Kamis, 27 Juni 2019


Sosok Penyuluh pada Era Industri 4.0

30 Mei 2019, 18:52 WIBEditor : Ahmad Soim

Prof Sumardjo Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor | Sumber Foto:Ahmad Soim

Lembaga penyuluhan partisipatif sangat dibutuhkan untuk fungsi edukasi dan memperkuat kesiapan petani untuk makin adaptif terhadap perubahan lingkungan strateginya, dalam hal ini era industri 4.0.industri

TABLOIDSINARTANI.COM - Prof Sumardjo, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan tuntutan pada era Revolusi Industri (RI) 4.0 pada saat ini adalah kecepatan dan kreatifitas, digitalisasi, bioteknologi, dan efektivitas proses. Semua itu menurutnya dalam Forum Diskusi “Peduli Nasib Petani pada Era Industri 4.0” yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, menjadi kunci bagi revolusi pertanian di era industry 4.0.

Praktek budidaya dan agroindustri di bidang pertanian pada era Industri 4.0 yang kini sedang dikembangkan di banyak negara maju, jelas Prof Sumardjo adalah  “pertanian cerdas” (smart farming atau precision agriculture). Tujuan utama penerapan terknologi ini adalah untuk melakukan optimasi peningkatan hasil (kualitas dan kuantitas) dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada.

Revolusi industri 4.0 dalam sektor agrikultur ternyata lebih dominan terjadi di Eropa. Hal ini disebabkan oleh adanya bencana demografi, yaitu keadaan dimana jumlah penduduk yang berusia produktif lebih sedikit dibanding penduduk yang berusia non-produktif sehingga tenaga penduduk harus digantikan dengan teknologi.

Di Indonesia, revolusi industri 4.0 terutama di sektor pertanian belum begitu berhasil berkembang. Beberapa hal yang menjadi penyebab revolusi industri 4.0 belum berhasil diterapkan di Indonesia: (1) Ketidaksiapan aspek Sumberdaya Manusia, (2) Ketidak merataan Kondisi Lahan Pertanian di Indonesia, dan (3) kelemahan akses dan penguasaan teknologi.

Sebagian besar petani di Indonesia berusia lebih dari 40 tahun dan lebih dari 70 persen di antaranya berpendidikan setara SD dan yang tidak tamat. Rendahnya pendidikan formal tersebut menyebabkan wawasan agribisnis dan pengetahuan tentang teknologi pertanian tidak berkembang serta monoton. Petani kurang menerapkan inovasi-inovasi terbaru untuk peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pangan/ pertaniannya.

Kondisi lahan pertanian di Indonesia sangat beragam. Petani belum sepenuhnya mengakses dan mengadopsi teknologi modern, yang lebih adaptif untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk petanian. Proses alih teknologi adaptif belum meluas, sebagian bahkan masih tradisional.  Keterbatasan biaya dan keterbatasan pengetahuan masih menjadi kendala laju penerapan teknologi maju sektor pertanian secara meluas.

Dalam kondisi seperti itu, sangat dibutuhkan peran-peran pemerintah, dunia bisnis, akademisi, tokoh intelektual  masyarakat untuk memberikan edukasi bagi para petani agar dapat memajukan sektor pertanian di era revolusi industri 4.0 ini.

Lembaga penyuluhan partisipatif sangat dibutuhkan untuk fungsi edukasi dan memperkuat kesiapan petani untuk makin adaptif terhadap perubahan lingkungan strateginya, dalam hal ini era revolusi 4.0. Kesiapan petani baik dalam menjawab kebutuhan produk pertanian, maupun mengadopsi teknologi tepat guna yang adaptif terhadap kondisi kekinian dan antisipasi ke depan secara bijak dengan tetap melihat dampaknya dari berbagai sisi. Harus dihindari penguasaan teknologi hanya oleh segelintir orang atau merusak ekosistem yang ada tanpa mempedulikan keseimbangan lingkungan fisik maupun sosialnya.

Para era industri 4.0, Penyuluh Pertanian (PPL) harus dapat ikut mempermudah dan mensinergikan  interaksi hulu dan hilir dalam sistem agribisnis/agroindustri, sejalan dengan upaya pembenahan sektor pertanian yang harus dilakukan pmerintah dan stakeholder terkait. Lebih dari itu petani harus dikondisikan oleh PPL menjadi mandiri, siap untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan strategisnya, yakni era Industri 4,0. 

Reporter : Som
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018