Sabtu, 14 Desember 2019


SDM Jadi Faktor Kunci, BPPSDMP Susun KKNI Kelapa Sawit

12 Agu 2019, 20:28 WIBEditor : Yulianto

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi bersama tim perumus KKNI bidang Kelapa Sawit | Sumber Foto:Julian

salah satu bukti SDM yang kompeten adalah sertifikasi yang dikeluarkan lembaga sertifikasi dan pemerintah, baik melalui pendidikan, pelatihan maupun magang

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangsel---Kelapa sawit hingga kini masih menjadi komoditas andalan pendulang devisa negara, bahkan Indonesia merupakan produsen terbesar dunia. Namun, tingginya produksi tersebut bukan karena faktor besarnya produktifitas, tapi lebih kepada luasnya lahan sawit. Untuk meningkatkan produktifitas sawit dan mempertahankan sebagai produsen sawit nomor wahid dunia, maka perbaikan sumberdaya manusia (SDM) menjadi sangat penting.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, salah satu faktor mengapa Indonesia menjadi produsen kelapa sawit nomor satu dunia, tidak lepas karena sawit merupakan  tanaman tropis, sehingga sesuia kondisi negara kita. Karena itu, untuk produksi energi dibandingkan negara lainnya di dunia, khususnya Negara AS, Eropa, China dan negara maju lainya, Indonesia sangat efisien.

Namun Dedi mengakui, tingginya produksi sawit Indonesia tidak ditunjang dari sisi produktifitas tanaman. Saat ini, produktifitas sawit milik rakyat hanya 2-3 ton/hektar (ha), sedangkan miliki perusahaan produktifitasnya sebesar 7-8 ton/ha. Artinya, rata-rata produktifitas sawit di Indonesia hanya 5 ton/ha. Sementara dari sisi kepemilikan, luas lahan milik rakyat hampir 45 persen dari total nasional dan perusahaan 55 persen.

“Produktifitas sawit Indonesia jauh lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 10 ton/ha. Padahal sebelumnya negara itu justru belajar sawit ke Indonesia,” kata Dedi saat Konsensus Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Serpong, Tangerang Selatan, Senin (12/8).

Menurut Dedi, salah satu faktornya adalah karena pelaku usaha di Malaysia dari hulu ke hilir lebih handal dan profesional. Karena itu, untuk mempertahankan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia pengungkitnya adalah sumberdaya manusia. “Mau tidak mau, harus digenjot SDM menjadi handal, professional, kompeten, berdaya saing dan berjiwa entrepreneur agar bisa menghasilkan sawit sampai 10 ton/ha,” tegasnya.

Dalam menghadapi persaingan, Dedi melihat, ke depan kita tidak bisa hanya menandalkan keunggulan geografis sebagai negara tropis untuk bisa meningkatkan produksi sawit. Sebab, jika hanya itu (keunggulan geografis, red), maka tinggal tunggu waktu,  produksi sawit kita akan kesusul negara lain yang SDM-nya dari hulu hingga hilir lebih unggul.

“Jika kita memiliki praktisi sawit yang kompeten, handal dan professional, berdaya saing dan berjiwa entrepreneur, maka kita akan mudah membangun infrastruktur, kita juga akn mudah melakukan inovasi teknologi sawit. Karena itu dalam lima tahun ke depan, kita focus membangun SDM, termasuk pelaku usaha sawit,” katanya.

Susun KKNI Kelapa Sawit

Menurut Dedi, salah satu bukti SDM yang kompeten adalah sertifikasi yang dikeluarkan lembaga sertifikasi dan pemerintah, baik melalui pendidikan, pelatihan maupun magang. Namun untuk itu, perlu ada kurikulum dan materi pembelajaran. Kurikulum tersebut berasal dari Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) kelapa sawit berkelanjutan.

KKNI itu nantinya menjadi jembatan pemerintah dengan dunia usaha dan pendidikan/lembaga pelatihan.  “Kalau sudah ada kurikulumnya akan mendorong terbentuknya SDM bidang kelapa sawit yang mampu meningkatkan produktifitas dan menghasilkan produk turunan kelapa sawit, sampai mengekspor,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Bina Standarisasi Kompetensi dan Pelatihan Kerja, Kementerian Tenaga Kerja, Sukiyo mengatakan, semua sektor, termasuk perkebunan memang harus membangun KKNI, karena akan menjamin kualitas SDM yang bekerja.  “Kami harapkan semua sektor memiliki KKNI yang menjadi pegangan bagi pembaga pendidikan dan setifikasi. Dengan KKNI, bargaining position kita akan lebih kuat. KKNI nantinya juga menjadi rujukan ke depan,” ujarnya.

Wakil Komite KADIN bidang Pelatihan, Dasril Rangkuti menyambut positif dengan adanya konsesus KKNI kelapa sawit, karena akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha kelapa sawit dalam membangun usahanya. Sebab, nantinya produk industri sawit merupakan hasil dari SDM yang memiliki sertifikasi.  

“KKNI akan menjadi acuan bagi industri dalam merekrut SDM. Sekarang ini SDM yang direkrut perusahaan sifatnya umum, sehingga kita harus memberikan pelatihan sebelum memulai kerja,” katanya. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018