Thursday, 09 July 2020


Petani Milenial ini Melamar Calon Istri Berkat Budidaya Cabai

04 May 2020, 03:31 WIBEditor : Gesha

Petani milenial asal Aceh Tamiang ini melamar calon istri dari budidaya cabai | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang --- Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah, salah satu petani milenial di Aceh Tamiang ini mampu membeli tanah dan membangun rumah, termasuk menikahi gadis pilihan yang dikenalnya melalui media sosial.

Sosok tersebut adalah Irwansyah, yang lahir 25 Maret 1985 di Desa Sungai Kuruk I Kecamatan Seruway Kab. Aceh Tamiang 35 tahun silam. 

Di tahun 2007, dirinya mempunyai modal awal menanam cabai hanya Rp.150.000,- itupun diperoleh dari upah memanjat dan mengumpulkan Pinang dan mengupas Kelapa. Setiap pagi usai sholat subuh dan berdoa, dia langsung bekerja mengolah lahan dan membuat bedengan di depan gubuknya dan menanam Timun.

Ternyata hasil panennya bisa mencapai Rp. 1.500.000, lumayan buat ditabung. Namun hati kecilnya semakin tertantang dan berkeinginan untuk menanam cabai merah. 

Maka pada pertengahan 2008 ia menggarap lahan tersebut dan menanami cabai 500 -700 pokok. Rasa syukurnya, ia jadikan sebagai budaya dan kebiasaan, Setia kali dilakukan panen selalu membagikan hasil panennya untuk tetangga dan masyarakat sekitar. Rupanya hasil dari menanam Cabai meningkat mencapai Rp. 3 juta. 

Selanjutnya tahun 2010 – 2013 belajar membeli bibit dan menanam sawit dari seribu kecambah yang disemai menghasilkan 800 bibit. Karena bibit sawit harganya mahal, margin dan sisa bibit ia tanam secara gratis tanpa harus membeli. Sambil menunggu waktu selama tiga tahun, ia bekerja kembali memanjat kelapa dan uangnya ditabung untuk dijadikan sebagai modal.  

Dari modal yang terkumpul kemudian dia mencoba lagi menanam cabai pada lahan seluas dua rante dan ditanami sebanyak 1884 pokok. Terakhir hasil panen sangat menggembirakan mendekati satu ton dari tiga kali panen dan harga jualnya Rp. 75.000/kg.

Namun hasil yang selalu dibagikan untuk warga yang membutuhkan, sementara kalau ada masyarakat sekitar yang mau menanam cabai dan tidak memiliki modal, Irwansyah selalu membantu benihnya. 

Atas kegigihannya tersebut, Bupati Aceh Tamiang pun turut memberi support dengan memberikan lahannya untuk ditanami pisang dan cabai merah.

Seiring kemajuan teknologi dan informasi, kegiatannya berusahatani dari membuat bedeng, penyemaian, menanam dan merawat tanaman hingga menunggu masa panen selalu diunggah melalui media sosial dengan akun facebook Irwansyahi Eben.  

Tak pelak lagi banyak komentar positif bermunculan dari netizen, termasuk salah seorang gadis yang kini menjadi istrinya karena kecantol terhadap teknologi cabai merah pujangga hati.

Kini Irwansyah sedang dalam penyelesaian program sekolah paket C (SMA). Ia juga ingin melanjutkan kuliah untuk menjadi sarjana. 

Kerja Keras dari Kecil

Anak pertama dari tiga bersaudara ini telah menekuni dunia pertanian sejak duduk di bangku sekolah dasar. Penghasilan ayahnya sebagai buruh tani pun pas pasan, jangankan untuk biaya sekolah untuk kebutuhan hidup sehari-haripun kurang. 

Masa kecil Irwansyah sebagian waktunya dihabiskan untuk membantu Ayahnya bekerja, dan saat sepulang sekolah jika melihat orang bercocok tanam ia memperhatikan sambil termenung lama melihat orang memacul, membuat bedeng dan bercocok tanam.

Rasa ingin tahunya semakin kuat dan semangatnya yang tinggi, membuatnya penasaran ikut membantu petani bercocok tanam. Selama ini, ia hanya tahu sayuran dan makanan ketika setelah dimasak dan dihidangkan diatas meja.

Setelah satu smester duduk dibangku sekolah MTsn setingkat SLTP, Irwansyah memilih dan memutuskan untuk belajar sambil bertani. Mulai saat itulah Ia tahu melakukan cara penyemaian benih, membuat bedeng dan menanam sehingga dapat menghasilkan uang dan rupiah yang sangat menggiurkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, hingga tumbuh masa remajanya, Irwansyah berinisiatif untuk menanam dan menabur benih secara mandiri. Dari hasil panen, sebagian hasil yang diperoleh ia memberikan kepada tetangga dan warga yang membutuhkan, sebagian dijual dan dijadikan benih duntuk ditanam kembali. Dari sinilah ia mengenal seluk beluk pertanian itu.

Di waktu luang, dirinya juga mengajak beberapa temannya bergotong royong membersihkan lahan untuk ditanami berbagai macam sayuran, seperti timun, semangka, sawi, bayam, kacang panjang, dan cabai merah. Saat ini ada dua puluh temannya yang putus sekolah sudah bergabung dan mengikuti jejaknya menjadi petani milenial.

Reporter : AbdA
Sumber : BPTP Aceh
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018