Minggu, 20 Oktober 2019


Di Lahan Warisan Leluhur, Busron Bahar Mampu Produksi Kakao 2,2 ton/ha

08 Okt 2019, 07:06 WIBEditor : Gesha

Busron Bahar menunjukkan salah satu pohon kakaonya dengan produksi yang melimpah | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok--- Apabila kakao dibudidaya dengan baik akan mendatangkan berkah bagi petani atau pekebun. Lantaran tekun merawat dan memelihara kebun kakaonya,Busron Bahar akhirnya mampu memproduksi kakao  dengan produktivitas tinggi, 2,2 ton/ha/tahun.

"Saya mulai tanam kakao sejak tahun 2009 lalu di atas lahan warisan leluhur seluas 2,5 ha," papar Busron yang juga salah satu anggota Kelompok Tani Saiyo,  Nagari Salayo, Kec.Kubung,Kab. Solok,Sumatera Barat (Sumbar) kepada tabloidsinartani.com, Senin (7/10).

Pria yang kini menginjak usia 59 tahun tersebut  mengaku, sangat bersyukur menjadi petani kakao. "Karena memang kakao ini sandaran hidup kami. Bahkan, petani di Kec.Kubung saat ini banyak yang menyandarkan hidupnya dengan tanaman kakao," jelas Busron.

Menurut Busron, budidaya kakao sangat menguntungkan. Mengingat, tiap dua minggu sekali (sebulan dua kali) petani bisa panen kakao.  Biji kakao yang sudah  kering bisa dijual ke mitra (PT Pengelola Aset Islamiah Indonesia (PAII) dengan harga Rp 30.000/kg.

Apabila dikalkulasi, dengan produktivitas 2,2 ton/ha/tahun, Busron setidaknya bisa mengantongi pendapatan dari budidaya kakao sekitar Rp 66 juta/ha/tahun. Atau kalau dikalkulasi per bulannya, Burson paling tidak bisa memperoleh hasil dari kakao sekitar Rp 6 juta/bulan/ha.

Busron mengatakan, kakao yang dibudidaya umumnya dilakukan dengan teknik sambung tempel. Ada juga sebagian yang dibudidaya dengan sambung pucuk. "Tentunya bibit yang kami gunakan adalah bibit unggul,seperti klon Sulawesi dan sebagian bibit unggul dari Payakumbuh. Khusus untuk klon Sulawesi tahan terhadap penyakit, buahnya besar dan banyak," paparnya.

Menurut Busron, dalam satu hektar ada sekitar 800-1.000 batang kakao yang di tanam. Dari kakao yang ditanam tersebut sekitar 20% sudah diremajakan, karena rusak dan terkena serangan hama dan OPT. "Kami lakukan peremajaan tahun 2014 lalu. Saat ini, pohonnya sudah mulai menghasilkan," ujarnya.

Lantas bagaimana, supaya kakao bisa berproduksi banyak? Menurut Busron, kuncinya adalah perawatan tanaman. "Walaupun bibitnya unggul, kalau tanaman tak dilakukan perawatan sejak dini hasilnya akan mengecewakan," jelas Busron.

Perawatan terhadap tanaman kakao,lanjut Busron, mulai dari pemupukan sejak bibit kakao di tanam, hingga tanaman menginjak dewasa dan siap berbuah. Kemudian, lakukan pemangkasan rutin supaya pohon kakao mendapatkan penyinaran sehingga lingkungan tak lembab.Jangan lupa lakukan sanitasi tanaman agar hama dan penyakitnya terdeteksi sejak dini.

Berkat tanam kakao dengan produktivitas tinggi, akhirnya  mengantarkan Busron menjadi juara pertama lomba kebun kakao berproduksi tinggi yang diselenggarakan Ditjen Perkebunan Kementan tahun 2018 lalu. Busron juga mengharumkan nama daerahnya dan  menjadikan Kabupaten Solok sebagai  penyelenggaraan acara Hari Kakao Indonesia,  Sabtu (5/10) lalu.

Dirinya mengaku, senang bisa mengantarkan Kab.Solok menjadi tempat penyelenggaraan acara Hari Kakao Indonesia. Ia juga bangga, tempat kelahirannya menjadi sentra kakao yang tak kalah dengan daerah lainnya.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018