Monday, 10 August 2020


Berguru di Thailand, Petani Milenial Aceh Ini Semangat Tularkan Pertanian Organik

18 May 2020, 05:43 WIBEditor : Gesha

Ukri di kebun melon di taman kerajaan Thailand. | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Selatan --- Semangat milenial yang berpikiran out of the box, kreatif dan berwawasan modern memang diharapkan bisa menggantikan peran petani di masa depan. Seperti yang dilakukan petani milenial dari Aceh Selatan ini. Sepulang dari berguru di Thailand, dirinya semangat menularkan ilmu budidaya organik dan hidroponik modern kepada petani lainnya.

Sebagaimana diberitakan media masa, pemerintah Aceh November akhir tahun lalu telah mengirim 20 petani milenial untuk magang ke Songkhla, Thailand. Salah satu pesertanya adalah Marzukri (Ukri) alumni Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh Besar, anak yatim kelahiran 29 April 1995 di Gunong Pulo, Kluet Utara-Aceh Selatan.

Sepulang dari Thailand, Ukri bersama dua puluh peserta dan tiga diantaranya alumni FP Unaya sempat dijamu oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Saat itu Plt Gubernur mengingatkan, agar petani milenial Aceh yang pulang dari Thailand, harus menjadi petani yang tangguh, memiliki nilai tambah dan daya saing serta kemampuan inovatif sesuai dengan era industri  4.0. “Beliau berharap agar kami dapat menjadi pelopor dalam meningkatkan produktivitas dan vitalitas para petani lain di Aceh," jelas Ukri kepada tabloidsinartani.com.

Adapun vitalitas yang dimaksud, yaitu bagaimana kita bisa membuat para petani bersemangat, suka, dan merasa bangga menjadi petani dengan apa yang dikerjakan. 

Berdasarkan semangat dan modal tersebutlah, dirinya membulatkan tekad menghubungi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh untuk mendapatkan benih sebar. Benih yang diterimanya tersebut ditanam  dengan petani dan kelompoktani yang membutuhkannya.

Disamping menjadi pendamping ia juga terjun langsung bersama-sama petani menanam jagung, kedelai dan kacang tanah sistem tumpangsari, seluas satu hektar dengan mengajak kelompoktani milenial Karya Muda Tani di desanya. "Kini yang sudah ditanam seluas 0.25 ha sementara saat ini tengah digarap lahan 0.75 ha lagi," bebernya.

Kegiatannya sehari-hari selain membina juga membuat percontohan sebagai pendalaman ilmu di bidang budidaya tanaman. "Termasuk melakukan pengembangan tanaman jagung pakan, budidaya kedelai. Dan selain bertanam sayuran juga mencoba tanam padi dan melon secara hidroponik," ujarnya bangga. Tujuannya agar usahatani yang dilakukan tersebut bisa mendapatkan hasil sempurna dengan modalnya sedikit, karena memanfaatkan bahan-bahan limbah untuk pertanian organik.

Di tahun 2019 silam, Ukri memang diberikan kesempatan untuk ikut dalam Program Magang Petani Milenial Aceh ke Songkhla, Thailand melalui program Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. Kegiatannya selama di Thailand, umumnya bidang pertanian dan perternakan yang skala ekspor dan yang paling terfokus pada budidaya kelapa pandan wangi.

Selama hampir sebulan di Thailand banyak sekali ilmu yang didapatkan tentang dunia pertanian dan perdagangan. "Kami disana diajarkan bagaimana budidaya tanaman dengan organik dan teknologinya, dari mulai penanaman, panen dan pasca panen," jelas Ukri.

Serius Tekuni Pertanian

Ukri adalah anak pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Masdi (Ayah) dan alm Zubaidah (Ibu). Walaupun ayahnya seorang petani kecil, namun dimasa kanak kanak bila bermain selalu dijaga dan dimanja. Karena ia anak sekaligus cucu pertama. “Waktu masih bayi, saya diasuh oleh nenek dan waktu kecil bicara sudah bijak suka bertanya ini dan itu," paparnya.

Ukri kemudian memaparkan bagaimana dirinya bisa terpilih program magang ke Thailand beberapa waktu silam. Semenjak lulus dari SMK, Ukri melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Aceh, Universitas Abulyatama. "Memilih pertanian Unaya agar nanti selain bisa membuka peluang usaha di bidang pertanian juga bisa membantu orang banyak," tuturnya.

Selama berkuliah, dirinya menunjukkan minat serius pada pertanian. Seperti yang diungkapkan Dekan Fakultas Pertanian Unaya Elvrida Rosa, Ukri selalu menunjukkan bakat dan semangat yang tangguh, baik dalam melakukan tugas praktek dan mengembangkan pertanian hidroponik binaan Kampus Unaya. 

"Untuk itu, kami usulkan dia bersama dua temannya untuk ikut program magang petani milenial ke Songkhla, Thailand," tutur Elvrida.

Selain aktif dikampus ia juga membina masyarakat kota di beberapa gampong/desa dan sekolah, mengenai teknik budidaya hidroponik dengan memamfaatkan perkarangan rumah. Tidak hanya itu, ia juga membantu memasarkan hasil produksinya dengan kerja sama fakultas pertanian Unaya dan Diatanbun Aceh. "Semua desa dan kelompok tani (KWT) binaannya diberi nama Ponic Natural," bebernya. 

Selama itu pula ia banyak terlibat di beberapa gampong/desa binaan Unaya di Kota Banda Aceh diantaranya, Gampong Lambhuk, Lamteh, Pango dan Gampong Ateuk Pahlawan, bahkan menjadi dosen pembimbing lapangan mahasiswa praktek (FP Unsyiah Banda Aceh dan FP Unimal, Lhokseumawe.  

Semasa duduk dibangku kuliah, Ia melihat potensi budidaya tanaman hidroponik ini sangat menarik dan mengusulkan Praktek Lapang tentang hidroponik, dan disetujui oleh pembimbingnya. 

Dari tiga mahasiswa yang praktek bidang hidroponik saat itu, ia memilih judul Teknik Budidaya Tanaman Kangkung dengan Sistem Hidroponik Sederhana”. Hasilnya ketiga mahasiswa mendapatkan hasil yang bagus sesuai dengan jenis tanaman masing-masing. 

Merasa tidak puas dengan hasil prakteknya, selanjutnya Ia mengusulkan ke pihak Prodi untuk dikembangkan skala produksi sayuran hidroponik 100 persen yang bebas pestisida. "Alhamdulilah gayung bersambut, pihak akademik memberikan respon sangat positif," kenangnya saat itu.

Langkah selanjutnya ia mengajak timnya  menanam untuk pengembangan skala produksi dengan jumlah unitnya yang relatif terbatas. Walaupun begitu ia bersama temannya sangat serius dalam mengembangkan sayuran hidroponik karena mendapat dukungan penuh Ketua Prodi Agroteknologi saat itu. 

"Hasil panen perdana, kami jual dengan harga per batang Rp. 5.000 dengan jenis sayuran sawi dan pakcoy, dan pemasaran pertama waktu itu dijual kepada para dosen di kalangan kampus," bebernya.

Ia semakin termotivasi hasil jual sayuran hidroponik mendapat pujian dan apresiasi, banyak dosen yang kagum terhadap sistem budidayanya. Karena mereka lihat sayuran bersih dan bebas hama dan  penyakit. 

Bahkan, untuk mendapatkan sayuran sehat tersebut, para dosen sudah order  walaun belum saatnya panen. “Para dosen sudah memesan sayuran duluan takut kehabisan dan tidak dapat bagian karena produksi kami masih sedikit," kenangnya.

Disela kesibukan masa kuliahnya, ia juga aktif berorganisasi, menurut dia semakin banyak teman, maka akan menambah wawasan dan pola fikir. Tak pelak lagi saat duduk di semester lima  ia dicalonkan teman temannya dan terpilih menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM-FP) periode 2015/2016.

Terus Termotivasi

Disaat menjelang akhir kuliah tepatnya smester tujuh, ibunda tercinta yang selalu menyayanginya selama ini kini meninggalkannya untuk selama-lamanya. Jiwa dan raganya sempat goyah dan sangat terpukul. "Saya merasa kehilangan orang sangat dekat dengan saya, yang selalu mendukung dengan sejuta nasihat. Ibunda, tidak pernah jenuh memberikan motivasi dan semangat dalam belajar. Karena saya kuliah sambil bekerja agar bisa mendapatkan jajan dan membantu SPP dan membeli buku kuliah," ungkapnya terbata-bata. 

Bahkan ia sempat ingin berhenti kuliah, namun dari doa yang ia panjatkan, Allah memberikan jalan dan mengingatkan kembali nasihat ibunda. Kalau selesai kuliah nanti jangan sombong dan tinggi hati ya Nak..."Ingatlah adik adikmu dan jika kamu sukses, bisa bantu mereka dan bermanfaat untuk orang lain", tuturnya penuh haru. 

Mulai saat itulah semangat hidupnya kembali bangkit dan mencoba untuk sadar lagi agar bisa selesaikan kuliah dan berbagi ilmu kepada orang walupun hanya sedikit. Itulah prinsip hidupnya yang membuat dia berani menghadapi arti kehidupan. 

Melalui dekan Fakultas Pertanian Unaya Ia mulai dilibatkan diberbagai kegiatan selain membina gampong/desa hidroponik, kerjasama dengan BPTP Aceh juga dengan Dinas pertanian dan Perkebunan Aceh. 

Salah satu kegiatan besar berskala nasional dia pernah  menjadi info guide pada kegiatan PENAS 2017 dan kegiatan lainnya seperti uji padi varietas unggul baru bersama peneliti BPTP Aceh. "Pada kegitan ini saya banyak mendapat manfaat baik itu dari segi ilmu dan pengalaman lapangan dalam membina masyarakat di bidang pertanian. Salah satu pembina kami di lapangan dalam pendampingan masyarakattani yaitu Bapak Abdul Azis, peneliti di BPTP- Aceh," paparnya. 

Selesai kuliah pada tahun 2018 dirinya membantu di kampus dan aktif di Laboratorium Gakultas pertanian dalam membimbing adik-adik kelasnya selama di fakultas dalam bercocok tanam hidroponik dan pemasaran hasilnya, salah satu pemasaran hasil dari produksi hidroponik sampai sekarang pada program Dinas Pertanian Aceh yaitu Pasar Tani Aceh. 

 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018