Thursday, 02 July 2020


Kisah Asep Kurnia, Petani Milenial Sukses Budidaya Rosemary

01 Jun 2020, 19:36 WIBEditor : Gesha

Asep Kurnia (kiri) bersama Raisa yang tengah berkunjung ke Cimenyan | Sumber Foto:Pribadi

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Bertanam Rosemary maupun tanamam herbal khas Eropa lainnya di tanah Indonesia itu susah-susah gampang. Tapi bagi petani milenial asal Kampung Cibengang, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung ini berhasil mengembangkannya bahkan mengolah menjadi beragam minuman segar di kafe andalannya, Warung Langit. 

Jika berkunjung ke Kampung Cibegang, pasti Anda akan takjub karena di tanah tersebut mampu tumbuh subur aneka tanaman herbal dari Eropa. Sebut saja tanaman rosemary, oregano, basil, mint, lemon balm, thyme, majoram, dan parsley yang mampu tumbuh seperti semak dan pagar tanaman di antara hamparan kebun sayuran organik.

Suburnya tanaman herbal dan menjadi bumbu penting dalam hidangan Eropa tersebut tidam terlepas dari peranan Koordinator Kelompok Tani Cipta Mandiri, Asep Kurnia. "Kami fokus di tanaman organik, sejak tahun 2006. Tapi melihat peluang tanaman herbal Eropa ini yang bagus, kami coba tanam dengan tumpang sari sejak tahun 2012. Dan hasilnya sangat memuaskan," bebernya.

Tanaman herbal ini ditanam di lahan seluas dua hektare sebagai tanaman pembatas sela-sela petak sayuran organik. Pola tersebut bukan tanpa maksud. Tanaman herbal ini juga berfungsi sebagai pengusir hama alami yang melindungi sayuran-sayuran organik yang mereka tanam.

Dirinya bertanam aneka tanaman herbal ini dari biji dan diperbanyak dengan metode stek. Mengenai peluang, Asep mengaku, kini banyak restoran di Bandung yang menyajikan hidangan luar negeri yang membutuhkan bumbu ini. "Biasanya mereka impor, tapi lama dan mahal. Begitu saya tawarkan hasil budidaya saya mereka tertarik dan kerjasama untuk pasok bumbu kesana," jelasnya.

Dalam seminggu, mereka menjual sekitar empat kilogram tanaman herbal. Angka ini dinilai besar karena biasanya setiap tanaman ini dijual antara 25 sampai 50 gram per kemasan di supermarket. Tanaman herbal ini memiliki rasa yang kuat walau sebagian disajikan dalam bentuk kering.

"Kami baru bisa memenuhi pesanan dari Bandung. Sebagian dijual kepada distributor yang nantinya menjualnya ke supermarket. Makin banyak juga masyarakat yang menggunakan herbal ini, terutama restoran dan kafe," katanya.

Tanaman herbal di kebunnya, kata Asep, memiliki kualitas yang sama dengan yang ditanam di negara asalnya. Bahkan beberapa pengusaha kuliner menyatakan herbal yang ditanam di dataran tinggi Kabupaten Bandung ini memiliki rasa dan aroma lebih baik karena mendapat nutrisi dan sinar matahari yang cukup.

Warung Langit

Selain dijual ke kafe dan restoran, Asep mengaku mengolah aneka tanamam herbal tersebut menjadi minuman segar yang biasa disajikan di warung miliknya, Warung Langit. 

Beberapa daftar makanan di menu adalah hasil kreasi Asep sendiri. Bahan-bahannya langsung dari hasil kebun sendiri sehingga lebih segar dan sehat seperti lemon mint, peppermint and rosemarry tea.

Tempat makan ini layaknya cafe dengan bahan bangunan sebagian besar dari kayu dan bambu ini dikelilingi kebun sayuran dan rempah organik. Cafe ini memiliki view Kota Bandung dari ketinggian perbukitan Dago Pakar.

Salah satu menu favorit di tempat ini adalah bala-bala bayam. Bahan baku yang digunakan adalah lembaran daun bayam yang dipetik segar dari kebun di sekitar Warung Langit. Uniknya, bala-bala ini digoreng menggunakan minyak kelapa, bukan minyak kelapa sawit.

Asep menekankan hal terpenting yang disampaikan kepada para pengunjung melalui menu-menu yang disajikan adalah pentingnya makanan dan minuman sehat. Asupan tubuh yang sehat ini di antaranya adalah berasal dari kebun organik yang tidak menggunakan bahan kimia selama proses penanamannya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018