Minggu, 20 Oktober 2019


Empat Variabel Transformasi Penyuluh agar Eksis di Era 4.0

10 Sep 2019, 11:16 WIBEditor : Gesha

Sekjen Kementerian Pertanian, Momon Rusmono menuturkan butuh empat variabel yang dipertajam agar bisa terus eksis | Sumber Foto:PRABU

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Era 4.0 dan perubahan paradigma penyuluhan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembangunan pertanian. Karenanya, penyuluh harus mampu terus bertransformasi. 

"Selama masih ada penyuluhan pasti akan ada perubahan dan akan terjadi terus karena pembangunan pertanian akan berubah. Apalagi dengan munculnya UU Pemerintah Daerah (Pemda), penyuluh jangan sempat drop, jangan baper," tukas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Momon Rusmono dalam Focus Group Disscusion (FGD) Sistem Penyuluhan Pertanian di Era 4.0 di Bogor, Selasa (10/9).

Menurutnya, didalam penyuluhan setidaknya ada 4 variabel yang harus dipertajam yaitu kelembagaan, ketenagaan, pendidikan dan objek penyuluhan.

Dimulai dari Kelembagaan, dimana semenjak munculnya UU 23/2014, kelembagaan penyuluh di daerah menjadi terdampak. "Tadinya ada bakorluh skrg bahkan hanya diselipkan di eselon 4 sebagai jabatan fungsional untuk penyuluhan," tukasnya.

Padahal, penyuluhan sangat penting khususnya untuk pembangunan pertanian di daerah sehingga membutuhkan wadah kelembagaan yang jelas. "Karena itu, kita pertahankan adanya BPP di Kecamatan dan tingkatkan Posluhdes di tingkat desa. Bagaimana mau lakukan penyuluhan jika lembaga kelembagaan tidak eksis," tukasnya.

Hingga sekarang sudah tercatat ada 6000 kelembagaan penyuluhan (posluhdes dan sebagainya) dan harus dioptimalkan. "Karenanya, bikin posluhdes dengan penguasaan IT sedangkan BPP menggambarkan perkembangan revolusi 4.0 dan kemudian diimplementasikan di beberapa titik," bebernya.

Kemudian, dari segi ketenagaan, Momon meminta agar jumlah penyuluh yang ada harus dioptimalkan, utamanya nasib bagi THLTBPP yang akan menjadi PPPK. "Desa potensi pertanian ada 72 ribu sedangkan penyuluh 42 ribu, masih sangat kurang. Dari jumlah apakah hrus ditambah? terus disaat keuanhan terbatas. Mau tidak mau terobosannya penyuluh swadaya," bebernya.

Sedangkan dari segi pendidikan, Momon mengakui penyuluh memiliki kriteria yang berbeda dengan profesi lainnya. Karenanya, kini tengah digodok aturan penyuluh berlatar pendidikan minimal D3 dan dilengkapi sertifikasi penyuluhan.

Lebih lanjut Momon menuturkan sebagai objek penyuluhan, petani dalam bentuk BUMP dan korporasi petani harus diperkuat. "Sekarang kecendrungan pembentukan poktan gapoktan karena ada program, sebutannya gapoktan merpati. Bantuan sebaiknya dikurangi tetapi pemberdayaan dioptimalkan," bebernya. Misalnya dengan menguasai IT dan alsintan termasuk penguasaan akan demplot dan demfarm sehingga petani mampu melihat sendiri teknologi yang akan sampai pada mereka.

Momon optimis penyuluh pertanian mampu bertransformasi sehingga mampu tetap sejalan dengan pembangunan pertanian. Bahkan dengan pendampingan kepada petani mampu membawa petani masuk ke usaha mikro menengah yang dibantu oleh tenaga kerja dengan berorientasi bisnis.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018