Sunday, 05 July 2020


Reno Pati, Tak Malu Geluti Dunia Kompos

26 Dec 2019, 12:06 WIBEditor : Gesha

Reno Pati Tak Malu Berkompos | Sumber Foto:RAH UPPO

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak --- Generasi Milenial biasanya lebih bergengsi jika bekerja di perusahaan start up. Tapi berbeda dengan pemuda asal Sekadau, Pontianak, Kalimantan Barat ini. Di Instagram saja dirinya menulis biodata dengan titel "Tukang Sampah Keliling". 

Dia adalah Reno Pati yang menjadi CEO dari Rumah Unit Pengolahan Pupuk Organik (Rumah UPPO) yang menciptakan inovasi alat pengolah sampah bernama komposter. Inovasi yang diciptakan mahasiswa asal Sekadau, Kalimantan Barat itu, berbeda dengan yang lain.

Tak sekedar menciptakan alat, Rumah UPPO juga memberikan pendampingan secara berkelanjutan kepada konsumennya, baik itu secara online maupun offline. Bahkan, cara lain yang dilakukan adalah mengedukasi masyarakat melalui seni lukis.

“Kami bukan hanya mengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk. Kami ingin mengubah mindset masyarakat. Rumah UPPO hadir untuk membantu pemerintah mengubah mindset masyarakat dalam mengolah sampah,” tukasnya.

Hal ini dilakukannya karena sejalan dengan tingginya kepadatan penduduk, produksi sampah pun kian meningkat. Sampah dari sisa konsumsi masyarakat harus dikelola agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

Didukung ilmu kampus yang dipunya, Reno akhirnya membuat pupuk organik kompos dan cair. “Terbuat dari limbah pasar, rumah tangga dan tandan kosong kelapa sawit,” ujarnya.

Setidaknya terdapat 400 ton sampah per hari se Kalbar. 80 persen merupakan sampah organik dan 20 persen sampah non organik. Dia tidak mematok harga tinggi produknya. “Kemasan 1 hg harga Rp7.500, 3 kg Rp20.000, 5 kg Rp35.000 dan 10 kg Rp70.000,” jelas reno.

Dijelaskan Reno, keunggulan pupuk kompos miliknya yaitu membantu mengurangi sampah, membantu meningkatkan pelestarian lingkungan, non Kimia, kemasan beraneka ragam dan menarik. Kemudian memanfaatkan limbah industri kelapa sawit
sebagai bahan pembuat kompos, free delivery order khusus Pontianak, memenuhi standar kualitas, edukasi masyarakat, dikenal luas oleh masyarakat Pontianak dan sekitarnya, serta menciptakan inovasi pembuatan pupuk skala rumah tangga.

Tersebar Seluruh Indonesia

Rumah UPPO menerapkan konsep pengelolaan sampah organik pada skala rumah tangga dengan menjadikan sebuah produk usaha pupuk kompos dan pupuk cair menggunkakan alat komposter. Rumah UPPO telah didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup kota Pontianak atas program kerja usaha mahasiswa sebagai pengelola sampah organik dalam membantu menangani permasalahan sampah di Kota Pontianak.

Komposter yang awalnya hanya ada di Pontianak, kini sudah tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Komposter mengasilkan dua produk hasil pengolahan sampah, yaitu pupuk organik cair dan kompos padat. Pupuk tersebut bisa digunakan untuk tanaman hias, buah-buah, hingga sayur.

Saat ini, hampir 100 komposter yang sudah didistribusikan, mulai dari ukuran kecil dengan volume 45 liter, hingga paling besar volume 200 liter. Rumah UPPO sudah membina 2 kelompok untuk diberikan pendampingan. Kedua kelompok tersebut berada di Pontianak.

“Mereka ini nantinya diharapkan bisa menjadi contoh dalam mengolah sampah secara mandiri di rumah,” kata Mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak itu.

Harga drum komposter yang dijualnya bervariasi. Untuk volume 35 liter (Rp 450 ribu), 80 liter (Rp 850 ribu) hingga yang terbesar dengan volume 200 liter (Rp 1,7 juta). "Setiap pembelian akan mendapatkan bioaktivator+sekam biasa, dan pupuk kandang + sprayer. Kita juga enggak putus jual tetapi ada pendampingannya juga baik online maupun bimtek," tambahnya.

Dirinya kini terus melakukan sosialisasi pemanfaatan sampah organik kepada masyarakat.“Kita dari sini bisa memberdayakan pemulung, selain itu mereka bisa membuat pupuk kompos dan cair, serta membangun mitra dan menciptakan inovasi komposter bagi masyarakat,” pungkas Reno.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018