Thursday, 22 October 2026


Bukan Cuma Dijadikan Objek! Anak Muda Apresiasi Mentan Amran Beri Bantuan Terjun ke Pertanian

21 Oct 2026, 17:35 WIBEditor : Gesha

Anak muda mengapresiasi Kementan di bawah Mentan Amran yang memberi bantuan dan pendampingan nyata agar generasi muda berani terjun langsung ke pertanian.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Anak muda mengapresiasi Kementan di bawah Mentan Amran yang memberi bantuan dan pendampingan nyata agar generasi muda berani terjun langsung ke pertanian.

Keterlibatan anak muda dalam pembangunan pertanian tidak cukup hanya menjadi agenda atau slogan pemerintah. 

Generasi muda perlu diberi kesempatan untuk terjun langsung, mengelola usaha tani, sekaligus merasakan dampak nyata kebijakan terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Pandangan tersebut disampaikan Aulia Furqon, Kepala Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kabid LHK PP KAMMI), yang juga terlibat dalam Brigade Pangan KAMMI Bersambut di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Aulia mengapresiasi langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mendorong keterlibatan generasi muda di sektor pertanian.

"Banyak kementerian yang hanya menjadikan anak muda sebagai agenda jualan, hanya sebagai komoditas, bukan sesuatu yang benar-benar berkomitmen untuk diberdayakan. Alhamdulillah, hingga hari ini Kementerian Pertanian bisa memberdayakan anak-anak muda secara maksimal,” ujar Aulia Furqon.

Menurut dia, selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terdapat tiga hal yang menjadi catatan positif bagi kalangan muda, yakni peningkatan harga gabah, penurunan harga pupuk bersubsidi, serta keadilan antar Generasi dalam bentuk pemberdayaan anak muda agar terlibat langsung dalam kegiatan pertanian.

Bagi Aulia, kebijakan yang berpihak kepada generasi muda harus diwujudkan melalui kesempatan untuk bekerja, belajar, dan membangun usaha pertanian secara langsung.

Anak muda tidak cukup hanya dilibatkan sebagai pelengkap program atau objek sosialisasi.

Ia menilai pendekatan Kementerian Pertanian yang mendorong mahasiswa dan pemuda terjun ke lapangan memberikan pengalaman penting.

Melalui keterlibatan tersebut, mereka dapat memahami persoalan ketersediaan benih, pupuk, biaya produksi, mekanisasi, hingga posisi tawar petani.

Brigade Pangan

Pengalaman itu dirasakan Aulia bersama Brigade Pangan KAMMI Bersambut di Desa Gayung Bersambut, Kabupaten Sambas. Kelompok tersebut terdiri atas 15 anak muda dengan latar belakang beragam. 

Tujuh orang di antaranya merupakan anak petani yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan anggota lainnya termasuk kader KAMMI yang merupakan lulusan Universitas Tanjungpura.

Kelompok ini mulai menjalankan kegiatan pertanian pada Oktober 2025.

Pada tahap awal, mereka menggarap delapan hektare lahan secara mandiri, meskipun bantuan pemerintah berupa benih dan sarana produksi belum tersedia.

Dengan mengandalkan benih dan pengolahan sendiri, hasil panen perdana mereka mencapai sekitar 2,5 ton per hektare.

Capaian tersebut menjadi pengalaman awal bagi anggota Brigade Pangan untuk memahami tantangan produksi sekaligus mengevaluasi praktik budidaya yang mereka jalankan.

Aulia menuturkan, kelompoknya kemudian menyampaikan hasil pertanian kepada Menteri Pertanian pada awal Ramadan sekaligus menjelaskan kondisi yang mereka hadapi di lapangan.

Menurut dia, sekitar tiga pekan setelah pertemuan tersebut, bantuan berupa alat pertanian dan benih mulai diterima.

Dukungan itu kemudian dimanfaatkan untuk memperluas kegiatan pada musim tanam kedua hingga sekitar 41 hektare.

Dalam kegiatan tersebut, Brigade Pangan KAMMI Bersambut memperoleh benih padi Inpari 32 sekitar 7,5 ton.

Bantuan ini menjadi salah satu modal untuk meningkatkan skala usaha sekaligus memperbaiki pelaksanaan budidaya.

Pengalaman tersebut, kata Aulia, menunjukkan pentingnya dukungan pemerintah yang disertai keterlibatan langsung anak muda. Namun, ia berharap penyaluran bantuan tetap diikuti evaluasi terhadap kebutuhan dan kondisi nyata kelompok penerima.

“Harapannya, poin-poin seperti ini bisa terus dikolaborasikan dan diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Jasa Alsintan

Selain budidaya padi, Brigade Pangan KAMMI Bersambut juga berupaya mengembangkan potensi ekonomi melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Mereka bekerja sama dengan unit pelayanan jasa alsintan di Sambas untuk mendukung pengolahan lahan dan kegiatan panen.

Menurut Aulia, mekanisasi membantu menekan biaya usaha tani. Ia mencontohkan biaya pengolahan lahan yang sebelumnya mencapai sekitar Rp1,5 juta per hektare kini dapat turun menjadi Rp900 ribu setelah penggunaan traktor semakin meluas.

Biaya jasa combine harvester juga mengalami penurunan.

Jika sebelumnya mencapai sekitar Rp1,1 juta per hektare, tarif yang mereka temui kini sekitar Rp700 ribu per hektare.

Meski demikian, ia menilai bantuan mekanisasi perlu mempertimbangkan kualitas dan efisiensi alat yang diberikan.

Pemilihan mesin yang tepat penting agar petani tidak terbebani biaya operasional, termasuk konsumsi bahan bakar.

Butuh Pendampingan

Aulia juga mengakui bahwa sebagian besar anggota kelompoknya tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian.

Karena itu, pendampingan penyuluh dan pelatihan teknis menjadi bagian penting dalam mengembangkan kemampuan mereka mengelola usaha tani.

Dari pengalaman tersebut, ia menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam pertanian tidak bisa berhenti pada pemberian bantuan.

Pemerintah perlu membuka ruang pembelajaran, memperkuat pendampingan, serta membantu generasi muda mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Sebagai mahasiswa dan bagian dari organisasi kepemudaan, Aulia mengatakan pihaknya tetap memiliki tanggung jawab untuk menjalankan fungsi kontrol sosial.

Apresiasi terhadap kebijakan pemerintah, menurutnya, tidak menghilangkan kewajiban untuk menyampaikan kritik apabila menemukan persoalan di lapangan.

Ia berharap pendekatan pemberdayaan seperti yang dirasakan Brigade Pangan KAMMI Bersambut dapat diperluas.

Dengan dukungan yang tepat, generasi muda tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga pelaku yang ikut membangun kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Anak muda jangan hanya dijadikan komoditas, tetapi diberdayakan,” tegas Aulia.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018