Friday, 15 May 2026


Bukan Sekadar Penyuluh, Ini 5 Peran ‘Super’ yang Bikin Pertanian Indonesia Naik Kelas

16 Apr 2026, 11:13 WIBEditor : Gesha

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono bersama penyuluh pertanian Grobogan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Peran penyuluh pertanian kini tak lagi biasa. Mereka jadi motor perubahan lewat lima peran kunci yang mendorong petani lebih modern, produktif, dan siap bersaing di era smart farming.

Peran penyuluh pertanian kini tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Di tengah dorongan transformasi menuju sistem pertanian modern, posisi mereka justru makin krusial. Bukan cuma penyampai informasi teknis, penyuluh kini jadi motor penggerak perubahan di lapangan.

Penyuluh Pertanian Ahli Utama, Dedi Nursyamsi, menegaskan bahwa sistem pertanian ke depan menuntut peran penyuluh yang lebih luas dan adaptif.

Menurutnya, ada lima peran utama yang harus dijalankan penyuluh agar sektor pertanian Indonesia bisa naik kelas.

“Penyuluh itu bukan hanya pendamping, tapi penggerak utama transformasi,” kata Dedi dalam keterangannya.

Ia merinci, peran pertama adalah sebagai motivator. Dalam posisi ini, penyuluh dituntut mampu membangkitkan semangat dan kepercayaan diri petani agar terus berkembang, terutama menghadapi tantangan zaman yang makin kompleks.

Peran kedua, sebagai fasilitator. Penyuluh menjadi jembatan antara petani dengan berbagai kebutuhan penting, mulai dari akses teknologi, permodalan, hingga sarana produksi.

Tanpa peran ini, petani kerap kesulitan menembus sistem yang lebih modern.

Selanjutnya, penyuluh juga berfungsi sebagai formulator. Artinya, mereka harus mampu merumuskan solusi konkret atas berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan, baik dari sisi produksi, distribusi, hingga pemasaran.

Peran keempat adalah inovator. Di sini, penyuluh bertugas memperkenalkan dan menyebarluaskan teknologi baru kepada petani.

Mulai dari praktik smart farming hingga pemanfaatan digitalisasi dalam pertanian, semua bergantung pada kemampuan penyuluh dalam mentransfer pengetahuan.

Terakhir, penyuluh menjadi motor agribisnis. Peran ini dinilai paling strategis karena mendorong petani untuk tidak hanya berproduksi, tetapi juga masuk ke sistem bisnis yang lebih terstruktur dan menguntungkan.

Di sisi lain, Dedi juga menyoroti tantangan besar yang sedang dihadapi sektor pertanian, yakni minimnya regenerasi petani. Saat ini, minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian masih tergolong rendah.

Padahal, menurutnya, masa depan pertanian sangat bergantung pada kehadiran petani muda yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki jiwa kewirausahaan.

“Generasi muda harus melihat pertanian sebagai peluang bisnis, bukan pekerjaan tradisional,” ujarnya.

Untuk itu, konsep petani milenial dan petani pengusaha muda terus didorong.

Mereka diharapkan tidak hanya piawai dalam budidaya, tetapi juga memiliki kemampuan dalam manajemen usaha dan akses pasar.

Transformasi menuju smart farming dan penguatan sistem agribisnis pun disebut bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Apalagi di tengah tekanan global seperti perubahan iklim dan ancaman krisis pangan, Indonesia dituntut memperkuat fondasi sektor pertaniannya.

Dengan penyuluh sebagai garda terdepan, serta dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan besar di sektor pangan dinilai terbuka lebar.

“Kalau semua bergerak bersama, kita bukan hanya swasembada, tapi bisa jadi pemain penting dalam pangan dunia,” tutup Dedi.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018