Friday, 14 August 2020


Dengan Bioaktivator, Penyuluh Swadaya Aceh Tamiang ini Go Internasional

16 May 2020, 05:49 WIBEditor : Gesha

Admansyah, sosok penyuluh swadya di Lahan Pertanian Ifghawa Qatar | Sumber Foto:Admansyah

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang --- Siapa bilang penyuluh gak kreatif?. Buktinya dengan kekreatifannya menciptakan bioaktivator, penyuluh swadaya ini bisa go internasional sampai ke Qatar.

Namanya Admansyah Lubis, sejak akhir 2006 pria ini sudah belajar melakukan percobaan secara alami dan mandiri, tepatnya tahun 2012 dari pengalamannya Ia menemukan sesuatu makhluk hidup (bakteri/ Bioaktivator) yang bekerja dengan cepat untuk menyehatkan tanah. 

Dari hasil temuannya tersebut dirinya melakukan berbagai percobaan di beberapa provinsi mulai dari Jambi, Riau dan Sumut (2012 – 2015). Mulai tahun 2016 sampai sekarang fokus melakukan kegiatannya di Aceh. “Dalam mendukung pertanian organik bukanlah hal yang mudah, di lapangan kita perlu pengorbanan dan juga keikhlasan," kenangnya. 

Tahun 2018 ia bersama tim membentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) pupuk organik dan memperbaiki kebun milik ketua koperasi Tualang Lestari Nisam, Aceh Utara, karena banyak kandang ayam (kotoran) dan potensi lahan sawah yang luas.

Banyak jenis lahan yang sudah dipelajarinya mulai lahan gambut, lahan kering, lahan tadah hujan termasuk lahan marginal. Semua itu dilakukannya untuk memberikan perlakuan agar supaya tanah menjadi sehat dan baik untuk semua tanaman.

Dirinya juga selalu berusaha memahami berbagai permasalahan fisika tanah, kimia tanah dan biologi tanah. Selain itu, katanya lagi, kita harus berani menyelesaikan permasalahan mulai tekstur tanah, peran dan fungsi tanah yang baik untuk tanaman.

Menurutnya, ilmu tanah seluas tanah yang terbentang di bumi, bukan setebal buku. Artinya ilmu itu harus dipraktekkan dan sangat menarik untuk dipelajari, karena bumi adalah ciptaan Allah yang harus diselamatkan hingga akhir zaman. "Ilmu tanah yang sebenarnya, katanya seluas bumi membentang, semua berukuran demi keselamatan bumi dan kesejahteraan umat," bebernya.

Dari pengalaman tersebut Ia mendedikasikan dirinya sebagai Penyuluh Swadaya sejak 2014 hingga kini. Pria kelahiran 28 Agustus 1964 di Lhokseumawe 56 tahun lalu yang akrab disapa Adman ini pernah menempuh pendidikan akhir jurusan elektro di Institut Teknologi Medan, Sumatera Utara tahun 1988.

Suami dari Sumeri ini selain pandai bergaul, rajin, disiplin dan santun, Ia juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati sehingga  mendapat simpati masyarakat Aceh Tamiang. Memulai debutnya sebagai Penyuluh Swadaya di hampir seluruh BPP kecamatan dalam kabupaten Aceh Tamiang. 

“Kami bersama-sama koordinator BPP selalu turun ke lapangan dan memberikan masukan dan solusi untuk mengatasi permasalahan pupuk organik di tingkat kelompoktani," kenangnya.

Disebutkan pula, untuk merubah perilaku dan sikap agar petani mandiri sangatlah tidak mudah saat itu, namun dengan tekad yang tak kenal menyerah dia mencoba memberikan penyuluhan langsung serta informasi tentang budidaya tanaman padi dengan pupuk organik. 

Ia masih ingat,  saat itu hanya satu Kelompok Tani saja yang menerapkan sistem pertanian organik skala demplot, namun memberikan hasil yang optimal. Tentu saja, Adman tidak pernah menyerah. Ayah dari Suci, Poppy dan Risky serta kakek enam cucu ini berpikir mungkin masyarakat belum melihat dampak dari penerapan teknologi pertanian organik. 

Kemudian tahun 2019 ia melibatkan petani milenial (Reza dan Abthal) merawat kebun kurma Berbatee dan Lambadeuk Farm di Aceh Besar. Tidak mengenal lelah walau harus pulang pergi dari Aceh Tamiang, seminggu sekali dia mengawasi kebun. Terakhir melibatkan peneliti BPTP Aceh dan mahasiswa FP Universitas Abulyatama (Unaya) untuk praktek lapang. 

Selanjutnya ia pun kembali mengajak kelompok tani di beberapa daerah untuk melakukan sistem pertanian organik dan saat itu ada respon positif anggota kelompok yang mau menerapkan dengan luasan lahan demplot.

Kelompokpun mulai tertarik dengan sistem tersebut,  sehingga musim tanam berikutnya bertambah dan meluas yang menerapkan sistim organik. Sejak saat itu kelompok tani binaannya menerapkan penanaman padi dengan sistim organik secara meluas hingga sekarang, karena para petani sudah paham bahwa teknologi pupuk organik memudahkan perawatan serta pengendalian hama dan penyakit pada tanaman.

Melenggang ke Qatar

Kini Admansyah boleh berbangga atas hasil perjuangannya selama enam tahun membujuk dan meyakinkan petani di wilayah binaannya, meskipun awalnya tak luput dari ejekan dan hinaan karena memperkenalkan cara tanam padi dan sayuran dengan bioaktivator sebagai pupuk organik yang tak lazim. 

Prestasi itu pula yang mengantarkan Admansyah pada 14 Februari tahun ini bisa terbang ke negara jazirah arab bekerja sebagai tenaga ahli dalam pengembangan pertanian organik di Izghawa Farm, Qatar.

“Saya bersyukur, ini semua tidak terlepas dari dukungan teman-teman termasuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh yang memperkenalkan dengan FP Unaya dan Unsyiah sehingga diadopsi oleh hampir semua mahasiswa dan petani milenial di Aceh,” ujarnya saat bersilaturrahmi dengan peneliti BPTP Aceh jelang berangkat ke Qatar.

Di Qatar, tugasnya sebagai tenaga ahli mengkoordinir anggota tim memproduksi 2000 liter pupuk cair untuk masa vegetative dan masa generative tanaman. Setiap harinya Ia bersama anggota tim selain menyiapkan lahan dan media tanam juga memperbaiki tanaman yang bermasalah/rusak.

Atas izin Allah, bakteri bioaktivator mampu bekerja setelah sebulan masa perlakuan membentuk dan merangsang pertumbuhan dan meningkatkan pembuahan sehingga tanaman yang rusak menjadi segar juga meningkatkan hasil produksi.

Lahan yang dikelolanya disana mencapai sepuluh hektar dengan berbagai macam tanaman seperti Tomat, Timun (cucumber), Paprika, Gara, Kusa dan juga Terong, namun yang berproduksi hanya 8 ha, melibatkan dua tenaga ahli, 30 teknisi dan dua orang sopir.  Dengan hasil panen 3 – 6 ton per hari. Sementara Ladies Fingger dan Vania di lahan dua hektar belum panen. 

Harapannya kedepan semua kelompoktani di Aceh mampu menjadi petani maju, mandiri dan modern serta menerapkan management agribisnis dalam berusahatani. Ia sangat bangga bila petani menjadi cerdas dan mandiri.

Hingga kini formula produk yang dihasilkan sudah banyak berkembang tidak hanya di Aceh, tapi juga Lampung, Kalimantan Selatan sebagian di Sumatera Utara dan Riau. Terkait ada produk yang sejenis di pasaran, ia tidak merasa tersaingi malah ingin bersanding. Karena perlakuannya berbeda, pihaknya berprinsip pada tekstur tanah dulu, baru menggunakan bahan penyubur tanaman sesuai fasenya.

 

Reporter : Abdul Azis
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018