Monday, 28 September 2020


Agitya Kristantoko, Dengan Singkong Menggerakkan Ekonomi Emak-Emak

04 Sep 2020, 15:25 WIBEditor : Gesha

Tyo menggerakkan perekonomian emak emak dan petani singkong | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI. COM, Bojonegoro - - Meskipun terlahir di desa, ternyata pemikiran Agitya Kristantoko sudah jauh ke depan. Dengan memanfaatkan tanaman lokal seperti singkong, dirinya berhasil menggerakkan ekonomi desa sekaligus memberdayakan Emak-Emak dan petani singkong yang selama ini mendapat harga rendah.

Kabupaten Bojonegoro telah lama dikenal sebagai sentra singkong dan banyak petani yang menggantungkan hidupnya dari tanaman multi manfaat ini. Namun harga yang semakin rendah, membuat petani harus mencari sampingan lainnya untuk membiayai kehidupan keluarga mereka. Seperti yang dilakukan keluarga untuk bisa menyekolahkan Agitya Kristantoko di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Saya dibesarkan dari keluarga petani, dan dibiayai dari hasil keringat petani. Saya melihat Bagaimana pun juga harus kembali untuk membalas budi. Awal-awal banyak yang meledek, sekolah tinggi-tinggi, balik lagi jadi petani, “ ungkap Tyo, panggilan akrab Agitya Kristantoko.

Tapi ledekan tetangganya itu justru ia jadikan pelecut semangat untuk membuktikan bahwa menjadi petani bukan pekerjaan murahan. Karenanya ia mencari cara meningkatkan bisnis olahan singkong yang sudah dirintis orang tuanya. “Singkong selama ini hanya diolah menjadi makanan tradisional saja, yang konsumsi itu-itu saja. Istilahnya ya orang kampung sendiri. Nggak bergengsi, “ tuturnya.

Untuk bahan baku pengolahannya, dirinya memberdayakan lahan sendiri di dekat hutan sekaligus membeli dari  petani singkong sekitar. Sekali produksi, dirinya membutuhkan 100 kilogram untuk dibuat menjadi keripik, rengginang dan olahan kreatif lainnya.

Untuk meningkatkan produksi dari singkong, dirinya mengaku bekerjasama dengan temannya semasa kuliah dahulu yang terbiasa budidaya pertanian. Sekaligus menjadi upaya mengedukasi petani untuk bergerak ke pertanian modern.

Di tingkat pengolahan dan pemasaran dirinya mendirikan Rumah Menyok yang memberdayakan Emak-Emak di sekitar rumahnya. “Ya daripada ngegosip, ngegibah, lebih baik mengolah. Sekarang sudah ada 155 jenis olahan kreatif dari singkong, “ bebernya.

Olahan tersebut diberi nama Gading dan sudah banyak dijual di market place online maupun swalayan modern di sekitar Bojonegoro. Jika dihitung-hitung, dirinya bisa memperoleh omzet bersih Rp 75 juta-100 juta per bulan.

Meskipun demikian, Tyo menilai nominal itu tidak seberapa dibandingkan kepuasan batin saat memberikan pendampingan dan pelatihan kepada petani, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

“Sebelum COVID 19, sebenarnya, sudah ada tawaran untuk melatih Emak-Emak di Sumatera, Sulawesi dan lainnya. Tapi karena COVID 19, pelatihan hanya di sekitar Bojonegoro saja. Gak apa-apa  kita perkuat Bojonegoro ini sekaligus menjadikan singkong ini iconnya Bojonegoro, “ harapnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018