Tuesday, 14 July 2020


Wageono, Dedikasikan Hidupnya untuk Vanili

24 Jun 2020, 17:57 WIBEditor : Indarto

Kebun bibit vanili | Sumber Foto:Dok. Istimewa

Vanili yang dibudidaya Wageono di Cisaat seluas 2 ha pada Juni 2017 tumbuh dengan subur. Bahkan, vanili yang ditanam sebanyak 4.000 batang tersebut pada April 2019 sudah menghasilkan (berbuah).

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Usia tak menghalangi seseorang untuk menekuni usaha perkebunan. Berbekal pengalaman ketika masih mengelola kebun vanili puluhan tahun silam, akhirnya mendorong Wageono (77) untuk mengembangkan budidaya vanili di Cisaat, Sukabumi dan pembibitan vanili di Cijeruk, Bogor.

Vanili yang dibudidaya Wageono di Cisaat seluas 2 ha pada Juni 2017 tumbuh dengan subur. Bahkan, vanili yang ditanam sebanyak 4.000 batang tersebut pada April 2019 sudah menghasilkan (berbuah). Produksinya pun cukup bagus, 60 kg (kering).

Wageono yang akrab disapa Nono ini menuturkan,  vanili yang sudah dikeringkan dari kebunnnya dijual ke salah satu perusahaan di Bandung dengan harga Rp 6 juta per kg. Apabila dikalkulasi, pada panen perdana tersebut, Nono sudah mampu meraup untung (kotor) sekitar Rp 360 juta.

" Dari panen perdana ini sudah ketutup pengeluaran. Ya sudah BEP," ujar Nono, di Jakarta, Rabu (24/6).

Sesuai pengalamannya pada saat mengelola budidaya vanili di Jember, Jawa Timur (Jatim) tahun 1968 silam, vanili yang ditanam pada tahun pertama masih belajar berbunga. Nah, pada tahun kedua, vanili baru menghasilkan.

" Apabila dirawat dengan baik, vanili masih mampu menghasilkan buah hingga usia 20 tahun," kata alumni Fak.Ekonomi Perusahaan UGM ini.

Bapak dua anak ini mengatakan, tanaman vanili mulai berbuah pada tahun ketiga setelah tanam. Bahkan, pada tahun ke 4-8 produksi buah vanili yang ditanan rata-rata meningkat 2 kali lipat. " Setelah itu, produksi vanili mulai menurun dan siap diremajakan dengan cara memotong cabang dan batang bagian atas supaya cabangnya banyak," jelasnya.

Menurut Nono, karena hanya satu kali tanam, maka bibit vanili yang akan ditanam harus bibit unggul yang sesuai lokasi lahan. Apabila bibitnya berkualitas, pada tahun ketiga tanam, 1 pokok tanaman vanili mampu menghasilkan buah rata-rata 1 kg. Artinya, apabila 1 ha ditanami vanili sebanyak 4.000 batang, petani akan menghasilkan vanili sebanyak 4 ton (basah).

"Agar petani dapat nilai tambah, vanili yang dipanen bisa dikeringkan sendiri," ujarnya.

Setiap 6 kg vanili basah, apabila sudah dikeringkan setara dengan 1 kg vanili kering. Sehingga, kalau dikalkulasi, petani yang tanam 4.000 pohon akan mendapatkan vanili kering sekitar 400 kg.

"Kalau harganya Rp 2 juta (kering), petani akan mendapat nilai tambah yang signifikan," kata kakek dua cucu ini.

Kembangkan Bibit Vanili di Cijeruk

Meski usianya tak muda lagi, Nono punya cita-cita dan harapan agar masyarakat Cijeruk hidupnya lebih sejahtera. Dengan berbekal pengalamannya ketika masih muda, ia bertekad mengembangkan pembibitan di lahan miliknya seluas 2 ha di Cijeruk, Bogor.

" Nantinya, masyarakat sekitar bisa memanfaatkan bibit unggul vanili yang saya kembangkan dan di tanam di halaman atau kebunnya. Sebab, masyarakat di sini suka berkebun (tanam tanaman hias), sehingga akan lebih mudah mengadopsinya," kata Nono.

Menurut Nono, di lahan seluas 2 ha itu sudah dikembangkan bibit vanili unggul varietas lokal sebanyak 2.000 batang. Bibit vanili yang dikembangkan di Cijeruk ini dilakukan dengan sistem stek dan di tanam di polybag.

"Biasanya yang distek itu dua ruas. Tapi saya memanfaatkan protokol  Bio Fob dengan stek 1 ruas," ujarnya.

Kelebihan stek 1 ruas, kata Nono, bibit vanili lebih sehat dan jumlah bibit yang dikembangkan lebih banyak. Tanaman juga jauh lebih bugar dan bebas busuk batang.

" Daya tumbuhnya juga kuat. Hal ini sudah dibuktikan dengan membudidayakannya di Cisaat. Bibit vanili yang saya tanam pun sudah berbuah," paparnya.

Nono mengaku, pada awalnya pembibitan ini untuk cadangan bibit vanili yang akan ditanam di kebunnya di Cisaat. Namun, seiring waktu Nono berencana menjualnya ke masyarakat, khususnya masyarakat sekitar.

Bibit vanili ini akan dijual dengan harga Rp 12.500- Rp 20.000 per batang.  " Yang sudah tumbuh dua daun harganya Rp 12.500 per batang dan yang pohonnya jumlah daunnya 5 buah ke atas dengan harga Rp 20.000 per batang," katanya.

Menurut Nono, proses pembibitan dilakukan di polybag selama 2-3 bulan. Setelah tumbuh daun sebanyak 4-5 buah, bibit vanili sudah siap dipindahkan ke kebun.

" Dari hari H penanaman, setelah 24 bulan tanaman sudah mulai berbunga. Bahkan di Cisaat pada usia 19 bulan sudah berbunga," ujarnya.

Menurut Nono, setelah bunga vanili dikawinkan, 7-8 bulan berikutnya petani bisa panen vanili. " Kalau di dataran rendah, setelah bunganya dikawinkan, pada usia 7 bulan petani sudah bisa panen. Tapi, kalau di dataran tinggi bisa sampai  1 tahun," pungkasnya. 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018