Minggu, 20 Oktober 2019


Djanuardi, Bawa Aroma Sereh Wangi Solok Tercium hingga Eropa

09 Okt 2019, 10:16 WIBEditor : Gesha

Djanuardi memamerkan hasil olahan sereh wangi karyanya | Sumber Foto:INDARTO

Sebagai bahan baku minyak atsiri, di Eropa banyak dimanfaatkan untuk parfum dan farmasi. Selama ini ekspor minyak sereh wangi melalui perusahaan swasta.

TABLOIDSINARTANI.COM, Solok ---Pensiun bukan berarti tak lagi produktif. Buktinya Djanuardi (64). Pensiun dari pegawai negeri sipil (PNS),  ia  terjun menekuni usaha pertanian dengan membudidayakan sereh wangi. Bahkan penghasilannya kini  lebih wangi dibandingkan saat masih menjadi aparat pemerintah.

Bahkan Djanuardi mengaku minyak sereh wangi tak hanya diminati pasar dalam negeri, tapi sudah merambah sampai Uni Eropa. Sebagai bahan baku minyak atsiri, di Eropa banyak dimanfaatkan untuk parfum dan farmasi. Selama ini ekspor minyak sereh wangi melalui perusahaan swasta.

Dari hasil penyulingan, kami  bisa mendapatkan penghasilan dari minyak sereh wangi sekitar Rp 32 juta (kotor)/bulan. Sedangkan dari limbahnya, berupa air kalau Rp 500 ribu/bulan, kata Djanuardi di Solok, beberapa waktu lalu.

Selain disuling untuk dijadikan minyak, petani sereh wangi juga menjual dalam bentuk daun dengan harga Rp 800/kg. Setiap 1 ha, menurut Djanuardi, petani bisa panen 8-10 ton tiap 3 bulan. Hitungannya, jika harga daun sereh wangi Rp 800/kg, maka paling tidak petani bisa mendapatkan keuntungan dengan menjual daunnya sekitar Rp 6,4 juta tiap 3 bulan.

“Meski sudah ada yang menampung, kami sarankan ke petani jangan menjual dalam bentuk bahan bakunya. Lebih baik petani menjual dalam bentuk olahannya, minyak dan limbahnya sehingga hasilnya lebih banyak,” paparnya.

Belajar otodidak

Berbekal pengetahuan pertanian yang diperolehnya secara otodidak,  sejak tahun 2012  lalu bapak empat orang anak ini mulai bertekad menekuni usaha tani sereh wangi. Djanuardi yang merupakan pensiunan DLLAJR kini diamanahkan menjadi Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat.  

Sejak  tujuh tahun lalu Djanuardi membudidayakan sereh wangi di lahan seluas 11 hektar (ha). Kini, sereh wangi yang di tanam di lahan marginal dan bekas tambang di Solok saat ini sudah menuai hasil.

“Bibit sereh wangi setelah umur 6 bulang bisa dipanen perdana. Selanjutnya, sereh wangi bisa dipanen daunnya tiap tiga bulan sekali. Artinya, selama 1 tahun bisa panen 4 kali,” ujarnya.

Mengapa Djanuardi terjun ke usaha tani sereh wangi? Ia beralasan, tanaman ini kaya akan manfaat dan banyak digunakan untuk minyak atsiri. Daunnya setelah disuling bisa dipakai untuk bahan baku minyak wangi (parfum), obat-obatan (farmasi). Airnya (limbahnya) bisa dimanfaatkan untuk pestisida nabati, untuk mengusir tikus, ulat, penggerek batang dan wereng.

Ketua Perhimpuam Petani dan Penyuling Minyak atsiri (P3MA) Sumbar ini juga mengatakan,  untuk mengolah daun sereh wangi juga mudah. Daun sereh wangi bisa disuling dengan sistem kukus, dan semi uap. Kalau semi uap, daun sereh wangi diuapkan selama 7 jam, kemudian dialirkan ke pipa pendingin.

“Dari olahan ini kami selain mendapat minyak sereh wangi dan limbah (air).  Tak hanya minyaknya saja yang bisa dijual, limbahnya pun bisa dijadikan olahan yang bermanfaat bagi manuasia,” kata Djanuardi.
Dalam 1 ton daun sereh wangi yang diolah dengan diuapkan, akan menghasilkan 8-10 kg minyak. Sedangkan limbah (air) yang dihasilkan sekitar 500-600 liter per 20 hari. Limbah cairnya bisa dimanfaatkan untuk pestisida nabati. Sedangkan limbah yang padat bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak (sapi atau kambing). “Umumnya limbah pada ini dioplos dengan ampas tahun. Kalau limbahnya dijual sudah ada yang belum Rp 1.000/liter,” katanya.

 

 

Reporter : Indarto/TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018