Ahmad Fahrizal, generasi milenial yang tak malu jadi petani
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bagi sebagian kalangan generasi muda, apalagi yang tinggal di Ibukota Negara DKI Jakarta, menjadi petani ibarat menempuh jalur masa depan suram. Tapi bagi Ahmad Fahrizal menjadi petani adalah sebuah kebanggaan.
“Saya anak muda, tak malu jadi petani,” tegas pemuda yang kini menggeluti budidaya Alpukat di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Saking bangganya, Fahrizal juga tak malu memposting profesinya di media social, seperti facebook dan instagram. “Di media social saya sebutkan profesi saya adalah petani,” tambahnya.
Fahrizal mengaku dirinya menyukai pertanian sejak masih sekolah. Bahkan selepas masa SMP, ia meneruskan ke Sekolah Pembangunan Pertanian. “Saya tergelitik menekuni pertanian sudah sejak lama. Apalagi kakek dan ayah saya adalah turunan petani. Mereka bisa hidup dan menyekolahkan anak-anaknya yang banyak dengan bertani,” tuturnya.
Dengan latar belakang keberhasilan orangtuanya yang menjadi petani, Fahrizal melihat, dunia pertanian memberikan peluang untuk bisa berpenghasilan. Apalagi kini banyak orang yang meninggalkan pertanian. “Ketika orang meninggalkan pertanian berarti ada ruang kosong untuk berusaha. Saya kemudian masuk ke dunia pertanian,” ujarnya.
Karena itu ia menyayangkan jika ada generasi muda yang enggan terjun ke dunia pertanian dengan alasan ekonomi. Padahal menurutnya, usaha pertanian juga cukup menjanjikan dari sisi pendapatan.
Apalagi kini pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga banyak membantu dan mendorong generasi mudah menekuni usaha pertanian. “Di dunia pertanian, saya bisa keliling Indonesia. Bahkan Kementerian Pertanian juga memberikan kesempatan bagi generasi muda ikut program magang Jepang,” ujarnya.
Karena itu Fahrizal mengajak generasi muda tidak ragu lagi jika ingin menekuni bisnis di pertanian. Jika ingin berhasil dalam usaha pertanian, ia mengingatkan, jangan menjadikan sebatas profesi, tapi hobi. “Kalau hobi kita akan melakukan dengan senang,” tambahnya.
Alpukat Cipedak
Fahrizal saat ini merupakan salah satu generasi muda yang menjadi penangkar benih Alpukat Cipedak. Ia sendiri awalnya merupakan penyuluh pertanian, tetapi memutuskan untuk pensiun dini dan menjadi petani alpukat.
Berdasarkan sejarahnya, awalnya alpukat ini ditemukan tahun 1990-an oleh Nisan Badar di daerah Cipedak, Kecamatan Jagakara. Baru setelah memasuki tahun 2000-an, diperbanyak dan di tahun 2004.
Alpukat ini daging buahnya berwarna kuning seperti keju atau mentega yang rasanya gurih. “Orang nyebutnya alpukat mentega, tetapi sebenarnya beda rasanya dengan alpukat mentega. Alpukat Cipedak ini rasanya gurih dan tidak hambar, makanya suka cocok diberikan untuk bayi. Yang paling penting merupakan asli Jakarta,” kata Fahrizal.
Selain rasanya gurih seperti keju atau mentega, menurut Fahrizal, keunggulan lain alpukat ini ukurannya tidak terlalu besar atau terlalu kecil (sedang), tahan terhadap serangan hama dan penyakit, adaptif dengan dataran rendah dan perakarannya tidak merusak tanah.
“Saya mengembangkan usaha perbibitan alpukat ini bukan hanya sebatas dari rasanya saja. Keunggulan yang paling penting adalah tahan terhadap hama dan penyakit serta akarnya tidak merusak lantai. Jadi akarnya itu menebus ke dalam tanah, bukan kepinggir-pinggirnya. Makanya ketika pohonnya mulai meninggi dan besar, tidak merusak tanah,” ungkapnya.
Satu obsesi Fahrizal, bukan hanya ingin menjadi alpukat Cipedak sebagai icon Jakarta, tepatnya daerah Cipedak, tetapi juga agar dikenal di seluruh Indonesia, bahkan dunia.