Sunday, 19 September 2021


Nanang P Suhendro, Ajak Milenial Berbisnis Sapi

21 Jan 2021, 14:03 WIBEditor : Gesha

Nanang Purus Subendro di lahan peternakannya di Lampung Tengah | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Beternak sapi itu dinilai kotor dan bau, sehingga tak diminati kalangan muda usia. Fenomena ini memprihatinkan bagi Nanang Purus Subendro, hingga belakangan  pengusaha ternak ini  menerapkan jurus-jurus jitu untuk  dapat  mendorong milenial mau menggeluti usaha persapian.

Jurus-jurus dimaksud antara lain dengan memberikan training atau kesempatan magang di farmnya bagi individu yang berminat .

Dilakukan pula kerja sama dengan lima perguruan tinggi  untuk  mensosialisasikan serta mengajak mahasiswa terutama dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan untuk praktek langsung cara beternak sapi.

Sebagai pemilik usaha penggemukan sapi di kawasan  Lampung Tengah,  kecintaan Nanang terhadap ternak sapi tak perlu diragukan. "Ibaratnya tidur dikandang sapi sudah saya lakoni sampai akhirnya cita-cita  untuk memiliki usaha Fredloter sendiri bisa terwujud ," kata dokter hewan alumni FKH UGM itu.

Rasa cinta terhadap hewan ternak dipandangnya penting sebagai modal awal  untuk menggeluti usaha budidaya atau penggemukan sapi. 

Sangat Prospektif 

"Masalahnya,hal inilah yang tak dimiliki generasi  milenial hingga tak banyak dari mereka yang mau terjun ke usaha budidaya atau penggemukan sapi. " jelas pria yang belum lama ini terpilih menjadi Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) periode 2020-2024 itu .

Nanang  menekankan,  usaha peternakan sapi sangat prospektif.Kebutuhan akan daging sapi terus meningkat  seiring dengan pertambahan penduduk serta kian berkembangnya usaha kuliner berbahan baku daging sapi di tanah air.

Bahkan di masa pandemi Covid-19 permintaan masyarakat terhadap daging sapi justru meningkat. "Ini peluang besar bagi para pemuda pemudi untuk memulai membuka usaha pribadi  menyangkut produksi sapi," tuturnya.

Saat ini konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia baru sekitar 2,6 kg/kapita/ tahun , masih  sepertiga dari konsumsi masyarakat negara Malaysia. "Artinya peluang peningkatan konsumsi masih besar. Dan ini pasokannya hrs diisi oleh pengusaha dari negeri sendiri," tutur pria 56 tahun itu.

Karenanya begitu terpilih sebagai pucuk pimpinan Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) pihaknya beserta segenap pengurus organisasi langsung menyiapkan sejumlah program kerja  antara lain untuk bisa mencetak sebanyak mungkin  pengusaha muda yang bergerak di bidang peternakan sapi dan kerbau. 

PPSKI juga  berencana menggandeng peneliti, peternak, birokrat dan akademisi untuk secara bersama merancang terobosan-terobosan guna mendukung upaya pemerintah  meningkatkan kesejahteraan peternak. "Ini PR besar yang memerlukan perhatian besar pula," tutur Nanang.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018