Wednesday, 30 September 2020


Jayadi, Potret Petani Milenial Sukses dengan Kostratani

27 Aug 2020, 07:11 WIBEditor : Gesha

Jayadi di lahan pertanaman bawang merah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu --- Regenerasi dalam sektor pertanian adalah suatu keniscayaan. Karenanya, jumlah petani milenial harus terus ditambah, salah satunya melalui saluran Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani).

Di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura), Kabupaten Indramayu menjadi salah satu kantong pertanian yang selalu diharapkan produksinya. Karena itu, gerakan Kostratani harus terus menggema di seantero Kota Mangga tersebut. Termasuk dalam menciptakan milenial milenial yang terus menggarap pertanian Indramayu.

Adalah Jayadi, salah seorang petani milenial yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu. Selain sebagai petani padi berusia 32 tahun ini pun menekuni komoditas hortikultura diantaranya  bawang merah dan cabai.

Jayadi menggarap lahan padi seluas 2 hektar dengan rata-rata produksi 6,3 ton per hektarnya. Ia menanam cabe diluasan 100 bata (1 bata = 14 m, red) dengan hasil 7 kwintal per sekali petik serta bawang merah di lahan seluas  100 bata dengan hasil 4 ton per 100 bata. 

Untuk meningkatkan daya jual hasil pertaniannya bawang yg dia tanam diolah menjadi bawang goreng dan Siwang (terasi bawang).

"Saya pernah memilih pergi keluar negeri untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), tapi kemudian memutuskan untuk kembali di tempat kelahirandan menekuni sektor pertanian sekitar 7 tahunan lalu," ungkap Jayadi.

Ia pun terus menambah pengetahuannya tentang budidaya, panen dan paska panen melalui berbagai cara salah satunya adalah mendatangi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lelea yang selama ini telah membinanya.

Abdullah Muklas adalah penyuluh pertanian yang mendampingi Jayadi. "BPP Lelea banyak memiliki petani milenial, salah satunya Jayadi. Komoditas yang digeluti pun beragam mulai dari tanaman pangan, hortikultura baik budidaya maupun pengolahan," jelasnya.

Produk olahan bawang goreng produksi Jayadi awalnya masih sangat tradisional dan dikemas seadanya, namun setelah mendapatkan informasi dan pelatihan ia pun memperbaiki dan meningkatkan kualitas produknya. "Bahkan kini produknya sudah bisa ditemui di pasaran dengan kemasan yang menarik”, jelas Abdullah.   

Sinergitas antara Jayadi selaku petani dan Abdullah selaku penyuluh merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Didukung dengan keberadaan BPP sebagai pusat simpul koordinasi (posko) pembangunan Pertanian di tingkat Kecamatan menjadi wadah belajar dan berlatih bagi petani untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuannya.

Terlebih BPP Lelea menjadi model Kostratani di kabupaten Indramayu yang didukung digitalisasi dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi BPP guna mendukung peningkatan produksi dan produkfitas pertanian.

Tambah Milenial

Dalam setiap kesempatan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi mengatakan ada 3 faktor pengungkit produktivitas di sektor pertanian. Mulai dari teknologi, peraturan perundangan termasuk Peraturan Daerah  yang bisa menjamin luas sawah serta sumberdaya manusia (SDM). Dari ketiga  faktor tersebut, SDM pertanian memiliki kontribusi  paling besar yakni mencapai 50%. Karena, SDM-lah yang mengarahkan teknologi, sarana prasarana, termasuk kebijakan. 

"Jumlah petani di Indonesia sekitar 33, 4 juta orang, dan sekitar 76?alah pria dan sisanya wanita. Berdasarkan kelompok umur, mayoritas petani kita berada di usia 45 hingga 54 tahun. Jumlahnya sekitar 27%, pada rentang usia 55-64 sekitar 21%, dan usia petani di atas 65 tahun sebanyak 13%. Jika dijumlahkan jumlah petani usia tua mencapai 61%,” jelasnya

Sedangkan dari petani dari kelompok milenial sangat sedikit. Pada rentang usia 35-44 tahun, jumlahnya sekitar 24%. Petani usia 25-34 tahun sebanyak 12%, dan sisanya petani berusia di bawah 25 tahun. Kategori petani milenial adalah yang usianya kurang dari 40 tahun. “Kondisi ini yang harus menjadi perhatian. Sebab, ada prediksi yang menyebutkan jika 10 tahun yang akan datang kita bisa mengalami krisis jika tidak terjadi regenerasi. Karena, sampai saat ini petani masih didominasi oleh yang berusia tua,” tambahnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo juga mengatakan  sektor pertanian sangat terbuka untuk semua usia. “Semakin muda semakin kuat, semakin enerjik, semakin kritis, makin apik kerjanya. Anak milenial harus mau diajak melihat teman-temannya yang sukses. Online sistem, startup, digital sistem menjadi jawaban peluang bisnis pertanian,” ujarnya.

Karena itu, pertanian dengan semangat baru juga harus diluncurkan. Seperti membangun perilaku baru dan behaviour anak muda untuk mendapatkan pendapatan yang jauh lebih baik dari bidang pertanian. 

Hal ini pun diamini oleh Plt Bupati Indramayu, Taufik Hidayat yang sangat mendukung regenerasi petani khususnya di wilayah Indramayu. Hadirnya BPP Kostratani tak hanya bisa membantu meningkatkan produksi dan produktivitas tetapi sekaligus meningkatkan minat generasi milenial untuk menekuni sektor pertanian.

“Kami  ingin menciptakan dan terus menanmbah jumlah petani milenial. Kita  akan ajak anak-anak muda untuk tetap di Indramayu, bekerja dan berusaha di Indramayu, tetapi dengan penghasilan seperti di kota melalui sektor pertanian," ungkapnya.

 

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018