Sunday, 29 November 2020


Oktavianus, Potret Petani Milenial Berjuang Penuhi Pangan Sumba Barat Daya

11 Nov 2020, 10:56 WIBEditor : Gesha

Oktavianus bersama Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumba Barat Daya -- Sebagai generasi milenial yang berasal dari Sumba Barat Daya (SBD), Oktavianus memiliki niat besar dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat di SBD. 

Untuk mewujudkan tekadnya, Oktavianus yang menjadi koordinator Kelompok Taruna Tani Tunas Muda dan mempunyai 23 anggota, melakukan pengembangan budidaya hortikultura seperti cabai, tomat, bunga kol, dan bawang merah. 

Pertanian digelutinya lantaran ingin memenuhi kebutuhan pangan, terutama sayuran, untuk daerah sendiri yaitu Desa Loura, Sumba Barat Daya, NTT.

Mahasiswa jurusan manajemen ini mempunyai alasan kuat untuk terjun ke dunia pertanian. Menurutnya, pangan adalah kebutuhan dasar. Ketika orang masih butuh makan, pasti butuh pangan. 

“Saat ini konsumsi sayuran masih didatangkan dari luar Sumba. Menurut saya, ini usaha yang sangat prospektif karena bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Walaupun usaha yang dirintis belum melayani permintaan pasar, namun yang dilakukannya paling tidak mampu menekan sedikit impor bahan pangan dari daerah lain. 

“Saat ini kita sudah bergabung dengan beberapa pemuda milenial berniat memenuhi kebutuhan pangan untuk daerah sendiri. Kita mendapatkan berbagai informasi dari perusahaan benih tentang irigasi sederhana seperti irigasi tetes sedangkan instalasi sederhana kita belajar dari youtube. Sehingga budidaya yang kita lakukan sedikit lebih modern,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian saat melakukan kunjungan ke kebun petani milenial Oktaviatus mengatakan, walaupun statusnya mahasiswa manajemen, tetapi Oktavianus mau menerapkan teori manajemennya untuk bidang pertanian.

Menurut Munifah, sebenarnya banyak pembiayaan ekslusif dari program kementerian pertanian untuk mendukung kegiatan petani mileniaal, tapi saat ini mereka lebih mandiri dan kita sangat apresiasi dalam melakukan budidayanya. 

“Kalau mereka bisa menunjukkan prestasi yang baik, tentu bisa dikembangkan lagi dengan melibatkan BPP Kupang untuk membina mereka dalam komunitas P4S milenial,” katanya. 

Bahkan jika semakin berkembang, Oktavianus bisa dukungan pihak IFAD. Yang penting komitmen mereka tidak merubah pikiran untuk terus menggeluti dengan baik dan menghadapi tantangan. "Saya berharap, seluruh petani milenial gunakan waktu muda sebaik-baiknya, karena usia muda tidak akan berulang. Tapakkan sejah perjalanan hidup yang memberi manfaat masyarakat sekitarnya dan akan menjadi kembanggan orang tua,” ujar Munifah.

Penumbuhan petani milenial menjadi salah satu target yang diemban dalam program Kementerian Pertanian. “Kita ingin mencetak banyak petani milenial. Karena, masa depan pertanian Indonesia ada di pundak mereka. Petani milenial itu pintar dan mempunyai wawasan luas, kita berharap petani milenial bisa menghadirkan banyak inovasi buat pertanian,” katanya.

Hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa regenerasi pertanian harus dilakukan.

“Saat ini sektor pertanian banyak diisi petani usia tua. Jika tidak ada regenerasi, kita bisa kekurangan petani dalam 5 sampai 10 tahun mendatang,” katanya.

Sementara secara terpisah Kepala Badan PPSDMP, Dedi Nursyamsi juga mengatakan regenerasi juga dilakukan karena adanya tuntutan pasar, seperti tuntutan Mutu berupa perubahan teknologi, pendapatan, pola makan, dan peningkatan konsumen khusus. Tuntutan lainnya adalah keamanan pangan menyusul adanya peningkatan kesadaran konsumen terhadap bahaya yang terdapat pada pangan.

“Ada beberapa masalah yang kita hadapi dalam pengembangan SDM pertanian. Seperti jumlah generasi muda yang ingin terjun ke dunia pertanian masih rendah, jumlah petani dan ketersediaan petani muda yang kompeten dan berdaya saing belum memadai, jumlah pengusaha muda sektor pertanian masih kurang, Ketersediaan Calon Tenaga Kerja dan Tenaga Kerja sektor pertanian yang tersertifikasi sesuai kebutuhan DUDI masih terbatas, dan beberapa persoalan lainnya,” kata Dedi.

Reporter : Nattasya
Sumber : BPPSDMP
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018