesan adalah saat praktikum laboratorium, khususnya memeriksa mikroorganisme seperti bakteri dan virus. 

Ia mengatakan mahasiswa kerap bekerja hingga malam demi memastikan hasil pengujian akurat.

“Di situ kami belajar ketelitian dan tanggung jawab,” katanya.

Pembelajaran di Prodi Kesehatan Hewan tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Melalui konsep teaching factory, mahasiswa terlibat langsung dalam layanan di Klinik Hewan Pendidikan dan Kandang Cinagara. 

Di klinik, mahasiswa melakukan pemeriksaan fisik hewan, menjaga sanitasi dan sterilisasi ruangan sesuai standar biosecurity dan biosafety, serta belajar komunikasi dengan pemilik hewan.

Di kandang, mahasiswa menangani hewan ternak seperti sapi yang mengalami gangguan kesehatan. 

Mereka juga menjalani praktikum lapangan di peternakan babi, kebun binatang, hingga pendalaman penggunaan obat-obatan hewan bersama mitra akademik.

Pengalaman mengambil sampel darah dari sapi maupun ayam menjadi tantangan tersendiri. 

Risiko tertendang sapi atau munculnya hematom pada ayam menjadi bagian dari proses pembelajaran yang melatih keberanian sekaligus ketelitian. 

Namun di balik tantangan itu, mahasiswa mengaku menemukan kepuasan batin saat melihat hewan yang dirawat kembali sehat.

“Menangani kuda justru menjadi momen healing. Rasa lelah hilang ketika melihat hewan itu pulih,” ungkap salah satu mahasiswa.

Selain keterampilan teknis, mahasiswa juga dibekali kemampuan komunikasi, manajemen klinik, dan kewirausahaan. 

Mereka bahkan dapat menerapkan ilmu tersebut untuk merawat hewan peliharaan di rumah.

Kepedulian terhadap kesejahteraan hewan juga diwujudkan melalui kegiatan sosial, seperti pemberian pakan gratis bagi kucing liar dan vaksinasi rabies gratis setiap tahun. 

Mahasiswa turut mengedukasi masyarakat tentang bahaya rabies dan pentingnya interaksi aman dengan hewan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan pendidikan vokasi pertanian, termasuk kesehatan hewan, menjadi kunci memperkuat sistem pertanian nasional.

“Kesehatan hewan adalah fondasi ketahanan dan swasembada pangan. Kita membutuhkan SDM yang adaptif terhadap teknologi dan siap menjaga kesehatan hewan sebagai bagian dari keamanan pangan nasional,” tegasnya.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Idha Widi Arsanti menyebut Polbangtan memiliki peran strategis mencetak tenaga profesional yang terampil sekaligus berkarakter.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, Yoyon Haryanto, menambahkan capaian akreditasi Unggul Prodi Kesehatan Hewan menjadi bukti komitmen institusi dalam menjaga mutu pendidikan berbasis praktik dan kebutuhan industri.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi ditempa langsung di lapangan sehingga siap kerja dan siap berwirausaha,” ujarnya.

Di akhir sesi, para mahasiswa mengajak calon mahasiswa tidak ragu bergabung di Prodi Kesehatan Hewan. 

Mereka menilai rasa takut terhadap hewan dapat diatasi melalui pembelajaran terarah dan pendampingan dosen profesional.

Dengan kurikulum komprehensif yang memadukan teori, praktik lapangan, serta penguatan soft skill, Prodi Kesehatan Hewan Polbangtan Bogor dinilai menjadi pilihan bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam kesehatan hewan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Penerimaan Mahasiswa Baru saat ini telah dibuka melalui kanal resmi kampus.

Reporter : Wsd
Sumber : Polbangtan Bogor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018