
Sebanyak 208 penyuluh Lampung mengikuti Bimtek Pupuk Hayati Cair untuk memperkuat pendampingan petani dan meningkatkan produktivitas pertanian.
TABLOIDSINARTANI.COM, Lampung Selatan – Sebanyak 208 penyuluh Lampung mengikuti Bimtek Pupuk Hayati Cair untuk memperkuat pendampingan petani dan meningkatkan produktivitas pertanian.
Upaya meningkatkan produktivitas pertanian di Lampung terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas penyuluh pertanian.
Sebanyak 208 penyuluh mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendamping Kegiatan Pupuk Hayati Cair (PHC) untuk memastikan inovasi pupuk ramah lingkungan dapat diterapkan secara optimal oleh petani.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (7/7/2026), menjadi momentum mempererat kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, dan penyuluh sebagai garda terdepan pembangunan pertanian.
Hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Kapusluhtan) Eko Nugroho Dharmo Putro.
Keduanya mendorong penguatan pendampingan kepada petani agar program PHC mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan hasil pertanian.
Pemerintah Provinsi Lampung sendiri telah menyiapkan program distribusi 2.000 paket Pupuk Hayati Cair (PHC) untuk 2.000 desa.
Program ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Pupuk Hayati Cair dinilai memiliki sejumlah keunggulan karena dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta berpotensi menekan biaya usaha tani.
Bahkan, bahan PHC dapat dikembangkan secara mandiri oleh petani melalui proses pengolahan dan penyesuaian bahan yang tersedia di sekitar lingkungan pertanian.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan keberhasilan berbagai program pertanian sangat bergantung pada keterlibatan penyuluh.
Menurutnya, penyuluh memiliki peran penting dalam memastikan kebijakan dan inovasi dari pemerintah benar-benar sampai kepada petani.
“Program kami tidak akan berjalan tanpa peran dan dukungan para penyuluh,” kata Rahmat.
Ia berharap penerapan PHC mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat perekonomian daerah.
Selain itu, Pemprov Lampung juga menyiapkan dukungan pascapanen berupa bantuan 500 unit dryer untuk komoditas padi dan jagung yang bersumber dari APBD Provinsi Lampung.
Sementara itu, Plt. Kapusluhtan Eko Nugroho Dharmo Putro mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung dalam mendorong penggunaan inovasi pertanian.
Menurutnya, kerja sama antara pusat dan daerah menjadi bagian penting dalam mempercepat pencapaian target swasembada pangan.
Eko menegaskan penyuluh pertanian harus mampu menjadi penghubung antara teknologi dan petani.
Tidak hanya memberikan informasi, penyuluh juga dituntut mendampingi proses penerapan teknologi agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
“Penyuluh harus hadir mendampingi petani, memastikan teknologi diterapkan, dan mengawal setiap program agar memberikan hasil nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga meminta para penyuluh yang telah mengikuti bimtek untuk aktif mendampingi petani dalam pemanfaatan PHC, mulai dari proses produksi hingga penggunaannya di lahan pertanian.
Selain pengembangan PHC, penyuluh juga memiliki tugas mengawal sejumlah program prioritas Kementerian Pertanian, seperti penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS), penguatan produksi pangan, pendampingan program Tim Jemput Pangan bersama Perum Bulog, pengawalan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP), serta memastikan petani mendapatkan pupuk sesuai ketentuan.
Melalui peningkatan kompetensi penyuluh dan dukungan inovasi pertanian, Lampung menargetkan sektor pertanian semakin produktif dan mampu memberikan manfaat lebih besar bagi petani.
Dengan 208 penyuluh yang telah mendapatkan pembekalan PHC, pemerintah berharap teknologi pertanian berkelanjutan dapat semakin luas diterapkan hingga tingkat desa dan menjadi penggerak utama peningkatan kesejahteraan petani.