
Dengan vokasi, penerapan kompetensi pertanian bisa menghasilkan SDM yang mumpuni
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Buat masyarakat awam, sekolah di pertanian prospek kerjanya bikin bingung karena dianggapnya hanya macul tanah saja. Eits.. jangan salah ! Lulusan pertanian sekarang gak cuma ijazah saja, tapi juga skill pertanian yang mumpuni dan bisa diadu.
Setiap tahunnya Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian meluluskan alumni Polbangtan sebanyak 500 orang dan SMKPP 200 orang.
Jumlah tersebut hanya berasal dari dunia pendidikan lingkup Kementerian Pertanian (Kementan) saja, belum termasuk Universitas atau Pendidikan Tinggi yang memiliki jurusan Pertanian lainnya di Indonesia.
Seringkali lulusan mereka tidak terserap oleh dunia usaha maupun dunia industri lantaran tidak memiliki kompetensi yang diinginkan oleh mereka.
"Dengan adanya peta okupasi ini, kita bisa link n match dengan dunia usaha dan dunia industri. Mereka bisa melihat peta tersebut. Bagi SMKPP maupun sekolah vokasi, bisa menyusun kurikulum sesuai dengan yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri," tutur Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Prihasto Setyanto dalam Launching Peta Okupasi Sektor Pertanian di Jakarta, Jumat (26/4).
Nantinya bagi dunia pendidikan bisa memberikan sertifikasi khusus sesuai minat dan bakat bagi peserta didiknya selain ijazah.
"Khususnya bagi perguruan tinggi ke depannya selain mendapatkan ijazah, lulusannya bisa mendapatkan sertifikasi kompetensi khusus yang bisa menjadi nilai plus bagi lulusan mereka," tuturnya.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti menuturkan pihaknya akan memulai dari SMKPP dan Polbangtan untuk penerapan Peta Okupasi tersebut.
"Mereka bisa tahu, saya ini mau jadi apa. Begitu masuk program studi tertentu, itu punya keahlian apa. Saya juga bisa mendapatkan kompetensi apa saja. Yang tentunya berguna bagi mereka di dunia usaha maupun dunia industri," tuturnya.
Sehingga, pemegang sertifikasi (lulusan) bisa diakui kompetensinya oleh dunia usaha dan dunia industri. Dan lulusan tersebut bisa diserap oleh pasar kerja di dalam negeri dengan internasional.
Bagi yang ingin terjun menjadi pelaku usaha, bisa mendorongnya untuk meningkatkan daya saing sehingga mampu membaca peluang yang lebih prospektif.
Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir Institut Pertanian Bogor, Alim Setiawan Slamet menuturkan pihaknya menyambut baik peta okupansi sektor pertanian yang memang selama ini diharapkan kehadirannya bagi dunia pendidikan pertanian seperti IPB.
"Kita mempunyai gambaran dengan arah sama untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya berbekal ijazah dan transkrip saja. Lulusan kami ada surat pendamping ijazah yang didalammnya berisi sertifikasi kompetensi atau keahlian yang dibutuhkan lulusan," tuturnya.
Lebih lanjut Alim mengatakan IPB tengah mengembangkan kurikulum 2020 dengan merombak tujuan pendidikan di IPB sekarang tidak hanya berupa transfer knowledge tetapi juga building skill set. "Inilah yang relevan dengan pengembangan okupasi yang diinginkan dunia usaha dan dunia industri," tuturnya.
Hingga sekarang, penerapan dan pengembangan kompetensi mahasiswa sudah dilakukan pada Sekolah Vokasi IPB dimana lulusannya sudah harus memiliki sertifikasi kompetensi tertentu.
"Kalau S1 memang belum diwajibkan memiliki sertifikasi kompetensi tertentu yang linier dengan jurusannya. Tapi memang akan diarahkan kesana (sertifikasi kompetensi wajib) secara bertahap. Sehingga outputnya lulusan kita tidak hanya punya ijazah dan transkrip tapi juga sertfikasi kompetensi mereka," urai Alim.