Wednesday, 27 January 2021


Indahnya Pertanian Negara Lesotho

04 Aug 2020, 11:11 WIBEditor : Ahmad Soim

Pertanian di Lesotho | Sumber Foto:Memed G

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Tak ada tanah Tuhan yang tidak indah, semua tergantung pada bagaimana kita mensyukurinya dan memanfaatkannya. Ini sikap dan pegangan kita sebagai pendahuluan sebelum melakukan perjalanan melihat pertanian di tanah orang. Semua berkah itu tergantung kepada upaya manusia untuk memanfaatkan pemberian Tuhan. Ternyata pertanian yang super moderen belum tentu juga yang terbaik dan terindah. 

Negara Lesotho yang diberi gelar “The Kingdom in the Sky” itu terletak di tengah negara Afrika Selatan, sehingga dia tidak mempunyai akses ke laut. Untuk ke luar negara itu tidak ada jalan lain kecuali melalui Afrika Selatan. Negara kering yang luasnya kira-kira seluas propinsi Banten itu tak pernah terdengar di telinga kebanyakan orang Indonesia. Bertengger di dataran tinggi yang bergunung-gunung, negeri itu udaranya sejuk di saat fall dan spring, dingin menusuk tulang saat winter dan kembali panas menyengat waktu summer. Masalah kemiskinan, ancaman AIDS dan kriminalitas banyak dibahas di berbagai situs. 

Pertanian adalah bahasan kita. Tanaman utama pertaniannya jagung, kacang, gandum, sorgum, yang terlihat tumbuh malas di lahan kering. Produktivitasnya rendah dan hasilnya hanya mencukupi 30 persen kebutuhan penduduknya yang berjumlah hanya 1.8 juta jiwa saja. Kekeringan mendera tanaman dan ternak di lahan pertanian yang hanya 10 persen dari luas lahan negeri yang bergunung-gunung ini. Lebih dari 60 persen bahan makanan diimpor dari Afrika Selatan, tapi Lesotho dikatakan ekonominya bergantung pada pertanian. Lho? Itu karena dilihat dari sumber pekerjaan penduduknya. Ternyata 85 persen penduduknya bekerja di sektor pertanian dan tinggal di pedesaan. 

Di antara gugusan pegunungan tersebar pemandangan indah, resort mewah yang berdampingan dengan padang golf, olahraga musim dingin, dan tempat indah yang jadi tujuan wisata dari berbagai turis mancanagara. Dua dam besar, Katse Dam dan Mohale Dam berdampingan dengan tempat wisata yang indah, airnya mengalir dijual ke Afrika Selatan. Tambang intan pernah berjaya, dan sekarang industri pakaian sedang berkembang di negeri ini.

Lesotho  tetap ada dalam bayang-bayang Afrika Selatan.  Dia merdeka dari Inggris tapi masih sedang berjuang keras di bidang ekonomi.  Penduduknya banyak yang keluar mencari kerja di negara tetangga di pertambangan.  Sebelum berakhirnya apartheid di Afrika Selatan uang yang mengalir dari pekerja migran orang Lesotho (yang disebut Basotho) cukup besar.  Kini mereka kembali pulang setelah penduduk setempat di Afrika Selatan mengambil alih pekerjaan di pertambangan emas dan berlian.  

Mata uang yang digunakan untuk transaksi di Lesotho adalah Maloti, tapi nilai dan nilai tukarnya selalu sama dengan uang Afrika Selatan Rand.  Hanya namanya yang berbeda, Maloti dengan Rand, sebagai upaya untuk pengakuan bahwa Lesotho adalah negara yang berdiri sendiri.  Dua-duanya diterima sebagai tanda pembayaran yang syah.

   

Apa jadinya kalau produktivitas jagung di sini hanya kurang dari 1 ton/ha? Maka upaya lembaga internasional seperti FAO terus berupaya memperkenalkan cara bertani pada masyarakat setempat. Tak ada yang dikerjakan dengan tangan. Lubang sedalam 2 sampai 15 cm dibuat dengan traktor yang sekaligus memasukkan benih jagung ke dalamnya.  Sesudah itu rumput tebal itu disemprot herbisida untuk mengurangi persaingan dalam mengambil air dan hara.  Sesudah tanaman tinggi, baru penyiangan dilakukan dengan cangkul dan sisa tanaman liar diserakkan sekitar tanaman jagung.   Di percobaan ini tanaman jagung tumbuh sehat, tanahnya lembab tertutup oleh sisa tanaman liar yang dibiarkan menutup tanah sekitar tanaman jagung.

“We will have better coverage in the second year after the remains of this crop cover the soil”, kata pendeta Basson.

Pergiliran tanaman pun menjadi syarat mutlak dalam Conservation Agriculture.  Pupuk nitrogen yang dihimpun tanaman legum menjadi penyubur tanah. Tanaman kacang-kacangan menjadi pilihan.  Sebagian ditanam tumpangsari dengan jagung, sebagian lagi monokultur  sesudah panen jagung.

“Tuhan telah memberikan kita lahan ini.  Lahan ini hanya kekurangan air, selebihnya adalah lahan yang baik.  Kita harus bersyukur pada Tuhan.  Jangan mengomel.  Tuhan sudah begitu berbaik hati kepada kita”, kata Assisten Menteri Pertanian dalam sambutan dan doanya.

“Kita harus memanfaatkannya sesuai dengan karakteristik lahan yang kita punyai, dengan berbagai cara”, katanya lagi. 

Betapa besar potensi lahan ini kalau dilakukan dengan cara yang benar.  Kita memang tidak bisa melawan alam. Itu tidak mungkin. Tapi memanfaatkan alam yang ada dengan berbagai upaya agar alam secara optimal memberikan manfaatnya kepada kita.  Aku salami Menteri itu dan menyatakan salut atas pemikirannya.  Dia menyambut dengan salaman gaya Lesoto.  

“We need people with new ideas.  We need people who want to work for themselves.  To whom the government will provide full supports”, katanya berjanji.

Dia tahu banyak rakyatnya yang lapar, tapi kelaparan itu bukan alasan untuk meminta, tapi mereka harus bekerja.  Dan itulah yang seharusnya dilakukan oleh UN dan donor, jangan hanya memberikan bantuan melalui emergency, tapi bantu mereka bangkit untuk menolong dirinya sendiri.

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018