
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gunungwungkal, Detrihend Febrinaldi ersama Petani ubi Jalar Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Edi Widoyoko
TABLOIDSINARTANI.COM, Pati --- Ubi jalar selama ini mungkin hanya dianggap sebagai tanaman pangan pelengkap. Namun, di tangan Edi Widoyoko, petani di Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, tanaman tersebut justru mulai menunjukkan peluang sebagai komoditas usaha tani yang menarik.
Dari lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi, Edi berhasil memanen sekitar 6 ton ubi jalar varietas lokal Mantang. Tanaman tersebut dipanen pada Kamis (17/9), saat Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gunungwungkal melakukan anjangsana ke lahan miliknya.
Tanaman yang telah berumur sekitar tiga bulan itu terlihat tumbuh cukup baik. Umbi yang dipanen memiliki kulit merah keunguan dengan daging berwarna putih bersih. Ukuran dan bentuknya cukup beragam.
“Umurnya sekitar tiga bulan. Dari lahan 3.000 meter persegi ini hasilnya kurang lebih enam ton,” ujar Edi saat panen.
Jika dikonversikan, hasil tersebut setara sekitar 20 ton per hektare. Dengan harga jual sekitar Rp3.700 per kilogram, nilai produksi dari lahan tersebut mencapai sekitar Rp22,2 juta.
Angka itu memang belum menjadi keuntungan bersih karena masih harus dikurangi biaya bibit, pengolahan lahan, pupuk, tenaga kerja, panen dan biaya produksi lainnya. Namun, hasil tersebut cukup menarik untuk menunjukkan bahwa ubi jalar dapat menjadi salah satu pilihan dalam diversifikasi usaha tani.
Tak Banyak Pupuk
Yang menarik, hasil tersebut diperoleh tanpa penggunaan pupuk kimia dalam jumlah besar.

Untuk lahan sekitar 3.000 meter persegi, Edi menggunakan sekitar 50 kilogram NPK Phonska. Pengalaman tersebut menjadi salah satu catatan menarik dalam budidaya ubi jalar di tingkat petani.
“Pupuknya tidak terlalu banyak. Untuk lahan sekitar 3.000 meter persegi, saya menggunakan sekitar 50 kilogram NPK Phonska,” ungkapnya.
Praktik Edi menunjukkan bahwa pemupukan tidak selalu identik dengan penggunaan pupuk dalam jumlah besar. Efisiensi menjadi penting agar biaya produksi tetap terkendali.
Namun, pengalaman tersebut tidak berarti dosis yang sama dapat diterapkan pada seluruh lahan. Kebutuhan pupuk sangat dipengaruhi kondisi kesuburan tanah, varietas, bahan tanam, lingkungan dan target produksi.
Dalam budidaya ubi jalar, keseimbangan unsur nitrogen, fosfor dan kalium perlu diperhatikan. Nitrogen berperan dalam pertumbuhan awal tanaman, sementara fosfor dan terutama kalium berkaitan dengan perkembangan akar, pembentukan serta pengisian umbi.
Karena itu, pengalaman Edi lebih tepat dijadikan contoh praktik spesifik lokasi yang dapat diamati dan dievaluasi, bukan sebagai dosis baku bagi semua petani.
Strategi Pola Tanam
Bagi petani Gunungwungkal, ubi jalar juga menarik karena dapat ditempatkan dalam pola tanam yang menyesuaikan kondisi air.
Di wilayah tersebut, petani menerapkan sejumlah pola tanam, seperti padi-kacang tanah-ubi jalar, padi-padi-ubi jalar maupun padi-jagung-ubi jalar.
Sementara Edi memilih pola yang lebih beragam, yakni padi-jagung manis-ubi jalar-semangka.

“Setelah ubi jalar selesai dipanen, rencananya lahan ini akan ditanami semangka,” katanya.
Pergiliran tersebut membuat satu lahan dapat dimanfaatkan untuk beberapa komoditas dalam satu rangkaian musim. Setiap tanaman memiliki kebutuhan air, hara, tenaga kerja dan risiko pasar yang berbeda.
Pola seperti ini juga dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas.
Namun, diversifikasi tidak otomatis menjamin keuntungan. Perhitungan biaya produksi, kebutuhan tenaga kerja, ketersediaan air, umur panen dan kepastian pasar tetap menjadi faktor penting sebelum petani menentukan tanaman berikutnya.
Jadi Pembelajaran
Bagi penyuluh pertanian, panen ubi jalar di lahan Edi tidak berhenti pada hitungan enam ton.
Produktivitas sekitar 20 ton per hektare tersebut dapat menjadi data lapangan untuk dievaluasi bersama. Mulai dari bahan tanam, penggunaan pupuk, umur panen, kondisi tanaman, ukuran umbi, biaya produksi hingga harga jual.
Pendekatan tersebut penting agar petani dapat mengetahui bukan hanya berapa banyak produksi yang diperoleh, tetapi juga berapa keuntungan bersih yang sebenarnya diterima.
Hasil panen juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani lain melalui anjangsana, diskusi kelompok tani maupun temu lapang.
Petani dapat melihat langsung kondisi tanaman, bentuk umbi, hasil panen serta cara pengelolaan yang dilakukan Edi. Dari sana, pengalaman tersebut dapat dibandingkan dengan kondisi lahan masing-masing.
Dengan demikian, penyuluhan tidak hanya menyampaikan teori, tetapi membawa pengalaman lapangan menjadi bahan diskusi bersama.
Alternatif Saat Air Terbatas
Ubi jalar juga mempunyai peluang untuk ditempatkan sebagai tanaman alternatif pada lahan yang tidak memperoleh pasokan air sepanjang musim.
Tanaman ini tetap membutuhkan air, terutama pada fase awal pertumbuhan dan pembentukan umbi. Namun, karakter kebutuhan airnya dapat menjadi pertimbangan ketika petani menyusun pola tanam setelah padi.
Kondisi tersebut membuat pemilihan komoditas menjadi semakin penting, terutama ketika pola musim dan ketersediaan air sulit diprediksi.
Petani dapat menyesuaikan tanaman dengan kondisi lahan. Saat air mencukupi, padi dapat menjadi pilihan. Ketika ketersediaan air mulai terbatas, palawija seperti kacang tanah, jagung atau ubi jalar dapat dipertimbangkan sesuai karakter lahan dan peluang pasar.
Peluang ubi jalar juga tidak berhenti pada penjualan umbi segar.
Jika produksi berkembang dan pasar mendukung, komoditas tersebut dapat diarahkan menjadi berbagai produk olahan. Namun, hilirisasi tentu membutuhkan perhitungan lebih lanjut, mulai dari pasar, teknologi pengolahan, kemasan, kontinuitas bahan baku hingga kelayakan usaha.
Penanganan pascapanen pun menjadi bagian penting.
Umbi perlu dipanen secara hati-hati agar tidak banyak mengalami luka atau memar. Setelah itu, dilakukan sortasi berdasarkan ukuran, bentuk dan kondisi fisik sehingga produk yang dipasarkan lebih seragam.
Bagi petani, kualitas hasil panen menjadi sama pentingnya dengan jumlah produksi. Umbi yang bersih, utuh dan sesuai permintaan pasar berpeluang memiliki nilai jual lebih baik.
Pengalaman Edi memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit.
Pemilihan varietas, efisiensi penggunaan pupuk, pengaturan pola tanam, pengamatan tanaman dan penentuan waktu panen merupakan bagian dari inovasi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat petani.
“Yang penting hasilnya bisa dihitung dan dibandingkan. Dari situ kita bisa tahu tanaman mana yang lebih menguntungkan untuk dikembangkan,” demikian pembelajaran yang dapat ditarik dari praktik usaha tani Edi.
Ke depan, hasil ubi jalar tersebut dapat dibandingkan dengan tanaman berikutnya, yakni semangka. Perbandingan tidak hanya berdasarkan produksi, tetapi juga biaya, kebutuhan tenaga kerja, umur panen, penggunaan air dan harga jual.
Dengan pencatatan sederhana, petani memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan komoditas pada musim berikutnya.
Pada akhirnya, panen sekitar 6 ton ubi jalar dari lahan 3.000 meter persegi bukan sekadar cerita tentang banyaknya umbi yang berhasil dipanen.
Dari lahan Edi, ada pelajaran bahwa setiap komoditas memiliki peluang apabila dipilih sesuai kondisi lahan, dikelola secara efisien dan didukung pasar yang memadai.
Ubi jalar Mantang mungkin bukan satu-satunya pilihan bagi petani Gunungwungkal. Namun, pengalaman Edi menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini dianggap sederhana pun dapat menjadi bagian dari strategi usaha tani yang layak untuk terus diuji, dicatat dan dikembangkan.