Minggu, 20 Oktober 2019


Penghargaan untuk Pejuang Pertanian di HUT RI ke-74

16 Agu 2019, 18:02 WIBEditor : Yulianto

Penerima penghargaan saat di gedung DPR RI | Sumber Foto:Humas BPPSDMP

Pemberian penghargaan kepada insan yang berkecimpung di dunia pertanian merupakan bentuk apresiasi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian kepada pelaku pertanian guna meningkatkan kinerjanya dan menjadi contoh teladan bagi yang lainnya

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-74, pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan memberikan penghargaan kepada pejuang-pejuang pertanian. Penghargaan tersebut diberikan pada Sabtu, 17 Agustus 2019 di gedung Kementerian Pertanian.

Pejuang-pejuang pertanian yang menerima penghargaan ada 30 orang/unit yang berasal dari 26 provinsi dengan tujuh kategori. Yakni, Petani Berprestasi 5 orang, Gapoktan Berprestasi 5 unit, Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Berprestasi 5 unit, Penyuluh Pertanian Teladan (PNS/THL-TB PP/Swadaya) 5 orang, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Berprestasi 5 unit, Dosen Berprestasi 5 orang, dan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Berprestasi 2 unit.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Leli Nuryati mengatakan, pemberian penghargaan kepada insan yang berkecimpung di dunia pertanian merupakan bentuk apresiasi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian kepada pelaku pertanian guna meningkatkan kinerjanya dan menjadi contoh teladan bagi yang lainnya.

“Penghargaan yang diberikan kepada para teladan di dunia pertanian Indonesia dapat juga menunjukan bahwa peforma mereka kami apresiasi dalam membangun ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Serta dapat menjadi motivasi bagi yang menerima dan yang lainnya,” katanya saat Silaturahmi dengan Penerima Penghargaan Nasional Tahun 2019 di Jakarta, Kamis (15/8).

Menurut Leli, penerima penghargaan ini merupakan hasil seleksi dari tingkat daerah hingga pusat. Diawali dari kecamatan yang memberikan nama-nama nominasi. Lalu dibawa ke tingkat kabupaten, kemudian diseleksi ke tingkat provinsi. Kemudian provinsi membawa masing-masing calon dari setiap kategori ke pusat (Kementerian Pertanian). “Di Kementan diseleksi kembali dan inilah hasilnya yang terbaik dari yang baik,” ujarnya.

Berbeda dari tahun lalu

Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Siti Munifah mengatakan, penerima penghargaan tahun ini berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 2018 penerima penghargaan berasal dari semua provinsi.

“Setelah kami telaah lagi, kami perkecil agar insan yang berkecimpung di dunia pertanian kinerjanya lebih semangat agar menjadi yang terbaik dalam mewakili daerahnya,” katanya.

Munifah mengakui, pelaku utama dalam pembangunan pertanian adalah petani, kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) dapat dikatakan sebagai pejuang pangan. Sedangkan sebagai menterianya adalah penyuluh pertanian karena mereka membimbing, serta memberikan pengetahuan kepada petani agar mampu menjalankan usaha taninya dengan sebaik mungkin.

“Jadi para penyuluh teladan ini mereka bekerja sesuai dengan visi BPPSDMP, yakni berjiwa profesional, mandiri dan berdaya saing. Selain itu, mereka pun bekerja tulus dan ikhlas dalam mewujudkan pembangunan pertanian di daerah maupun nasional,” kata Munifah.

Munifah mengungkapkan, pemberikan penghargaan juga kepada Kelembagaan Ekonomi Pertanian (KEP) yang dapat berupara korporasi atau koperasi. Dengan penghargaan kepada KEP, menujukkan pemerintah tidak hanya fokus kepada usaha hulu, tapi juga hilir.

“Dengan adanya KEP ini bukan hanya peningkatan produksi saja yang dicapai, melainkan produk yang berdaya saing serta peningkatan ekspor pun dapat terwujud dengan mudah,” ungkap Munifah.

Munifah mengatakan, untuk saat ini peningkatan produksi dapat dijalankan dengan baik. Tapi di sisi lain, kelemahan petani dan penyuluh adalah dalam mengembangkan pasar, termasuk menembus ekspor. “Ini karena mereka kurang memperhatikan ekspor, padahal potensinya cukup baik. Makanya kita terjukan dosen agar petani dan penyuluh pertanian melirik ekspor juga,” katanya.

Adapun pemberian penghargaan kepada Balai Penyuluh Pertanian (BPP), karena lembaga itu merupakan rumahnya penyuluh dan petani di daerah. Karena itu agar dapat mengikuti perkembangan zaman, setiap kabupaten diwajibkan ada BPP Aditama, yakni BPP yang sistem kerjanya tidak manual lagi, tapi  telah memanfaatkan ICT (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan IPTEK.

Sekarang kalau kinerjanya manual akan susah, karena zaman sudah berubah, yakni serba online. Makanya kinerja BPP sekarang harus memanfaatkan ICT dan IPTEK. Begitu juga dengan P4S, tidak hanya melakukan pelatihan di lapangan saja, melainkan pelatihan dengan online juga. Tentu akan lebih banyak tertarik untuk menuntu ilmu di sana,” tutur Munifah.

Reporter : Clara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018