Saturday, 24 October 2020


KaKebon, Cara Trio Bandung Ajak Milenial Kembali Bertani

23 Sep 2020, 10:02 WIBEditor : Gesha

Trio Milenial asal Bandung | Sumber Foto:istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Beragam cara dilakukan milenial untuk mengajak sesamanya kembali bertani di tengah beragam pilihan pekerjaan. Seperti yang dilakukan trio milenial asal Bandung ini yang fokus menyebarkan virus bertani yang mudah yaitu dengan menggeluti usaha Jamur. Seperti apa kiprahnya?

Pamor jamur sebagai bahan pangan eksotis menjadi peluang tersendiri bagi petani. Kini banyak restoran, kafe, hotel yang menghidangkan menu jamur yang kaya akan kandungan serat, betaglucan, vitamin B, mineral, kalium dan beberapa jenis karbohidrat. 

Peluang ini tak disia-siakan oleh Muhammad Naufal Fadlurahman, Dianisa Aska Nadhira dan Alfa Okke Triantama Putra. Tiga generasi milenial yang merupakan alumnus Jurusan  Agribisnis angkatan 2015 Fakultas Universitas Padjajaran ini mantap untuk memilih budidaya jamur tiram dengan alasan harga jual jamur cenderung stabil, modal yang tidak terlalu besar serta perawatan yang mudah.

Memutuskan untuk menjadi wirausaha di bidang pertanian, ketiga generasi milenial ini ingin menerapkan ilmu dan pengetahuan yang telah mereka dapatkan selama 4 tahun. Mereka pun memiliki idealisme ingin membantu orang lain melalui sektor pertanian. Bermodal  awal  bantuan dana dari Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) yang di luncurkan  oleh Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) sejumlah Rp. 35.000.000,- mereka mencoba untuk menyewa 2 kumbung di Kecamatan Cisarua, Bandung, Jawa Barat. 

Muhammad Naufal Fadlurahman yang akrab di sapa Naufal menceritakan awal mula mereka membuka budidaya jamur tiram dengan nama KaKebon. Untuk modal awal, mereka mengaku menggunakan dana Program PWMP di akhir tahun 2019 dengan ditambah tabungan pribadi. Mereka mulai menyewa 2 kumbung (rumah jamur) dengan kapasitas 20.000 baglog.

"Dari 2 kumbung ini kami mendapatkan hasil panen mencapai  5 - 10 kg per harinya dan terus naik sampai rata rata 1-2 kw perharinya panen pertama.  Pada panen ke 2, hasil panen kami mencapai 20-60 kg per harinya  dan pada panen ketiga atau menjelang bulan ke 4 biasanya hanya sekitar 5- 10 kg per harinya. Hal ini terjadi karena siklus produktif baglog berusia 3-4 bulan, setelah masa panen ketiga kami harus mengganti baglog dengan yang baru untuk mendapatkan hasil maksimal kembali”, papar Naufal.

Adanya pandemi memberikan pengaruh pada usaha yang mereka kelola. Diawal PSBB  harga jamur tiram di tingkat petani dikisaran Rp.10.000 – 12.000/ perkilo, tetapi menjelang Hari Raya Idul Fitri harga sempat jatuh hingga Rp.  ke4.000-5.000/kilonya. Namun kini harga sudah berangsur naik kembali dikisaran dikatakan stagnan yaitu berkisar Rp. 9.000 sampai Rp. 12.000 per kilo gramnya. Namun dalam hitungan kurang lebih 7 bulan mereka telah mampu mengembalikan 50% modal mereka. 

Untuk pemasaran, ketiga petani milenial usia 23 tahun ini masih menyetorkan hasil panennya ke bandar selain menjual langsung ke konsumen baik teman, kerabat maupun tetangga secara langsung dalam kemasan 500 gram. Kedepan mereka pun ingin menambah nilai dari jamur tiram dengan mengolahnya menjadi jamur krispi atau olahan jamur lainnya yang sedang digemari oleh masyarakat saat ini. 

Pemilihan nama Ka Kebun tentunya bukan tanpa alasan, mereka secara tidak langsung ingin mengajak generasi muda seusia mereka untuk kembali terjun menggeluti sektor pertanian. Karena sektor pertanian tidak ada berhentinya. “Kami melihat masa depan yang cerah disektor pertanian ini. Yang penting tetap mau berusaha dan terus berinovasi”,  ucap tiga milenial produsen jamur ini optimis.

Mereka pun memanfaatkan media sosial seperti instagram (@yuk.kakebon) sebagai media untuk mengedukasi generasi muda lainnya tentang sektor pertanian khususnya budidaya jamur tiram.   Kegigihan dan keberhasilan mereka dalam mengembangkan budidaya jamur pun telah dilirik oleh Trans 7,  melalui acara  Laptop Si Unyil mereka berharap semakin banyak generasi milenial yang tertarik untuk menjadi wirausaha milenial pertanian. 

Kesuksesan Naufal dan rekannya menjadi bukti regenerasi pertanian telah berjalan. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa kredibilitas generasi muda di bidang pertanian saat ini semakin berkembang.Mentan  percaya semakin banyak generasi muda yang terjun  dibidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, juga menambahkan saat ini Kementan sedang berjibaku untuk memenuhi ketersediaan pangan  bagi seluruh rakyat Indonesia dan ini menjadi peluang bisnis petani milenial.  Ia pun tak henti-hentinya mengajak generasi milenial untuk tetap kreatif, inovatif  dalam menggelola sektor pertanian. “Jangan ragu untuk menekuni sektor pertanian, sektor ini sangat menjanjikan tak terkecuali bagi generasi milenial,” ajak Dedi.

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018