Sabtu, 24 Agustus 2019


Kapusluhtan : Ayo Penyuluh Bersatu Padu, Jadikan Satu Kekuatan Dongkrak Petani

18 Jul 2019, 09:29 WIBEditor : Gesha

Penyuluh diharapka bisa bersatu padu di lapangan agar memperkuat petani | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta --- Koordinasi dan kolaborasi antar penyuluh di lapangan sangat diharapkan berbagai pihak, terutama untuk mendongkrak SDM Pertanian yang berdaya saing dan kesejahteraan petani.

Guna memajukan sektor pertanian, penyuluh memiliki peranan penting. Karena mereka sebagai jembatan antara aktivitas petani dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang sekaligus yang dibutuhkan oleh petani. Kegiatan penyuluhan juga menjadi pendidikan non formal yang selayaknya dilakukan secara terus-menerus.

Dalam UU No.16/2006, juga telah diamanatkan bahwa kegiatan penyuluhan dilakukan oleh penyuluh yang terdiri dari penyuluh pemerintah (PNS, THLTBPP dan PPPK), swadaya dan swasta. Tiga kesatuan ini saling mengenal tugas dan fungsi dengan perspektif berbeda.

Seperti penyuluh pemerintah yang mempunyai tugas direktif dari pemerintah untuk membangun kapasitas petani dari sisi pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya.  Sedangkan, Penyuluh swadaya dan penyuluh swasta lebih kepada keuntungan usaha maupun perusahaan.

"Tetapi semuanya (penyuluh) mempunyai tujuan agar masyarakat petani dan pelaku usaha meningkat kapasitas dan kesejahteraannya. Karenanya, mereka harus bersatu padu, jangan menjadi kompetitor satu dengan lainnya. Justru harus menjadi satu kekuatan di lapangan," tutur Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Siti Munifah kepada tabloidsinartani.com.

Lebih lanjut Munifah menuturkan masing-masing penyuluh tersebut memiliki keunggulan dan daya cakupannya masing-masing. Namun jika bersatu, kekuatan penyuluhan bisa menjadi lebih kuat. 

"Saya lihat banyak penyuluh swadaya yang sukses, penyuluh swasta juga sudah banyak yang berhasil membawa kelompok taninya. Tapi gaung mereka jarang terdengar, terekspose. Di sisi lain penyuluh pemerintah juga membawa misi direktif yang memang sudah seharusnya sinkron dan menjadi kuat," tuturnya.

Lantas bagaimana cara kongkrit kerjasamanya? Munifah menuturkan bisa membuka diri dengan adanya Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di tingkat kecamatan. Dimana bisa menjadi wadah mereka berdiskusi, membuat demplot, mengumpulkan poktan, dan menjadi wadah untuk belajar bersama. "Bangun kemitraan juga disitu, pusat konsultasi agribisnis juga disitu," tambahnya.

Nah, di desa juga ada Pos Penyuluhan Perdesaan (Posluhdes) yang bisa diberdayakan dan diperankan betul oleh penyuluh dan petani. Posluhdes menjadi bentuk pelayanan peningkatan kemampuan masyarakat secara informal. 

Munifah menyebut contoh Jaringan Komunikasi Penyuluhan Perdesaan (Jarkomluhdes) yang diinisiasi oleh Pemprov Jawa Barat dan bisa ditiru oleh daerah lainnya. "Kami juga meminta dan mendorong Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk memasukkan Posluhdes dalam kelembagaan desa sehingga memudahkan penyuluh maupun petani untuk melakukan kegiatan penyuluhan di desa serta mendapatkan izin dari Kepala Desa," tuturnya.

Upaya dan dorongan agar penyuluh bersatu padu juga diutarakan oleh Executive Director PIS Agro Martini Indrawati. Menurutnya, dalam melakukan penyuluhan, ada tantangan tersendiri bagi penyuluh swasta yaitu memastikan keberlanjutan produk dari petani. Mereka harus menyediakan service sebagai hub pengumpulan produk petani, sediakan sarpras pertanian, termasuk penyediaan informasi. 

Karena itu, kerjasama antar penyuluh di daerah baik swasta, swadaya maupun pemerintah sangatlah diharapkan untuk bisa mengisi rantai pasok yang dihasilkan petani agar bisa terserap pasar maupun perusahaan.

Sehingga petani mendapatkan harga terbaik, pengetahuan dan kapasitas yang meningkat. Sedangkan perusahaan mendapatkan produk bahan baku berkualitas dan berkelanjutan.

Martini menuturkan setiap perusahaan yang bergabung dalam PISAgro mempunyai peran aktif secara langsung karena berkaitan dengan rantau pasok. Salah satunya PT MARS dengan Kakao Doctor yang terdiri dari petani swadaya yang diberikan tambahan kapasitas PT MARS sebagai hub membantu petani penghasil kakao yang ada di Sulawesi.

Dimana ada tenaga teknis lapangan yang disebut Agronomist yang menjadi penyuluh swasta untuk melakukan monitoring dan menjadi sumber informasi untuk petani agar bisa mengembangkan produknya maupun permasalahannya.

Selain penyuluh swasta, perusahaan- perusahaan tersebut juga memiliki petani champion (penyuluh swadaya) yang dijadikan contoh bagi petani lainya. "Petani champion ini kemudian difasilitasi untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUB). Ini sudah memiliki tingkat ekonomi yang bagus. Model-model inilah yang dikembangkan perusahaan untuk membantu petani," tuturnya.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018