Saturday, 15 August 2020


Munzir Terapkan Ilmu Kuliah di Kebun, Dongkrak Produksi Kopi

30 Jul 2020, 12:09 WIBEditor : Gesha

Munzir | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar --- Siapa bilang kuliah itu hanya untuk jadi pegawai?Berbekal keinginan besarnya mengubah hidup dan pendapatan di masa depan, salah satu lulusan sarjana muda Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini berhasil menerapkan ilmunya langsung di kebun kopi.

Berasal dari keluarga petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, Munzir tak butuh waktu lama untuk memilih kampus meneruskan pendidikan, setamat SMA tahun 2013 silam, dirinya melanjutkan kuliah di D3 Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Munzir mengaku tak pernah kesulitan menempuh pendidikan, semua ilmu dilahapnya dengan mudah. Cita-citanya untuk menerapkan ilmu pertanian di kebun kopi milik keluarganya, membuatnya selalu semangat kuliah. “Saat kuliah, sama sekali tidak kesulitan dalam mata pelajaran,” kata Munzir.

Pemuda kelahiran 25 Agustus 1994 itu, tak langsung terjun ke kebun saat tamat pendidikan sarjana muda pada 10 Agustus 2016. Dia sempat setahun bekerja di salah satu café di Banda Aceh. Café itu menjual produk utama, kopi gayo, yang dikenal sebagai produk pertanian unggulan dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.

Setahun wara wiri di Banda Aceh, Munzir pulang kampung untuk mengaplikasi ilmunya di kebun kopi keluarga. “Ada sekitar 2 hektar, itu yang saya kembangkan bersama orangtua,” katanya.

Salah satu ilmu yang diterapkan di kebun adalah pemupukan secara teratur. Alhasil, kebunnya mampu meningkatkan produksi dari biasanya. “Itu salah satu ilmu kuliah yang saya terapkan di kebun,” jelasnya.

Perlahan, Munzir mulai menapaki sukses sebagai pemilik sekaligus pengelola kebun kopi. Dia tak susah menjualnya, karena kebun mereka ditampung di tempat pengelohan kopi milik saudaranya.

Mimpi Munzir belum berakhir. Saat ini, alumni D3 Manajemen Agribisnis sedang berusaha untuk mempunyai pengolahan biji kopi menjadi bubuk, untuk kemudian dipasarkan di kedai-kedai di Banda Aceh maupun daerah lainnya. “Ingin punya merek sendiri, apalagi jaringan warung milik kawan-kawan sudah ada,” jelasnya.

Membangun jaringan bisnis usaha hasil pertanian juga bukan hal baru baginya, karena ilmu itu juga didapat saat kuliah di Fakultas Pertanian Unsyiah.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018