Sabtu, 19 Oktober 2019


Kementerian Pertanian Perkenalkan Paradigma Baru Penyuluhan dan Karakter PPL 4.0

14 Agu 2019, 16:20 WIBEditor : Ahmad Soim

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan Dedi Nursyamsi | Sumber Foto:Bima

 

TABLOIDSINARTANI.COM – Kementerian Pertanian mengenalkan paradigma baru penyuluhan pertanian saat ini. Melalui enam paradigma baru ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi berharap penyuluh pertanian (PPL) bisa kembali menunjukkan peran besar bagi pembangunan pertanian Indonesia.

 

“Kita gerakkan kembali PPL dalam mensejahterakan petani dan mewujudkan kedaulatan pangan. Para petani kita agar menjadi petani yang mandiri, professional dan berdayasaing,” tambahnya kepada tabloidsinartani.com usai membuka Bimbingan Teknis Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian di Jakarta (14/8).

 

Pada tahun 1984 dan 2015, lanjut Dedi Nursyamsi, PPL punya peran besar dalam mewujudkan swasembada pangan saat itu. “Pada saat itu, penyuluhan digerakkan sedemikian rupa dan ujung tombaknya adalah PPL kita,” tambahnya.

 

Dalam memasuki era industri 4.0, penyuluhan pertanian perlu memiliki paradigma baru. Paradigma baru penyuluhan itu: “Pertama, penanggungjawab penyuluhan pada masa lampau adalah pemerintah pusat. Paradigma baru saat ini, penyuluhan pertanian menjadi tanggungjawab banya pihak pada berbagai level,” tambahnya.

 

Paradigma baru yang kedua adalah fungsi penyuluhan pertanian yang semula pada tranfer teknologi untuk meningkatkan produksi, sekarang fungsi penyuluhan pertanian lebih luas meliputi memobilisasi, mengorganisasikan, dan mendidik petani.

 

Ketiga, paradigma lamanya posisi penyuluhan terpisah dengan instansi lain, paradigma baru posisi penyuluhan koheren dengan  instansi lain.

 

Keempat, pada paradigma lama tranfer teknologi dilakukan linier, sekuensial dan satu arah, paradigma barunya dilakukan lebih realistic, siklis dan dinamis antara PPL, petani dan peneliti.

 

Kelima, disain proyek dilakukan menurut perpektif pengajar, para paradigma baru disain proyeknya model pembelajaran dan melibatkan stakeholder.

 

Keenam, pada paradigma lama pendekatan penyuluhan dilakukan untuk live servis yakni untuk menyampaikan teknologi, sementara paradigma barunya dilakukan dengan mengambil resiko dengan melibatkan teknologi eksperimental, serta mengaitkan penelitian, manajer penyuluhan dan organisasi petani.

 

Karakter yang harus dimiliki para PPL pada era industri 4.0 lanjut Dedi Nursyamsi adalah inovatif dan eksplorer, interaksi dengan media sosial, fleksibel, gadget minded, rasa ingin tahunya tinggi, dan peka terhadap perubahan.

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Som
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018