Thursday, 02 July 2020


Sarjana Aceh Tamiang ini Fokus Tanam Sayuran Hidroponik

08 Jun 2020, 10:16 WIBEditor : Gesha

Obi dan tanaman hidroponik | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang --- Bermula dari hobi dan kecintaannya terhadap dunia pertanian, Muhammad Al Faraby alias Obi (24 tahun) yang juga sarjana kesehatan masyarakat nekat terjun menjadi petani milenial hidroponik. Dirinya menggeluti hobi tersebut di pekarangan rumahnya, desa Medang Ara, kecamatan Karang Baru. Lokasinyapun sangat strategis tepat di tepi jalan raya menuju kota Kualasimpang, Aceh Tamiang. 

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dan berayahkan pegawai Pemkab dan ibu seorang perawat, Obi memiliki kemandirian dan kepribadian yang penuh tanggung jawab. 

Sarjana kesehatan masyarakat di salah satu perguruan tinggi negeri kota Medan ini, sejak kecil hingga menamatkan kuliahnya sama sekali tidak pernah tertarik bercocok tanam, alasannya karena kotor dan berlumpur. Setelah tamat kuliah ia sempat bekerja di salah satu perusahaan BUMN. 

Namun seiring berjalannya waktu dan suka menonton YouTube tentang Hidroponik, dirinya pun menjadi penasaran, "Bagaimana mungkin sayuran yang biasanya tumbuh di tanah, tapi bisa hidup tanpa tanah dan tumbuh subur di dalam air," tuturnya.

Di akhir tahun 2018, dengan modal seadanya ia mencoba tanaman hidroponik memanfaatkan barang barang bekas seperti botol minuman mineral, keranjang dan box buah. Namun beberapa kali percobaannya itu tak membuahkan hasil dan mengalami kegagalan total. 

Sebagai pemuda yang berjiwa besar, Obi tak patah semangat dan terus mencoba seraya memperbaiki kesalahan yang menyebabkan kegagalan. Alhamdulillah berkat perjuangan dan doanya, ia menjadi sosok pemuda berhasil dan mendapat apresiasi dari orang-orang sekitarnya. Sankin senangnya sayuran hasil panen waktu itu, selain dikonsumsi juga dibagikan untuk saudara dan tetangganya.

"Setelah banyak warga dan masyarakat yang menyukai sayuran hidroponik, barulah saya putuskan untuk mencoba dengan peralatan yang lebih modern", bebernya. 

Ia pun mulai dikenal, bahkan tidak jarang ia diundang untuk menjadi narasumber dan memberikan pelatihan kepada para siswa hingga mahasiswa baik di Aceh Tamiang dan beberapa sekolah di Aceh Timur dan Kota Langsa. "Selain di beberapa sekolah dan perkantoran ada juga diundang anggota DPRK Aceh Tamiang," tuturnya. Pengalamannya tersebut ia posting di akun Instagram miliknya @AcehHidroponik. 

Dari Instagram itu ia semakin dikenal meluas, tidak hanya diundang sebagai narasumber saja, tetapi masyarakat dan beberapa kantor pemerintahpun meminta kesediaannya merangkai dan memasang instalasi hidroponik. "Lebih dari tiga puluh unit instalasi hidroponik yang sudah saya pasang, baik di rumah warga, sekolah perkantoran pemerintah maupun swasta," ungkapnya bangga.

Sebagai seorang sarjana dirinya pun menyusun rencana dan strategi pemasaran yang unik dan sangat efektif tanpa harus menjajakannya ke pasar. Karena pembeli berdatangan ke rumahnya. 

Kini usahanya telah memiliki ribuan lubang tanaman hidroponik dirumahnya dengan berbagai macam jenis sayuran sehat (bebas pestisida), seperti bayam, kangkung, selada dan sawi-sawian. "Dan sekarang dalam proses pembuatan greenhouse," ujarnya penuh semangat.  

Budikdamber

Sejalan dengan perkembangan teknologi dirinya memelihara ikan dalam Ember (Budikdamber). Selain ada ikan, diatasnya ditanami sayuran kangkung dengan menganut konsep 2-1. "Hasil ikannya dan sayuran yang dipanen dapat membantu ekonomi dan gizi keluarga," katanya. 

Menurutnya, teknologi Budikdamber juga sudah pernah dilakukan pelatihan ke beberapa desa dan kecamatan, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK, Kabupaten Aceh Tamiang. 

Dengan hadirnya teknologi Budikdamber sebagai inovasi baru, kata Obi, kini semakin bertambah jumlah masyarakat yang berminat dan penasaran ingin membeli serta melihat secara langsung. "Karena tidak perlu menggunakan lahan dan modal yang besar," katanya. 

Tak pelak lagi, setiap minggu ada saja tamu yang datang, baik perorangan maupun kelompok, dari guru, dosen mahasiswa sampai ke anak TK. Saat itu terbukti, tidak kurang 80 mahasiswa dan dosen fakultas Matematika Universitas Samudera (UNSAM) melakukan studi banding dengan pola Sekolah Lapang. Dengan gagah dan penuh percaya diri bak seorang dosen kawakan ia memaparkan manfaat dan peluang agribisnis tanaman hidroponik. 

Ketika ditanya berapa honor yang dibayar untuk sharing pengalaman dan wawasan tentang teknologi hidroponik, ia malah tertawa sambil menjawab, saya hanya berbagi ilmu bagi orang yang membutuhkannya dan tidak pernah memasang tarif khusus kepada siapa saja yang ingin belajar. Bagi setiap tamu dan pengunjung yang datang diberikan air mineral secara gratis. 

Usai memberikan pelatihan para pengunjung diperkenankan meninjau dan memetik sendiri sayuran hidroponik. Pengunjung pun senang dan gembira sambil memetik sayuran menyempatkan diri berswafoto. Dibantu dua pekerja, sayuran tersebut ditimbang dan bagi yang ingin membayar tidak diberikan label khusus, cukup bayar seikhlasnya. 

“Semoga dengan ini semua dapat mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan serta pemenuhan gizi masyarakat di Aceh Tamiang dan wilayah Aceh pada umumnya,” pungkas Obi.

Reporter : Abdul Azis
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018