Wednesday, 21 October 2026


Kusairi, Mengabdi Demi Sejahteranya Petani Jejangkit

13 Nov 2019, 22:59 WIBEditor : Gesha

Penyuluh Pertanian, Kusairi mengabdi untuk kesejahteraan petani lahan rawa Jejangkit

TABLOIDSINARTANI.COM, Barito Kuala---Mengubah pola pikir petani Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) dari bertani tradisional menjadi petani modern bukan perkara mudah. Tentunya, untuk mengubah mindset petani Desa Jejangkit butuh pendekatan intensif dan sabar. Agar petani mau menggarap lahan yang dulunya berupa rawa semak belukar perlu diberikan contoh nyata dalam bentuk demfarm dan demplot pertanian.

Ibarat pepatah,  dibalik kesulitan pasti akan ada kemudahan, dan hal itu pula yang mendorong  salah satu penyuluh  pertanian lapangan (PPL) Kusairi yang dengan sabar mengajak petani Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) mengolah lahan rawa yang telah dibuka Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun 2017 lalu.

Sejak program Serasi (Selamatkan Rawa dan Sejahterakan Petani), kami selaku penyuluh terjun ke lapangan untuk melakukan pendampingan ke petani dan membentuk kelembagaan petani. "Kami juga dengan sabar mendorong petani untuk mengolah lahan rawa ini dengan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern," papar Kusairi, di sela panen perdana padi di demfarm, Desa Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalsel, pekan lalu.

Bapak empat orang anak ini juga mengaku, untuk mengajak petani menerapkan mekanisasi pertanian di lahan rawa tak mudah. Sebab, petani sudah sejak lama tanam padi setahun sekali saat air rawa surut. Padahal dengan alat-alat pertanian modern, dan benih unggul, petani bisa tanam setahun minimal 2 kali, kenang Kusairi.

Menurut Kusairi, dibantu tim penyuluh lainnya, gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang  anggotanya 50-60 orang ini akhirnya bisa ditangani dengan baik.  Bahkan, petani yang tergabung dalam Gapoktan tersebut bisa melakukan olah tanah, tanam hingga panen dengan baik. Alhasil, petani Desa Jejangkit  saat ini bisa tanam padi varietas Ciherang, Inpara II, Margasari dengan produktivitas 5-6 ton/ha.

Padi yang ditanam tersebut harga gabahnya (GKP) Rp 5.000/kg. Petani saat ini bisa tanam dua kali lipat. Sebelumnya, petani hanya bisa tanam padi lokal setahun sekali dengan produktivitas 3-3,5 ton/ha, kata Kusairi.

Menurut Kusairi, ada enam kelompok tani di Desa Jejangkit yang saat ini aktif didampingi penyuluh untuk menggarap lahan rawa Serasi. Dari lahan yang rawa yang sudah dibuka, ada sekitar 300 ha yang sudah siap ditanami petani. Selain ditanami padi, di sekitar lahan rawa bisa dimanfaatkan petani untuk budidaya ikan dan pelihara itik, paparnya.

Kusairi mengaku, setelah Kementan mengembangkan program Serasi kurun dua tahun lalu, hasilnya sudah mulai kelihatan. Petani memang lebih sejahtera hidupnya. Dari sebelumnya hanya bisa tanam setahun sekali, saat ini bisa dua tahun sekali. "Pendapatan petani pun bisa mencapai Rp 25 juta/musim/tahun. Kalau setahun bisa tanam dan panen dua kali, maka pendapatan petani minimal bisa mencapai Rp 50 juta/tahun, " papar Kusairi

Menurut Kusairi, kalau dikalkulasi pendapatan petani Jejangkit saat ini rata-rata Rp 2juta-Rp 3 juta/bulan. Sebab, selain bercocok tanam, petani bisa budidaya ikan gabus (haruan), betok dan sepat. "Ikan tersebut bisa dipanen pada Juni/Juli,"ujarnya.

Dia juga mengatakan, ikan yang dibudidaya tersebut juga laku dijual ke pasar. Seperti ikan gabus kalau dijual harganya Rp 30 ribu/kg, betok Rp 25 ribu-Rp 30 ribu /kg. Sedangkan ikan sepat bisa dijual dengan harga Rp 10 ribu/kg.

Menurut Kusairi, pengembangan lahan rawa Serasi di Jejangkit bisa menjadi pilihan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional. Lahan rawa Serasi juga bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani. "Kami minta supaya program lahan rawa Serasi di Jejangkit ini tetap dilanjutkan. Karena program Serasi ini sangat bermanfaat bagi petani," pungkas Kusairi.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018