Sabtu, 14 Desember 2019


Rima Adisti, Milenial Pengekspor Bulu Bebek

30 Nov 2019, 05:04 WIBEditor : Gesha

Sang milenial pengekspor bulu bebek, Rima Adisti Usman | Sumber Foto:TIARA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ide bisnis sederhana namun jika digeluti ternyata  memiliki peluang yang bombastis. Seperti yang dilakukan oleh milenial kelahiran Purworejo yang kini mampu merasakan omzet 1 juta dollar Amerika dari kegiatannya mengekspor bulu bebek ke berbagai negara.

 

“Kita mengolah limbah bulu bebek untuk menjadi produk layak ekspor. Jadi pada dasarnya bulu bebek itu seperti wol dan bulu domba, juga angsa,” tukas Rima kepada tabloidsinartani.com.

Wanita berusia 23 tahun ini sudah ekspor bulu bebek sejak tiga tahun lalu ke Vietnam, Cina dan Taiwan. Dan di negara tersebut diproduksi menjadi jaket musim dingin, bantal, guling, selimut, bedcover, dan lainnya. Penggunaan bulu bebek karena lebih tahan lama seperti wol dibandingkan dengan bulu ayam. "Kalau bulu angsa bisa, tapi tapi harganya lebih mahal walau pun kualitasnya bagus. Saya hanya ekspor bulu bebek termasuk entok, itik, peking dan itu harganya berbeda-beda,” ujarnya.

Rima menjelaskan, usahanya ini dilatarbelakangi perusahaan suaminya yang berkewarganegaraan Korea Selatan dan bidang bisnis yang digeluti pun serupa. Sehingga dirinya melihat peluang yang menarik dari pengolahan limbah bebek untuk garment.

Ketika ditanya, pasokan limbah bulu bebek yang digunakan, Rima menjawab limbah bulu bebek tersebut didapatkannya Aceh, Pulau Kalimantan, Lombok. Ia mengaku khusus melayani pasar ekspor.  Pasalnya, permintaan dari pasar ekspor pun belum bisa Ia penuhi karena kurangnya produksi limbah bebek. “Minat makan bebek Kita masih kurang sekali. Mungkin bisa digalakan Ayo makan bebek juga," tuturnya. 

Bulu bebek diambil Rima dari para pengepul yang sudah kerjasama dengan peternak, rumah potong dan pasar. "Jadi Kita kerjasamanya dengan pengepul di setiap daerah. Harga beli Kami ke pengepul tergantung musim, bisa Rp 4 ribu - 15 ribu per kg. Dulu pernah sampai Rp 20 ribu - 40 ribu per kg. Kalau harga jual sekitar 1-2 Dolar Amerika,” terangnya.

Diakuinya, permintaan bulu bebek untuk ekspor luar negeri banyak sekali. Buyer dari luar negeri tersebut bisa menampung berapa pun yang Rima kirim. Bahkan berharap minimal 32 kontainer dalam 2 bulan dari yang Rima kirimkan. Omzet usaha yang berbasis di Purwakarta ini sejak 2017 itu mencapai 30-35 kontainer atau sekitar 300-400 ton dengan nominalnya sekitar $800.000 - $900.000.

“Sejauh ini lami ekspornya paling sedikit 1-2 kontainer. 1 kontainer sekitar 10 ton. 10 ton bulu bebek berasal dari 14 ton materialnya. Karena kalau dari pengepul bercampur pasir, darah, kotoran itu yang bikin berat. Kita olah dulu hingga bersih dari pasir dan kotoran lainnya, bulunya mengembang, baru kita ekspor,” paparnya.

Terkait bantuan dari pemerintah, Pihak Badan Karantina Pertanian (Barantan) dinilainya sangat membantu dalam proses ekspor. Harapannya mungkin ada bantuan dari pemerintah mengajak mengajak masyarakat untuk gemar makan bebek sehingga bulunya banyak dan harganya stabil.

Reporter : Tiara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018