Sunday, 09 August 2020


Fadel Muhammad: Tiga PR Pemerintah untuk Keluar dari Krisis Ekonomi

17 Jul 2020, 09:05 WIBEditor : Yulianto

Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad | Sumber Foto:julian

"Ketiga hal ini kita minta pemerintah harus segera menyelesaikan. Jangan diam, jangan bingung menghadapai keadaan ini. Tanpa ini sangat sulit kita keluar dari krisis ekonomi"

TABLOIDSINARTANI.COM, Serang---Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak pada persoalan kesehatan, tapi juga berimbas pada lesunya perekonomian Indonesia. Jika pemerintah tidak segera bergerak, maka Indonesia akan masuk dalam resesi ekonomi, bahkan juga krisis pangan.

Kegundahan terhadap kondisi perekonomian yang tengah lesu dirasakan Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad. Bukan hanya Indonesia yang mengalami lesunya perekonomian, Fadel juga melihat dunia pun mengalami hal yang saat akibat dampak Covid-19 ini.

Keadaan saat ini sangat berat. Hampir 300 juta orang di seluruh dunia tidak mempunyai pekerjaaan. Di Indonesia juga cukup besar yang kehilangan pendapatan.  Daya beli masyarakat dari hasil penelitian juga turun drastis,” tuturnya.

Karena itu, mantan Gubernur Gorontalo itu meminta pemerintah segera melakukan tiga hal agar bangsa Indonesia bisa melepaskan diri dari krisis ekonomi. Pertama, membuat ekonomi Indonesia likuid, terutama di perbankan. Saat ini uang tidak bisa keluar dari perbankan, sehingga menyulitkan bagi pihak yang sudah memiliki dan akan melakukan pinjaman.

“Likuiditas ini sangat penting, OJK dan BI supaya bekerja. Bangun dari tidur, jangan tidur terus. Pemerintah harus segera membuat gerakan,” katanya usai membuka Forum Grup Diskusi (FGD) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) di Serang, Kamis (16/7).

Kedua lanjut mantan Ketua Komisi 11 DPR RI ini, mengenai KTA (Kredit Tanpa Agunan). Saat ini ada sekitar 10 juta petani yang memanfaatkan pinjaman KTA yang dananya sekitar Rp 142 triliun.  

“Sekarang petani kesulitan, karena sekarang perbankan menerapkan peraturan yang ketat. Kalau boleh ada kelonggaran atau relaksasi dalam hal ini, karena banyak petani yang memakai KTA,” katanya.

Karan itu agar kegiatan usaha tani tetap berjalan, Fadel mengusulkan, agar pemerintah menerapkan KTA kepada petani dengan bunga nol persen. KTA merupakan mekanisme pinjaman untuk rakyat kecil, khususnya petani yang dibentuk saat dirinya masih menjadi Ketua Komisi 11 DPR RI.  “Karena perbankan menerapkan peraturan yang sangat ketat, rakyat kesulitan mendapatkan KTA itu. Kalau bisa bunga kreditnya nol persen, bukan 1 atau 2 persen,” ujarnya.

Bahkan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang saat ini sudah berjalan, Fadel juga mengusulkan agar pemerintah menurunkan suku bunganya menjadi 1-2 persen saja dari sebelumnya 6 persen. “KUR itu di atas KTA. Saya minta bungan 1-2 persen. Kemarin saya bicara dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani akan berikan 3 persen di atas KTA,” katanya.

Ketiga, ungkap Fadel, kondisi UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) yang kini kondisinya juga tidak baik, karena perbankan terlalu ketat menerapan peraturan dalam pinjaman. Akibatnya, banyak UMKM yang tidak berjalan.

“Ketiga hal ini kita minta pemerintah harus segera menyelesaikan. Jangan diam, jangan bingung menghadapai keadaan ini. Tanpa ini sangat sulit kita keluar dari krisis ekonomi,” tegasnya.

Krisis Pangan Mengancam

Fadel mengakui, pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan saat krisis ekonomi akibat pendemi Covid-19. Namun jika tidak ada stimulus dari pemerintah, maka akan terkena juga dampaknya.  Bahkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan juga mengkhawatirkan dampak krisis ekonomi ini juga menyebabkan krisis pangan.

“Saya melihat kita tidak boleh terlalu optimis. Hanya satu dari semua sektor yang saat ini berjalan bagus yaitu pertanian. Tapi saya juga khawatir, kalau dana untuk petani dan pertanian tidak terealisasi, kita akan kesulitan tahun depan,” tuturnya.

Untuk saat ini Fadel mengatakan, memang sektor pertanian masih berjalan. Namun jika, pihak perbankan tidak mengeluarkan dana untuk kredit di sektor pertanian, maka dampaknya akan terasa pada kuartal pertama tahun depan.

“Saya bicara dengan Menteri Pertanian. Dia itu teman saya, mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini juga ketakutan kalau kita tidak mengambil langkah-langkah,” katanya. Karena itu Fadel mendesak agar perbankan  harus segera membantu  supaya kegiatan ekonomi bisa berjalan, termasuk di sektor pertanian.  

Selain faktor permodalan, Fadel mengatakan, peran penyuluh pertanian masih menjadi ujung tombak pembangunan pertanian. Bahkan saat menjadi Gubernur Gorontalo dirinyan mengakui keberhasilan meningkatkan produksi jagung salah satunya karena peran penyuluhan yang memberikan pendampingan kepada petani.

Penyuluh itu penting, rakyat petani dan nelayan tidak pintar, mereka perlu bimbingan,” tegasnya. Karena itu Fadel merekrut 300 mahasiswa yang baru lulus kuliah untuk membimbing petani.

Dampaknya sangat terasa dengan bimbingan, produktivitas jagung naik dari 4 ton menjadi 6 ton/ha pada tahun pertama, kemudian pada tahun kedua naik lagi menjadi 8 ton/ha. “Produksi naik dengan cepat. Apa yang terjadi dalam dua tahun mereka sudah bisa beli motor. Intinya apa, penyuluh penting. Kenaikan luar biasa, kata kunci adalah penyuluhan,” tuturnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018