Kamis, 23 Mei 2019


Penyuluh Promosikan Diri, Biar Anak SD Kenal dan Mau Jadi PPL

09 Apr 2019, 17:14 WIBEditor : Gesha

Penyuluh melakukan promosi kepada anak-anak SD untuk mengenal lebih dekat profesi PPL | Sumber Foto:Abigael

Profesi PPL begitu asing di telinga anak-anak SD di Pedalaman Ratte, Kecamatan Masanda, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Walau notabene profesi ini sangat dekat dengan keseharian orang tua mereka sebagai petani,pekebun, peternak

 

TABLOIDSINARTANI.COM,Tana Toraja --- Jika ditanya cita-citanya mau jadi apa, pada umumnya anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD) menjawab dokter, guru, polisi, tentara, perawat, dan beberapa profesi lain yang mereka ketahui. Tapi, tak banyak yang tahu soal profesi penyuluh pertanian Lapang (PPL).

“Profesi PPL begitu asing di telinga anak-anak SD di Pedalaman Ratte, Kecamatan Masanda, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Walau notabene profesi ini sangat dekat dengan keseharian orang tua mereka sebagai petani,pekebunpeternak,” ungkap Penyuluh Pertanian Kecamatan Wonomulyo, Abigael Lomo.

Alasan tersebut membuat wanita yang akrab disapa Abby ini berinisiatif mengikuti Kelas Inspirasi sebagai "Relawan" untuk memperkenalkan profesi Penyuluh Pertanian Lapang di SDN 179 Ratte.

Selain memperkenalkan, saya juga mengarahkan mereka bagaimana cara memperoleh pekerjaan tersebut. Tentunya mereka harus tamat SD terlebih dahulu, kemudian mereka melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun,” terangnya.

Setamat dari SMP, mereka melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pembangunan Pertanian yang ada di Makale, atau masuk SMA jurusan IPA.

Selanjutnya mereka berkuliah di Politeknik Pembangunan Pertanian Negeri yang berada di Gowa. Setelah tamat dan mendapat gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST) lalu daftar CPNS, kalau lulus jadi deh PPL.

Selain kegiatan tersebut, Abby juga mengajarkan metamorfosis penggerek batang padi di kelas III. Mulai dari telur-larva-pupa hingga imago.

Di akhir pembelajaran, kami membuat origami kupu-kupu dan di tempel didinding. Tujuan dari membuat kupu-kupu dari kertas origami ini, agar mereka dapat mengingat pelajaran yang terkandung dalam hastakarya tersebut yaitu metamorfosis Penggerek batang padi,” jelasnya.

Pada pelajar kelas VIdiajarkan morfologi dan peran burung hantu tytoalba sebagai predator (musuh alami) dari hama tikus. Hama tikus sering merusak pertanaman padi mulai dari persemaian hingga panen.

Dengan mengandalkan Tytoalba, dapat menekan populasi hama tikus dan mengurangi pemakaian rodentisida. Setelah menerangkan, di lanjutkan membuat hastakarya burung hantu lalu hasilnya di tempel lagi di dinding,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia.

Para profesional ini disebut dengan relawan pengajar yang diharuskan untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD pada hari Inspirasi. Kemudian para relawan pengajar berbagi cerita dan pengalaman kerja serta memotivasi para siswa untuk meraih cita-cita mereka.

Reporter : Tia/Abigael Lomo
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018