Sunday, 29 November 2020


Public Figure Kini Geluti Urban Farming

20 Nov 2020, 09:20 WIBEditor : Gesha

Mantan Menteri ESDM, Ignasius Jonan kini geluti urban farming | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menggeluti pertanian berlabel urban farming kini tak hanya digeluti orang biasa. Banyak public figure Ibukota yang kini juga ikut urban farming demi memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan mandiri. Terutama di masa pandemi COVID 19.

Urban Farming semakin banyak ditekuni oleh para tokoh atau public figure, antara lain Ignasius Jonan, yang pernah menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2016-2019) dan Menteri Perhubungan (2014-2016).

“Kini saya juga sebagai penggiat Urban Farming dengan memanfaatkan lahan di halaman rumah dan atap rumah yang sebetulnya tidak terlalu luas. Belajar bertani secara mandiri, dari internet, bersyukur tidak pernah gagal sejauh ini.  Hidroponik ini sangat bermanfaat, sayuran lebih segar dan sehat," ungkap Jonan.

Di lahan yang tak luas, dirinya menanam bayam, sawi, selada untuk dikonsumsi sendiri dan dibagi ke tetangga. "Kita tidak boleh malu menjadi petani. Contoh negara Jepang, yang memproduksi pangan sendiri sehingga tidak perlu impor,” kata Jonan.

Selain Ignasius Jonan, artis senior Cut Yanthi juga menekuni Urban Farming, bahkan hasilnya dapat dijual secara komersial dengan label “Bersi Farm”. “Lahan saya sekitar 1000 meter persegi di Jakarta, saya manfaatkan untuk menanam sayuran seperti pakchoy, caisim, kangkung, bayam hijau dan merah, serta kale. Bagus sekali untuk menambah penghasilan. Saya didukung oleh keluarga untuk kegiatan Urban Farming ini. Sekaligus dapat menjadi ajang silaturahmi para teman artis. Petani muda sekarang ini makin kreatif, saya yakin kalau ada kemauan pasti ada kesempatan,”kata Cut Yanthi.

Senada dengan Cut Yanthi, artis Haykal Kamil juga aktif memanfaatkan lahan kosong di kompleks perumahannya untuk bertani.“ Ada lahan kosong seluas 180 meter persegi di Ciganjur. Saya menanam kangkung, pakchoy, bayam, selada, brokoli, tomat, dan sereh. Awalnya untuk kebutuhan sendiri, tetapi kini banyak pembeli yang antusias. Banyaknya peluang sukses di bidang pertanian, membuat saya merasa masih perlu belajar untuk bisnis pertanian ini,” kata Haykal Kamil.

Public figure ini tentunya membuktikan bahwa profesi petani tidak lagi memalukan, bahkan menjadi semakin bergengsi. Mereka menambah panjang deretan penggiat urban farming di Ibukota DKI Jakarta yang memang sudah malang melintang di dunia pertanian.

Sebut saja adalah Ahmad Fahrizal dari Poktan Sejahtera Makmur Jakarta Selatan yang sudah lama menekuni budidaya alpukat Cipedak, salah satu buah khas Jakarta yang kian populer hingga ke berbagai wilayah Indonesia. “Kami punya kebun di Ciganjur, Jakarta Selatan. Berbekal latar belakang pendidikan pertanian, usaha dimulai dengan bertanam sayuran yang mampu menembus restoran antara lain restoran Vietnam. Namun karena pandemi Covid-19 terkendala restoran banyak yang tutup. Kini menekuni pembibitan alpukat khas Jakarta yang sudah disertifikasi. Pengiriman hingga ke provinsi – provinsi di luar Jakarta," jelasnya.

Selain alpukat, petani muda Jakarta juga ada yang sukses bertanam anggur di rooftop, Vidi dari Poktan Kebon Rooftop Jakarta Timur.  “Kebun anggur kami berada di atap kafe / rooftop lantai 3 di Condet Jakarta Timur. Pengunjung kafe banyak yang tertarik. Saya  mulai membibitkan pohon anggur tersebut. Saat pandemi Covid-19 tetap ada permintaan, bahkan ada yang datang dari Papua. Silakan bagi yang berminat untuk datang,” kata Vidi.

Tanaman Hias sampai Perikanan

Tak hanya sayuran dan buah-buahan, petani milenial ini juga banyak yang menggeluti urban farming dengan komoditas tanaman hias aglonema yang kini tengah trend. “Tahun 2002 saya tanam aglonema, namun orang tua sempat tidak setuju karena uang jajan saya belikan bibit dan pohon. Tetapi di tahun 2005 Aglonema booming, sehingga orang tua malah memberikan modal untuk saya bertanam aglonema," kata Ahmad Habiebie dari Poktan Maya Asri/Pengelola RPTRA Maya Asri Jakarta Barat.

Diakui Ahmad, tanaman aglonema perawatannya juga mudah. "Alhamdulillah sekarang menambah penghasilan, jenis yang dibudidayakan antara lain Legacy Green, Rinjani, Widuri, dan masih banyak lagi. Harga ada yang mencapai Rp 3 juta. Aglonema semakin besar semakin mahal, silakan bagi yang berminat saya mau berbagi ilmu. Di Jakarta Barat, daerah Semanan banyak jual tanaman hias,” kata Ahmad Habiebie.  

Komoditas yang dibudidayakan petani muda Jakarta sangat bervariasi. Bahkan ada yang membangun Green House untuk bertanam aneka sayuran, peternakan dan perikanan, yaitu Muhammad Rizqillah dari Jakarta Utara. “Pertama saya budidaya perikanan. Membangun hidroponik bersama paman tahun 2019. Selama proses semai hingga panen, Alhamdulillah hasil bagus untuk dikonsumsi sendiri dan warga sekitar. Setelah pengetahuan cukup, saya memanfaatkan lahan untuk peternakan sapi, kambing, maggot, dan membangun Green House awal tahun 2020. Berbeda dengan Green House lainnya, rangka terbuat dari bambu dan kayu bukan baja ringan untuk menghemat biaya, “ kata Rizqillah.

Lahan di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk pertanian, seperti yang dilakukan oleh Apit Kurniawan dari Jakarta Pusat. “Saya bekerja sebagai pengurus RPTRA, memanfaatkan lahan seluas 21 meter persegi untuk hidroponik. Saat ini ada 500 lubang tanam, Alhamdulilah berhasil berkat bantuan ibu-ibu PKK dan Kelurahan. Pemasaran sayuran ke warga sekitar yang sangat antusias. Manfaat yang saya rasakan yaitu menambah wawasan, relasi, bisa ikut bazaar, menerima order sayuran, diundang untuk training hidroponik, pesanan rak hidroponik, dan sebagianya yang dilakukan di luar jam kerja untuk menambah penghasilan. Ayo jangan malu bertani, petani tidak identik dengan kotor, tapi Sehat dan Keren, “ kata Apit.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018