Sunday, 08 November 2026


Dituntut Naik Kelas, PPL Bukan Lagi Hanya Penyampai Teknologi

05 Oct 2026, 12:40 WIB

Seminar Nasional “Transformasi Penyuluhan Berbasis Inovasi, Digitalisasi dan Sinergitas Stakeholders untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Swasembada Pangan”. yang digelar Polbangtan Medan bekerja sama dengan Asosiasi Prodi Penyuluhan, Komunikasi Pembanguna

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan ---  Tantangan pembangunan pertanian yang semakin kompleks menuntut perubahan besar dalam pola penyuluhan. Di tengah ancaman perubahan iklim, perkembangan teknologi digital, dinamika pasar, keterbatasan sumber daya hingga kebutuhan regenerasi petani, penyuluh pertanian dituntut tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi dan teknologi.

Penyuluh harus mampu tampil sebagai komunikator, fasilitator, motivator sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat tani.

Hal tersebut disampaikan Direktur Polbangtan Medan, Dr. Nurliana Harahap, SP, M.Si., dalam Seminar Nasional yang digelar Polbangtan Medan bekerja sama dengan Asosiasi Prodi Penyuluhan, Komunikasi Pembangunan, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (APP-KPPMI) di Aula Polbangtan Medan, Kamis (1/10).

Seminar nasional tersebut mengangkat tema “Transformasi Penyuluhan Berbasis Inovasi, Digitalisasi dan Sinergitas Stakeholders untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Swasembada Pangan”.

Menurut Nurliana, pembangunan pertanian saat ini tidak dapat lagi dilakukan dengan pendekatan lama. Berbagai persoalan yang muncul di lapangan membutuhkan penyuluhan yang lebih adaptif, inovatif dan mampu menjawab kebutuhan petani secara nyata.

“Penyuluh merupakan garda terdepan pembangunan pertanian karena berhadapan langsung dengan petani dan masyarakat. Penyuluh menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah, ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan,” ujarnya.

Ia mengatakan, perubahan lingkungan pembangunan pertanian juga harus diikuti dengan transformasi peran penyuluh.

Penyuluh, lanjutnya, perlu memahami karakteristik dan kebutuhan masyarakat, membantu memecahkan persoalan usaha tani, mendorong petani mengadopsi inovasi, memperkuat kelembagaan petani hingga membangun jejaring usaha.

“Penyuluh tidak lagi cukup hanya berperan sebagai penyampai informasi dan teknologi. Penyuluh harus mampu menjadi komunikator, fasilitator, motivator, pendamping sekaligus penggerak perubahan,” tegas Nurliana.

Dorong Penyuluhan Berbasis Digital

Transformasi tersebut menjadi semakin penting seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Digitalisasi membuka ruang yang lebih luas bagi penyuluh untuk mempercepat penyebaran informasi, mempertemukan petani dengan berbagai sumber pengetahuan serta memperluas akses terhadap inovasi.

Karena itu, kemampuan penyuluh dalam memanfaatkan teknologi digital dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat pembangunan pertanian berkelanjutan.

Seminar nasional tersebut menghadirkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dr. Idha Widi Arsanti, SP, MP., sebagai keynote speaker.

Idha berharap seminar tidak berhenti sebagai forum diskusi akademik, tetapi mampu melahirkan gagasan dan terobosan yang dapat diterapkan dalam pembangunan pertanian.

“Kami berharap seminar ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi akademik, tetapi dapat menghasilkan gagasan, inovasi, model, rekomendasi dan jejaring kolaborasi,” katanya.

Menurutnya, swasembada pangan harus dipertahankan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Bersamaan dengan itu, tata kelola penyuluhan juga perlu terus diperkuat agar semakin mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian.

“Pada intinya, swasembada pangan harus dipertahankan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Kemudian tata kelola penyuluhan harus lebih baik, begitu juga kemampuan penyuluh dalam mengadopsi inovasi di era digitalisasi,” ujarnya.

Hadirkan Akademisi dan Praktisi Pertanian

Seminar nasional ini juga menghadirkan sejumlah akademisi, pakar pertanian, peneliti dan praktisi untuk membahas berbagai persoalan strategis pembangunan pertanian.

Guru Besar sekaligus Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof. Subejo, SP, MSc, Ph.D., memaparkan materi mengenai “Isu Strategis Pembangunan Pertanian, Kelembagaan Penyuluh serta Pemanfaatan TIK dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan”.

Sementara itu, dari Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Dr. Ir. Siti Amanah, MSc., membahas “Transformasi Penyuluhan Pertanian untuk Memperkuat Sistem Pertanian Pangan Berkelanjutan di Ketidakpastian Global”.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Ir. Agung Wibowo, SP, M.Si., mengangkat tema “Sinergi Akademisi, Pengusaha, Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan dalam Pembangunan Pertanian dan Masyarakat Pedesaan”.

Seminar juga menghadirkan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharma Putro, S.Kom, M.A.P., serta Ketua Asosiasi Prodi Penyuluhan, Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (APP-KPPMI), Dr. Ir. Hery Bachrizal Tanjung, M.Si.

Dari kalangan praktisi, hadir Peneliti Utama Kopi dan Kakao, Dr. Ir. Surip Mawardi, SU., yang membawakan materi “Kontribusi Praktisi dan Pengusaha dalam Pengembangan Kopi di Sumatera Utara”.

Beragam materi yang disampaikan menunjukkan bahwa pembangunan pertanian tidak hanya membutuhkan inovasi teknologi, tetapi juga penguatan sumber daya manusia, kelembagaan, komunikasi, pemberdayaan masyarakat dan jejaring usaha.

Dari Digitalisasi hingga Pemberdayaan Masyarakat

Seminar tersebut juga menjadi ruang bertemunya berbagai pemikiran dan kajian yang berkaitan langsung dengan masa depan penyuluhan dan pembangunan pertanian.

Sejumlah topik yang dibahas antara lain budi daya pertanian, digitalisasi pertanian, komunikasi pembangunan, pertanian berkelanjutan, manajemen inovasi pembangunan pertanian, pascapanen dan pengolahan hasil pertanian, pemberdayaan masyarakat, penyuluhan pembangunan pertanian berkelanjutan serta sosial ekonomi pertanian.

Berbagai kajian tersebut disampaikan para dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam APP-KPPMI.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa transformasi penyuluhan tidak bisa dilakukan oleh penyuluh seorang diri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi profesi, peneliti, praktisi dan masyarakat petani.

Dengan kolaborasi tersebut, penyuluhan diharapkan tidak hanya menjadi saluran penyampaian program pemerintah, tetapi mampu berkembang menjadi kekuatan yang mendorong petani lebih inovatif, adaptif dan berdaya saing.

Seminar nasional ini turut dihadiri perwakilan Gubernur Sumatera Utara, yakni Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Ketua Perhiptani Sumatera Utara yang juga Anggota DPRD Sumatera Utara Komisi B, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara, Kepala BRIN, perwakilan perguruan tinggi termasuk ITSI, para penyuluh pertanian se-Sumatera Utara serta mahasiswa Polbangtan Medan.

Forum tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama bahwa masa depan pembangunan pertanian membutuhkan penyuluh yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu berkomunikasi, membangun jejaring, membaca perubahan dan menggerakkan petani menuju pertanian yang produktif, berkelanjutan dan berdaya saing.

Reporter : Istansu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018