Saturday, 15 August 2020


Hendra Kurnia, Mengubah Image Jakarta dengan Urban Farming

13 Jul 2020, 13:47 WIBEditor : Yulianto

Hendar di depan rumahnya sedang merawat tanaman sayuran | Sumber Foto:Hendra

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kesibukan warga Ibukota Negara, DKI Jakarta, kadang membuat mereka lupa terhadap lingkungan. Namun di tengah bising Kota Metropolitan, tetap masih ada orang yang peduli terhadap lingkungan.

Salah satuunya, Hendra Kurnia Harasjid. Kesan Kota Jakarta yang gersang dan penduduknya yang dianggap kurang peduli lingkungan, menggugahnya untuk mengubah image tersebut. “Saya ingin mengubah image pandangan orang tentang Jakarta yang di bilang kota gersang dan tidak ada kepedulian,” ujarnya di Jakarta, Jum’at (10/7)

Hasrat mengubah image tersebut muncul saat dirinya masih menjadi  karyawan  sebuah perusahaan otomotif. Dimulai dengan menghijaukan pekarangan, lalu bergeser bertanam di atas saluran air di depan rumahnya.

Dari aktivitas yang terbilang kecil tersebut, Hendra kemudian berpikir untuk menghijaukan lingkungan sekitar wilayahnya. Ia pun mulai memikirkan cara agar dengan lahan seadanya warga Jakarta masih bisa bertani. 

Berbekal informasi tentang bertani di perkotaan dari komunitas Belajar Bareng Hidroponik  (BBHO) di jejaring sosial, Hendra yang menyandang Duta Pertanian Perkotaan DKI Jakarta tahun 2017, melakukan pendekatan ke masyarakat untuk melakukan urban farming. Ia tak lelah dengan memberikan contoh ke warga sekitar lingkungan rumahnya mengenai teknik semai, perawatan hingga panen. 

BBHO ini menurut Hendra, awalnya hanya kumpulan pegiat pertanian yang ada di sosial media  yang akhirnya sering  mengadakan  pertemuan dan seminar. Anggotanya komunitas umum dan kelompok tani seluruh Indonesia.

Cara pendekatan kepada warga sekitar berhasil meyakinkan warga bahwa mengonsumsi hasil menanam sendiri lebih terjamin keamanannya dan  lingkungan menjadi  lebih sehat.  Bahkan aktivitas urban farming menjadi program  unggulan RT dan RW untuk lingkungan berketahanan pangan tingkat kecamatan.

Saat ini tidak hanya pekarangan, Hendra juga menyulap atap rumah (roof top) menjadi kebun atap. Sedangkan pagar rumah menjadi taman vertikal. Bahkan di lantai tiga kediamannya seluas 7 x 15 meter persegi kini berubah menjadi kebun sayur.

Beberapa jenis tanaman sayur yang ditanami adalah lettuce (selada), red lettuce, kangkung, bayam dan kemangi. Tanaman tersebut yang ditanam secara hidroponik, aquaponik dan vertiminaponik. Ada juga yang masih konvensional.

Urban farming  yang diusung Hendra kini terus meluas dan membawa Jakarta lebih hijau dengan pertanian. Ia pun menjadi  pelopor dan champion awal urban farming di Jakarta yang mengundang  banyak masyarakat  berkunjung untuk belajar.

Dirikan P4S Harmani

Apa yang Hendra lakukan itu kemudian membuat Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPPKP) Provinsi DKI Jakarta meliriknya sebagai penyuluh swadaya. Hal ini pula yang mendasarinya mendirikan Pusat pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Harmani (Harapan Masyarakat Cikini) di Menteng Jakarta Pusat.

P4S Harmani yang dikelolanya kerap melakukan sejumlah edukasi, seperti  penyuluhan pertanian, pelatihan urban farming, menerima kunjungan, Praktek Kerja Lapangan anak sekolah SMK, magang skripsi mahasiswa, serta kunjungan masyarakat umum.

Bahkan pengakuan Hendra, secara rutin P4S ini mendapat kunjungan mahasiswa dunia yang tergabung dalam AIESEC. AIESEC merupakan organisasi yang dikelola pemuda terbesar di dunia yang berbasis di 126 negara,” katanya.

Hendra kini tengah mengembangkan bertanam sayuran dan kebun tanaman hias di bawah rel kereta api perbatasan antara Kelurahan Cikini dan Gondangdia, Kecamatan Menteng. Berkolaborasi dengan RW setempat, kebun tanaman hias akan disulap menjadi pusat bermain.

“Untuk tanaman sayuran masih dalam pengembangan. Jadi masih bertahap belum maksimal. Tanaman sayuran baru tiga rak hydroponik, dan kami juga ingin mengembangkan aquaponik. Kalau kebun tanaman hiasnya sudah bagus dan sudah jadi pusat bermain,” tuturnya.

Seperti diketahui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus menghimbau agar masyarakat memanfaatkan lahan kosong agar produktif sebagai sumber pangan untuk penopang ketahanan pangan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi juga mengingatkan bahwa ketahanan pangan bukan saja tentang kecukupan bahan pangan. Namun juga menyangkut kemampuan memproduksi sendiri bahan pangan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada diantaranya pemanfaatan pekarangan.

 

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018