Thursday, 13 August 2020


Tinggalkan Penyuluh Kontrak, Attila Jadi Juragan Kopi Solok

09 Dec 2019, 11:15 WIBEditor : Ahmad Soim

Attila dan Kopi Pak Datuak | Sumber Foto:Dok

Kopi dalam cangkir boleh habis, tapi perbincangan kita tentang kopi dan cinta tidak akan pernah usai.

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Kopi Solok tepatnya Solok Selatan telah merambah  ke beberapa kota besar di Indonesia. Petaninya dihimpun khusus dengan kebun yang terbina. Bersama prosesor dan roster serta akedemisi mereka bergabung dalam Asosiasi Kopi Minang Sumatera Barat.

 

Attila Majidi, SP bergelar Datuk Sibungsu dari Solok Selatan adalah Ketua Asosiasi Kopi Minang Sumatera Barat. Sebagai Datuk, Attila adalah kepala suku atau pemimpin adat di Minangkabau. Pria bersusia 47 tahun ini pernah menjadi Penyuluh Pertanian kontrak di Dinas Pertanian Solok Selatan. Alumni IPB Angkatan 28 ini  berhenti bekerja sebagai Penyuluh Pertanian sejak Juli 2018.


Persiapan wirausaha pertanian pun dijalani. Pada Januari 2018, Attila mengelola Teras Kopi Pak Datuak. Dua gelas kopi racikannya minimal dia minum sendiri. "Maklum gratis kopi milik sendiri he he," kata  suami Yani Suryani yang juga alumni IPB angkatan 30. Tujuh tahun yang lalu, Attila membina dan membentuk kelompoktani perkebunan kopi bersama dengan Penyuluh Perkebunan Kabupaten Solok Selatan.


Pada November 2017, Attila termangu ketika seorang temannya, Direktur RS di  Riau berhenti bekerja dan ingin menekuni bisnis kopi. Saat survei di Yogyakarta, temennya menemukan sebuah Kafe yang khusus menjual kopi Arabica Solok. Attila adalah  juga petani pemilik kebun kopi di Solok Selatan.  Maka ia pun menelusuri daerahnya.  "Ternyata banyak daerah yang kesulitan memenuhi banyaknya permintaan kopi Arabica dan mencari bahan baku ke Solok Selatan," tuturnya. Saat ini luas tanaman kopi Arabica di Solok Selatan 450 ha dan Robusta 3.293 ha.  

 

Dari survei itulah,  sejak Januari 2018, Attila  mulai memproduksi Kopi merek Pak Datuak. Mulai dari Green Bean, Whole dan Ground. Ngga menyangka ternyata permintaan pasarnya sangat antusias. "Saya rutin mengirim kopi ke Jakarta, Pekanbaru, Bekasi dan Bandung.  Dan ternyata ngopi, mengenal kopi dan mengenal penikmat kopi itu asyik," katanya.



Selain menanam kopi dan memproduksi kopi merek Pak Datuak, Attila kini juga bikin tempat edukasi dan nongkrong yang diberi nama Teras Kopi Pak Datuak di Solok Selatan. Jatuh cintanya pada Kopi semakin menjadi. "Saya punya motto: " .....kopi dalam cangkir boleh habis, tapi perbincangan kita tentang kopi dan cinta tidak akan pernah usai!"



Sampai saat ini ada 4 kelompoktani yang dibina dan ada 7 pelaku usaha yang sudah mengeluarkan produk dengan merek sendiri. Sampai saat ini tercatat muncul 5 pelaku usaha prosesor kopi atau mengolah kopi menjadi Green Bean,  3 roaster atau mengolah Green Bean menjadi Roasted Bean.



  Asosiasi Kopi Minang Sumatera Barat pun dibentuk pada 26 Mei 2018. "Tergabung dalam asosiasi ini  adalah para petani kopi,  prosesor,  roaster, pemiliki kedai kopi dan penikmat kopi serta akademisi," kata Attila yang diamanahi sebagai Ketua Asosiasi Kopi Minang Sumatera Barat.
 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018