
MAF Bongkar Strategi Swasembada Daging: Kolaborasi SDM dan Teknologi Jadi Kunci
TABLOIDSINARTANI.COM, GOWA -- Forum MAF mengungkap strategi besar swasembada daging 2026. Kolaborasi SDM, inovasi teknologi, dan penguatan hilirisasi disebut jadi kunci utama menghadapi tantangan global dan memperkuat sektor peternakan nasional.
Upaya mewujudkan swasembada daging nasional bukan lagi sekadar wacana. Melalui gelaran Millennials Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 13, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa membongkar strategi besar yang akan menjadi kunci menuju kemandirian sektor peternakan Indonesia pada 2026.
Mengangkat tema “Mewujudkan Swasembada Daging Berkelanjutan: Menjawab Tantangan Global, Mengoptimalkan Potensi Lokal”, forum yang digelar Sabtu (28/3/2026) ini diikuti lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah secara daring. Antusiasme tinggi peserta menunjukkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap masa depan peternakan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pada komoditas ayam dan telur, bahkan mampu menembus pasar ekspor. Ke depan, fokus pemerintah diarahkan pada penguatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan.
Langkah hilirisasi ini dinilai strategis karena tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan kesejahteraan peternak di berbagai daerah.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan swasembada daging terletak pada kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda.
“Ini bukan sekadar program, tapi strategi besar untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah peternakan nasional,” tegasnya.
Senada, Plt. Direktur Polbangtan Gowa Sartika Juwita menilai bahwa pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan sektor peternakan saat ini.
“Harus ada kolaborasi, inovasi teknologi, dan peningkatan kualitas SDM. Ini kunci agar Indonesia tidak hanya cukup, tapi juga kuat di sektor peternakan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, berbagai strategi konkret turut dibahas, mulai dari penguatan peran penyuluh pertanian, pemanfaatan teknologi modern dalam budidaya ternak, hingga optimalisasi potensi lokal berbasis kelompok tani dan peternak.
Selain itu, transformasi model bisnis juga menjadi sorotan penting. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Muhammad Amin menekankan bahwa ke depan peternak harus mulai beralih dari penjualan ternak hidup menuju produk olahan bernilai tambah.
“Ke depan, kita tidak lagi jual ternak hidup, tapi produk daging bernilai tambah. Di situlah peluang besar peternak meningkat,” jelasnya.
Dengan jumlah peserta mencapai 1.096 orang, MAF Vol. 7 Edisi 13 menjadi bukti nyata bahwa generasi muda mulai mengambil peran strategis dalam transformasi sektor peternakan.
Polbangtan Gowa berharap forum ini menjadi titik awal lahirnya inovasi dan kolaborasi besar untuk mempercepat terwujudnya swasembada daging berkelanjutan di Indonesia.