Sunday, 05 July 2020


Intip Inovasi Jajang Slamet, Bikin Kopi Malang Selatan Tembus Ekspor

16 Dec 2019, 21:56 WIBEditor : Gesha

Berkat Inovasi Jajang Slamet, Petani Kopi Malang Selatan mantap tembus ekspor | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Pasuruan--- Banyak cara dilakukan penyuluh untuk meningkatkan produktivitas kopi pekebun. Salah satunya adalah, Jajang Slamet Somantri, sang Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Kec. Dampit, Kab. Malang yang berhasil meningkatkan produktivitas kopi pekebun di Malang Selatan bahkan  tembus ekspor ini, bisa menjadi inspirasi bagi penyuluh pertanian lainnya. 

Jajang, begitu panggilan akrab pria kelahiran Garut , Jawa Barat (Jabar) ini, berhasil mendorong pekebun kopi di Malang Selatan untuk meningkatkan produktivitas kopi hingga 1.500 kg/ha (green bean). Melalui aplikasi metode sekolah lapang (SL) berjenjang dan model penghidupan masyarakat agribisnis berkelanjutan (PMAB), pekebun di kawasan Malang Selatan, akhirnya bisa tembus pasar ekspor.

Menurut Jajang, semula produktivitas kopi pekebun di kawasan Malang Selatan sangat rendah. Sebab, pekebun belum menerapkan tata cara budidadaya kopi yang baik (GAP). Lantaran prihatin terhadap kondisi kebun kopi di Malang Selatan, Jajang yang sudah sejak tahun 1984 menjadi PPL ini kemudian melakukan terobosan dengan mengembangkan budidaya kopi dengan pedekatan lima kegiatan pembelajaran dengan metode Sekolah Lapang (SL).

“Kelima kegiatan tersebut dilakukan dengan pedekatan atau model Penghidupan Masyarakat Agribisnis Berkelanjutan (PMAB). Tahapan-tahapan ini juga melibatkan partisipasi aktif para kelompok tani dan pekebun,” papar Jajang, di Pasuruan, pekan lalu.

Jajang mengungkapkan, untuk meningkatkan produksi kopi pekebun bisa dilakukan melalui sekolah lapang (SL) Good Agricultural Practices (SL GAP), berupa metode pelatihan budidaya tanaman secara berkelanjutan secara baik dan benar. Nah, tujuan SL GAP ini untuk meningkatkan produktivitas dari 750 kg menjadi 1,2 ton/ha sehingga produksi dan mutu tanaman kopi berkelanjutan.

Tahap selanjutnya adalah, melalui Sekolah Lapang Good Manufacturing Practices (SL GMP), berupa metode pelatihan cara pengolahan hasil kopi yang baik dan benar agar menghasilkan produk kopi yang bermutu, aman, mempunyai cita rasa yang tinggi, layak dikonsumsi dan berdaya saing tinggi.  “Kegiatan ini dilakukan selama 3 kali pertemuan dan mengacu pada Kurikulum Nasional Kopi,” ujarnya.

Jajang juga mengatakan, pekebun juga diperkenalkan dengan sistem Farmer Driven Research (FDR), berupa lahan percontohan manajemen rantai ekosistem perkebunan melalui model diversifikasi terintegrasi pada kebun kopi. Tujuannya untuk mengoptimalkan semua komponen ekosistem yang ada di kebun kopi, memanfaatkan peluang usaha dalam suatu areal kebun kopi, menjaga keselarasan ekosistem dalam kebun kopi, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Sedangkan tahap berikutnya adalah, pelatihan Sistem Kebersamaan Ekonomi (SKE), berupa pemberdayaan petani dan kelembagaan petani. Dengan pelatihan ini pola pikir petani atau pekebun bisa berubah , yang ditandai dengan tumbuhnya kesadaran anggota kelompok tani untuk memeperbaiki kehidupannya dengan menggunakan potensi yang dimilikinya.

Pekebun yang semula tak mengenal GAP dan pengetahuan tentang budidaya kopi, lanjut Jajang, perlu diberi pelatihan Suistainable Agribusiness Cluster (SABC). Pelatihan ini bertujuan untuk menumbuh kembangkan institusi agribisnis yang profesional di dalam kawasannya sehingga akan menjadi titik tumpu (focal point) yang kokoh bagi terwujudnya pembangunan sistem dan usaha agribisnis perkebunan kopi yang efisien, produktif, dan berdaya saing tinggi.

Menurut Jajang, sasaran inovasi ini dilakukan selama lima tahun ( 2016 – 2020). Sedangkan kelompok sasarannya adalah pekebun kopi rakyat Malang Selatan yang mencakup empat kecamatan, yaitu Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit dan Sumbermanjing Wetan. Keempat kecamatan tersebut sering dikenal dengan sebutan wilayah “AMSTIRDAM”. salah satu daerah penghasil kopi Robusta di Jatim.

Jajang juga mengatakan, tanaman kopi di wilayah “AMSTIRDAM” seluas 1.467,75 Ha (tahun 2017) . Sebelum dilakukan treatment dengan metode PMAB, produktivitas kopi di wilayah tersebut hanya 400 -700 kg/Ha. “Sekitar 96 persen kebun kopi di sini dikelola rakyat, dan saat ini produktivitasnya sebanyak 1.200-1.500 kg/ha (green bean),” ujarnya. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018