Thursday, 16 July 2026


135 Petani Flores Timur Belajar Pertanian Berkelanjutan di Timor Tengah Selatan

11 Jun 2026, 10:14 WIBEditor : Herman

135 petani dari Kabupaten Flores Timur mengikuti program kunjungan belajar ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur

TABLOIDSINARTANI.COM, Soe --- Upaya memperkuat ekonomi lokal melalui sektor pertanian berkelanjutan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas daerah dan berbagai mitra pembangunan. Sebanyak 135 petani dari Kabupaten Flores Timur mengikuti program kunjungan belajar ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang berlangsung selama dua pekan, 8–21 Juni 2026.

Program ini menjadi wadah pertukaran pengalaman sekaligus pembelajaran lapangan mengenai pengembangan hortikultura berkelanjutan dan pemberdayaan generasi muda dalam sektor pertanian. Kegiatan difasilitasi oleh Plan Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten TTS, serta sejumlah mitra pembangunan.

Peserta kunjungan terdiri atas 80 petani Flores Timur, 20 petani dampingan Plan Indonesia, dan 35 petani dampingan Caritas Indonesia. Selama berada di TTS, mereka mempelajari berbagai praktik pertanian berbasis Good Agricultural Practices (GAP) dan pendekatan Youth-Led Agri-food (YLAF), sebuah model pembangunan pertanian yang menempatkan kaum muda, khususnya perempuan, sebagai penggerak utama sistem pangan lokal.

Rombongan peserta secara resmi diterima Pemerintah Kabupaten TTS dalam acara penyambutan yang berlangsung di Aula Kantor Bappeda TTS, Rabu (10/6). Momentum tersebut menjadi simbol penguatan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan para mitra pembangunan dalam mendorong transformasi sektor pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan di NTT.

Program pembelajaran ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, dan Pemerintah Kabupaten TTS dengan dukungan Plan Indonesia, GIZ, Yayasan Krisna Galensya (Krisna Foundation), serta Caritas Indonesia.

Selama kunjungan, para peserta akan belajar langsung di wilayah dampingan Plan Indonesia dan Yayasan Krisna. Berbagai materi yang dipelajari mencakup praktik hortikultura berkelanjutan, penerapan climate-smart agriculture, penguatan kelembagaan kelompok tani, pengembangan kewirausahaan hijau (green entrepreneurship), hingga pengelolaan usaha pertanian dari tahap persiapan lahan, akses pasar, sampai manajemen keuangan.

Pendekatan YLAF yang menjadi fokus utama pembelajaran telah menunjukkan hasil positif di Kabupaten TTS. Hingga saat ini, program tersebut telah melibatkan 411 petani muda, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan perempuan. Selain itu, program berhasil mengembangkan 50 hektare lahan produktif dan memperkuat 39 kelompok tani muda di wilayah tersebut.

Keberhasilan tersebut mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada 2025, program YLAF meraih penghargaan SDGs Action Awards kategori Organisasi Masyarakat Sipil Terbaik I yang diberikan oleh Kementerian PPN/Bappenas. Penghargaan itu menjadi bukti nyata kontribusi program dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kemandirian ekonomi pemuda, serta mendorong pembangunan pertanian di wilayah terpencil.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan pendekatan YLAF telah membuktikan bahwa kaum muda memiliki peran strategis dalam pembangunan sektor pertanian.

“Program Youth-Led Agri-food menunjukkan bahwa ketika pemuda, khususnya perempuan muda, diberikan akses terhadap pengetahuan, pendampingan, dan peluang pasar, mereka mampu menjadi penggerak utama transformasi pertanian yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Kami berharap pembelajaran ini dapat direplikasi dan dikembangkan di Flores Timur,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, Setyo Budiantoro, menilai pembelajaran lintas daerah menjadi langkah penting dalam mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Kolaborasi antar daerah seperti ini merupakan bagian penting dari upaya mencapai SDGs, khususnya dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Praktik baik dari Timor Tengah Selatan diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan ekosistem hortikultura di Flores Timur,” katanya.

Lebih dari sekadar kunjungan belajar, kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi memperkuat sumber penghidupan masyarakat Flores Timur yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ekonomi dan tingginya angka migrasi kerja, termasuk migrasi yang tidak aman.

Melalui penguatan sektor pertanian produktif dan pengembangan kewirausahaan pemuda, masyarakat diharapkan memiliki alternatif mata pencaharian yang lebih aman, layak, dan berkelanjutan di daerah asalnya. Di sisi lain, peningkatan kapasitas petani dan generasi muda juga membuka peluang terbentuknya rantai pasok hortikultura yang lebih kuat, sehingga hasil pertanian lokal memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih besar dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan dalam mempercepat transformasi sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur. Berbagai praktik baik yang telah berhasil diterapkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di Flores Timur untuk mewujudkan pertanian yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

 

 

Reporter : Bebe Riantobi
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018