Sunday, 09 August 2020


Produksi Pupuk Organik, Hendra Kurnia Budidayakan Maggot di Kolong Rel KA

21 Jul 2020, 13:58 WIBEditor : Yulianto

Hendra dengan pertanian organiknya | Sumber Foto:Regi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bagi penggiat urban farming di Ibukota Negara, DKI Jakarta, mungkin mengenal sosok Hendra Kurnia Harasjid. Sebagai Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Harmani, Hendra memang dikenal sebagai pegiat pertanian kota yang bertekad mengubah image ibukota yang terkesan gersang.

Hendra yang mengembangkan urban farming dengan sistem organik ini menilai, pertanian organik tidak hanya bernilai ekonomis tinggi dan sehat,  tapi juga dapat memperbaiki ekosistem yang kian rusak terpapar bahan sintetik atau kimiawi seperti pestisida.

Hal ini membuat meningkatnya permintaan pupuk organik. Selain pupuk kandang, kini limbah bekas media budidaya maggot populer dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Hendra pun kini getol membudidayakan maggot di kolong rel kereta api.

Hendra mengatakan, pakan maggot berupa limbah organik diperoleh dari warga melalui Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Dari luas lahan pembesaran maggot 50 meter persegi yang dikelola ada enam biofon pembesaran.

Satu biofon kurang lebih  30-50 kg maggot per dua minggu bisa menghasilkan maggot sekitar 300 kg maggot dan hasil pupuknya (limbah maggot) 100-200 kg. Limbah maggot ini dijual per kemasan 5 kg dengan harga Rp 10–15 ribu.

Hendra mengatakan, proses mendapat pupuk dari maggot lebih cepat dan kandungannya lebih  baik dari pupuk kompos biasa. Sebab, sisa limbah organik atau dikenal dengan limbah maggot kaya akan asam amino, enzim, mikroorganisme dan hormon yang tidak ditemukan pada pupuk organik lainnya, sehingga membuat tanaman lebih subur.

“Sisa panen atau kotoran maggot sebagai pupuk organik sama seperti kompos, namun kandungannya lebih bagus. Cantohnya, hasil panen bayam, batangnya bisa lebih besar dan daunnya lebih subur,” tuturnya.

Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF. Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, limbahnya yakni sampah organik yang tidak termakan maggot, bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik. 

Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau. Maggot juga mempunyai nilai ekonomis sebagai sumber pakan ternak unggas dan ternak ikan.

“Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot  tidak berbau, sehingga  sangat cocok untuk pertanian organik di pekarangan. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan untuk peternakan dan ikan dan pupuk berbahan kimia, ungkapnya. Sementara untuk sistem tanam aquaponik, maggot bisa untuk pakan ikan. Selanjutnya kotoran ikan untuk sumbergizi tanaman.

Sementara itu dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengharapkan dalam jangka panjang petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik. Bahkan SYL yakin pupuk organik bisa makin menguntungkan, karena hasil pertanian non pestisida kualitasnya lebih bagus, sehingga pasarnyapun bisa lebih besar.

Terkait dasar hukum yang digunakan untuk pendaftaran pupuk dan pembenah tanah di Indonesia Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan Kementerian Pertanian telah menyiapkan dasar hukum yakni Permentan No. 01/2019 untuk Pupuk Organik, Pupuk hayati dan Pembenah Tanah.

Permentan ini  mengatur tentang persyaratan utama yang harus dipenuhi, yakni  uji mutu dan uji efektivitas sesuai dengan jenis pupuk yang didaftarkan, Hal ini bertujuan untuk melindungi petani.

 

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018