
Penyuluh pertanian di Ngawi sedang memberikan informasi ke petani
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Posisi penyuluh pertanian selama ini kerap terpinggirkan, bahkan banyak yang melupakan. Karena itu ke depan, peran penyuluh pertanian harus lebih besar, tidak lagi sekedar pemberdayaan petani untuk meningkatkan komoditas pertanian, tapi harus digeser dalam konteks peningkatan daya saing berkelanjutan (national development).
Sebagai negara agraris, Guru Besar Sosiologi dan Penyuluh Pertanian, Universitas Padjajaran, Prof. Iwan Setiawan melihat penyuluhan pertanian ke depan tidak hanya untuk kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Tapi bagaimana mengoptimalkan potensi Indonesia sebagai negara agraris.
Bagi bangsa Indonesia, menurut Iwan, negara agraris adalah identititas (jati diri). Agraris merupakan sistem yang kompleks, menyangkut sumberdaya alam (ekosistem, sosiosistem dan geosistem), sumberdaya pertanian (agri-culture integrated and circular farming) dan sumberdaya perairan.
Bagaimana membangkitkan peradaban bangsa agraris? Menurut Iwan, melihat kebangkitan di Eropa dan peradaban lainnya ternyata karena penyuluhan (pendidikan non formal), bukan pendidikan formal. Karena itu, sebagai negara yang masih dalam era golden age solusiupaya membangkitkan peradaban bangsa agraris dengan penyuluhan dan komunikasi specialty.
Kerangka berpikir penyuluhan specialty ini menggeser lima bidang kajian sosiologi menjadi enam bidang. Jika sebelumnya hanya sistem sosial, interaksi sosial, struktur sosial, prilaku sosial dan perubahan sosial, kini perlu ditambah risiko sosial, sehingga holistik.
”Dengan kondisi hari ini, resiko sosial dan lingkungan harus dimasukkan sebagai upaya antisipatif,” tuturnya saat webinar Mengembalikan Marwah Penyuluh Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (15/4).
Menggeser Subyek Penyuluhan
Jadi penyuluhan pertanian specialty (PPS) adalah menggeser subyek penyuluhan dari sekadar hanya untuk komunitas petani menjadi untuk bangsa agraris. Relasinya bukan antar kelas masyarakat, tetapi daya saing bangsa. PPS juga akan menghidupkan komoditas lokal yang khas, unik dan istimewa yang membudaya dan melembaga (mendapat pemihakan dan perlindungan).
“Sekaligus mereduksi komoditas impor yang melembaga, tetapi kurang atau tidak membudaya. Kita tidak menolak modernitas dan tidak bias ke lokal, tapi mengkombinaskan,” tambah Iwan.
Bagaimana penyuluh pertanian specialty di era disruptif? Menurutnya, penyuluhan pertanian di era disruptif atau digital adalah era mekanisme berbagi, berkolaborasi, beraplikasi (digital, smart, AI) dan berbasis komunitas (virtual, actual). Era ini memberi ruang dan peluang kepada semua pihak untuk berperan dan tumbuh kembang, termasuk penyuluh pertanian.
Sayanganya dengan teknologi AI dalam penyuluhan, Iwan justru melihat ada kecenderungan pemanfaatannya bukan untuk desiminasi, tapi hanya untuk transfer teknologi. Karena itu, penyuluhan specialty di era disruptif memerlukan brain gain, technotalent dan pemihakan bangsa.
Menurut Iwan, penyuluhan specialty di era digital membutuhkan penyuluh tecknotalent. Mereka bukan hanya membangun komunitas virtual, tapi juga komunitas fisikal atau aktual. Meski, penyuluh pertanian kini ditarik ke pusat, peran dan fungsi mereka harus tetap spesiality.
”Penyuluhan specialty era digital membutuhkan penyuluh technotalent yakni, penyuluh muda, terdidik, berjaringan dan menguasai teknologi cerdas. Jadi penyuluh harus memanfaatkan teknologi dan mengangkat spesiality lokal,” katanya.
Bahkan pemerintah bisa menarik penyuluh-penyuluh muda yang diperkotaan ke desa (pulang kampung). Dengan potensi yang ada, khususnya pemahaman terhadap AI dan teknologi, penyuluh muda yang berada di pedesaan berperan sebagai tehnotalent. ”Jika penyuluh masa lalu identik polyvalent yang merujuk personal competitif, kini menjadi communal competitif. Jadi posisinya bukan lagi polyvalent, tapi polytalent,” tuturnya
Namun Iwan mengingatkan, penyuluhan speciality itu tidak bisa digeneralisir. Pasalnya, setiap wilayah dan daerah memiliki karakteristik tersendiri yang pembeda. Jika setiap penyuluh hanya mengandalkan pemanfaatan teknologi digital atau AI, maka hasilnya akan seragam. “Kita akan terperangkap dalam keseragaman lagi? Nah, ini jangan sampai terjadi,” tegasnya.