
Webinar Sinar Tani
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di era digitalisasi, proses transfer informasi dari penyuluh pertanian ke petani harus mengikuti zaman juga. Bahkan penyuluh pertanian tidak bisa lagi menghindar dari teknologi informasi yang kini terus berkembang. Dengan tantangan pembangunan pertanian yang kian besar, teknologi digital dapat meningkatkan kinerja penyuluh pertanian.
Penyuluhan pertanian menjadi proses pendidikan. Berbeda dengan pendidikan kepada anak-anak, penyuluhan pertanian merupakan proses pendidikan kepada orang dewasa (andragogi). Artinya, penyuluh pertanian mempunyai tugas menyampaikan bagaimana inovasi teknologi sampai ke petani dengan baik dan benar.
Salah satu proses pembelajaran dalam penyuluhan adalah melalui transfer teknologi. Karena itu, dengan kondisi sekarang ini, penyuluh pertanian harus paham dengan teknologi digital. Namun di tengah informasi pertanian yang banyak beredar di media digital, khususnya media sosial, penyuluh pertanian juga harus bisa menyaring kebenaran informasi.
Kepala Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, pemerintah saat ini telah menerbitkan regulasi pendayagunaan penyuluh pertanian dengan terbitnya Inpres No. 3 Tahun 2025. Saat ini sebanyak 37 ribu penyuluh pertanian di daerah dialihkan ke pusat, sehingga berada dalam satu komando di Kementerian Pertanian. Hal ini dalam upaya pemerintah mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Kini juga tengah disiapkan Perpres No. 2 Tahun 2026 tentang Urusan Pemerintahan Konkuren Tambahan di Bidang Pertanian. Saat ini draft Surat Edaran Bersama antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Dalam Negeri yang terkait urusan pemerintahan konkuren di bidang pertanian.
“Saat ini SE sedang dalam proses dan sudah berada di Sekjen Kementerian Dalam Negeri,” katanya saat Webinar Teknologi Digital Untuk Meningkatkan Kinerja Penyuluh Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Kamis (27/8).
Melihat pertanian dalam menghadapi tantangan global, Eko menilai, mekanisasi pertanian telah menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan kapasitas produksi. Misalnya, dalam budidaya bukan hanya dalam pengelolaan lahan menggunakan traktor, tapi dalam budidaya padi hingga pemasaran telah menggunakan digital.
Modernisasi pertanian menurutnya, tidak hanya menghemat waktu, tapi juga efisiensi tenaga kerja dan peningkatan produktivitas pertanian. Karena itu, pemerintah terus mendorong transformasi pertanian dari tradisional ke modern. “Jika dulu kita mekanisisapi, kini mekanisasi modern. Salah satu program modernisasi yang kini pemerintah dorong adalah teknologi PM-AAS,” katanya.
Ia mencontohkan, meski teknologi budidaya PM-AAS dari analisasi usaha tani biayanya bertambah sekitar Rp 2 juta/ha atau dari Rp 13 juta/ha menjadi Rp 15 juta/ha, tapi ada peningkatan produksi yang berdampak pada pendapatan petani. “Kalau sebelumnya sekali panen petani hanya mendapatkan Rp 25 juta, sekarang bisa mencapai Rp 60-70 juta sekali musim tanam,” ujarnya.
Penyuluh Pertanian Ahli Utama, Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengingatkan, tantangan pembangunan pertanian makin berat. Dari mulai perubahan iklim ekstrem, konflik geopolitik, kualitas SDM khusus petani yang sebagian besar berpendidikan SD dan didominasi berumur tua. Sementara di sisi lain, penyuluh pertanian juga makin terbatas, Indonesia sebagai negara kepulauan dan alih fungsi lahan yang kian masif.
“Produktivitas tanaman padi sejak 1999 cenderung stagnan. Dengan teknologi PM-AAS kini memberikan harapan untuk peningkatan produksi pangan. Jadi kalau ingin menggenjot produksi kita harus transformasi dari pertanian konvensional ke pertanian modern,” kata Dedi.
Penyuluh, Mengubah Peradaban
Bagaimana tugas penyuluh pertanian? “Penyuluh itu mengubah peradaban. Bagaimana pengubah prilaku petani untuk meningkatkan produksi pertanian yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Untuk itu Dedi berpesan, penyuluh harus memahami tugas dan fungsi penyuluh pertanian dan memahami prioritas pembangunan pertanian. Setidaknya ada lima tugas dan fungsi penyuluh pertanian. Pertama, motivator yakni memberikan motivasi dan semangat kepada petani di saat suka dan duka. Kedua, fasilitator: memfasilitasi untuk memenuhi kebutuhan petani: keterbatasan tenaga kerja, modal, teknologi, sarana produksi pertanian pupuk dan benih.
Ketiga, formulator. Penyuluh pertanian membantu merumuskan permasalahan yang dihadapi petani dan memberikan solusinya, kemudian menumbuhkembangkan kelembagaan petani termasuk KEP, Brigade Pangan, dan korporasi. Keempat, Inovator (menemukan dan menyebarluaskan inovasi dan teknologi spesifik lokasi kepada petani).
Kelima, motor agribisnis. Penyuluh pertanian dapat memberikan saran, masukan, arahan, dan analisis secara aktif dalam membangun agribisnis kepada petani. “Untuk menjalani tugas dan fungsi itu, penyuluh pertanian dapat memanfaatkan teknologi informasi. Jadi penyuluh harus melek informasi dan jangan gaptek,” katanya.
Sementara itu, CEO PT. Global Village, Cacuk Wibisono mengatakan, tranformasi pertanian dari konvensional menjadi modern dapat membantu petani, bukan hanya dalam budidaya tapi juga dalam pengolahan produksi dan pemasaran. Karena itu, kehadiran aplikasi Global Village adalah upaya menemani petani dalam transformasi pertanian.
Secara umum ada tiga hal umum aplikasi dalam Global Village yakni multimedia, e-commerce dan payment-getway. Hal ini dalam menemani petani dari pertanian budidaya menuju agribisnis. ”Di era saat ini, kami membuat aplikasi Global Village bertujuan membantu penyuluh pertanian dan petani dalam memberikan informasi dunia pertanian,” katanya.
Bagi Sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi kegiatan webinar dan e sertifikat bisa diunduh di link bawah ini
Link Materi: Klik Disini
Link E-sertifikat : Klik Disini
Sertifikat Berdasarkan Nomor : Klik Disini