Saturday, 23 October 2021


Penggiat Akuaponik, Mark Sungkar Bersyukur menjadi Petani

12 Feb 2021, 11:48 WIBEditor : Yulianto

Mark Sungkar, artis yang juga penggiat urban farming | Sumber Foto:Doc. Mark Sungkar

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Nama Mark Sungkar mungkin lebih banyak dikenal sebagai seorang artis. Tapi siapa sangka, ia merupakan seorang arsitek pertamanan yang kini giat mengkampanyekan urban farming.

“Aku bersyukur menjadi petani, setelah kembali dari menimba ilmu akuaponik di Australia saya nekad membuat buku berjudul saya bangga jadi petani, tetapi setelah melakukan perenungan dan menyatu dengan alam akhirnya saya malu menyebutkan bangga menjadi petani tapi saya bersyukur menjadi petani,” tutur Mark Sungkar.

Menurutnya, menjadi petani itu harus disyukuri, karena berkumpul dengan benda benda hidup yang semuanya menghasilkan manfaat. Ternyata terjun ke dunia pertanian bagi Mark Sungkar bukan hal yang baru. Saat masih kuliah akting di Belanda tahun 1975-1980, dirinya melihat sendiri bagaimana kemajuan sektor pertanian di Belanda.

“Pulang ke Indonesia, keprihatinan terhadap sektor pertanian membulatkan tekad saya untuk memajukan pertanian Indonesia,” kata ayah dari artis  Zaskia Sungkar dan Shireen Sungkar saat FGD Suksestori Urban Farming yang diadakan secara virtual oleh Tabloid Sinar Tani Rabu (10/2).

Artis multitalenta yang lahir di Surakarta, 22 Oktober 1948 ternyata ahli di bidang arsitektur pertanian. Sebagai arsitek, Mark yang memiliki nama lengkap Mubarak Ali Sungkar ini mendirikan PT Green Homes Indonesia pada tahun 2013. Perusahannya ini bergerak dalam bidang arsitektur dan rancang bangun rumah dengan konsep hijau.

Penggiat akuaponik

Konsep green homes yang diwujudkan Mark Sungkar adalah dengan mengaplikasikan sistem akuaponik. Sejak itu Mark Sungkar menjadi penggiat akuaponik. Akuaponik adalah sistem budidaya ikan dan tanaman bersama dalam sebuah ekosistem. Dengan kata lain akuaponik adalah sistem dimana tanaman dan ikan bertumbuh bersama.

Hingga kini lebih dari 20 tahun ia mengaplikasikan sistem pertanian akuaponik. Bahkan ia sering memadukan kombinasi kolam ikan, relief air terjun buatan, dan tanaman di setiap rumah yang dibangun.

Dengan menggabungkan kedua sistem tersebut, terjadi daur ulang, sehingga limbah dari sistem akuakultur merupakan input sistem hidroponik bagi tanaman. “Limbah yang dibuang ke alam menjadi sangat minimal, sehingga boleh dikatakan sistem akuaponik adalah sistem yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Sejak memutuskan untuk hengkang dari dunia hiburan, Mark Sungkar memang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan merawat tanaman dan berkecimpung dalam pertanian organik. Menurutnya, hasil penelitian IPB menunjukkan sayuran dan buah organik, kandungan mineralnya lebih baik dibandingkan bahan pangan yang ditanam secara konvensional/non organik.

Beberapa penelitian menunjukkan, ungkap Mark Sungkar, sayuran seperti kubis, selada dan tomat, kandungan mineralnya (kalsium, fosfor, dan magnesium) jauh lebih tinggi dibandingkan sayuran non organik. Contohnya, kandungan kalsium tomat organik 23 mg dan yang non organik hanya 5 mg.

Bukan hanya soal gizinya, menurut Mark Sungkar, sayuran organik memiliki nilai jual yang lebih baik di pasaran. Hal ini karena penampilan sayur organik lebih segar dan bersih, minim sentuhan bahan kimia dan diyakini lebih sehat. Selain itu, ikan yang dipelihara berbarengan dengan sayur juga dapat memiliki nilai ekonomi bila dikelola dengan baik. Dengan begitu, pendapatan petani bertambah.

“Kita bisa menerapkan cara ini di rumah. Misalnya saat butuh kita tinggal petik. Insyaallah, lebih hemat,” ujarnya. Selain bisa diaplikasikan di lahan sempit dan skala industri pertanian. Keuntungan lain sistem akuaponik adalah dapat memanen sayuran dan ikan dalam satu sistem pemeliharaan.

“Akuaponik itu 100 persen organik karena tidak menggunakan sedikit pun bahan kimia selama proses pemeliharaannya. Maka, tak heran jika melihat semangat urban farming dan grow your own saat ini, akuaponik bisa menjadi pilihan tepat bagi kita yang ingin memulai dan menjalankan gaya hidup sehat,” tuturnya.

Akuaponik bisa menjadi solusi baru bagi yang ingin bertani sekaligus beternak ikan di rumah. Akuaponik juga menjadi terobosan baru bagi masyarakat urban yang ingin membuka ruang terbuka hijau di rumahnya. “Modal berkebun sekaligus beternak ikan dengan metode akuaponik tidak mahal,” ujar Mark Sungkar yang sejak kecil telah menyukai dunia pertanian. Berniat mengikuti jejak Mark Sungkar?

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018