Saturday, 06 March 2021


Pekarangan Prof Hadi Susilo Menjadi Etalase Urban Farming

15 Feb 2021, 14:42 WIBEditor : Gesha

Prof Hadi Susilo, menjadikan lahan pekarangan menjadi etalase urban farming | Sumber Foto:PRIBADI

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Berada di kawasan perkotaan  membuat Professor Ekologi Landskap Manajemen Lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof Hadi Susilo Arifin tak gentar untuk mengembangkan urban farming. Lahan pekarangan rumahnya kini menjadi etalase urban farming. 

"Core tesis saya mengambil pekarangan di Jepang dan setelah pulang saya implementasikan ilmunya dengan pekarangan urban farming. Selama WFH, saya lebih banyak bekerja di rumah dan mengimplementasikannya di pekarangan," ungkapnya saat Focus Group Discussion (FGD) bersama tabloidsinartani.com.

Prof Hadi mengaku sangat leluasa mengelola pekarangan seluas 1000 meter persegi yang berada di kawasan Laladon, Bogor. Sebelum pandemi COVID 19, pekarangannya aktif dikunjungi dan menjadi contoh pengelolaan urban farming oleh Ibu2 PKK dari kelurahan-kelurahan di Kota Bogor, Mahasiswa Praktikum, peneliti lahan pekarangan urban farming di dalam dan luar negeri hingga Dinas Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Barat. "Setelah ada Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB), saya tidak bisa menerima kunjungan dahulu," tuturnya.

Total ada 176 jenis tanaman mulai dari kentang rambat (air potato), singkong, pisang, ubi jalar, rambutan, kelapa, termasuk beberapa ikan dan ternak diusahakan dalam satu kawasan urban farming di pekarangan Prof Hadi. "Saya ingin menginisiasi orang-orang untuk praktik berkebun dan menghasilkan secara produktif pangan sendiri. Apakah itu buah, sayuran, penghasil pati, obat-obatan, bumbu dan sebagainya," tuturnya.

Prof Hadi menuturkan tak hanya bertanam dengan media tanah, di beberapa sudut pekarangannya juga terdapat hidroponik dan vertical garden. "Dengan NFT Hidroponik ini kita menanam secara ke atas dengan 366 lubang tanam hanya memerlukan 1,5 meterx2 meter. Yang penting cahaya matahari bisa masuk dengan banyaknya untuk fotosintesis sayuran yang memang memerlukan panas penuh dari pagi sampai sore," ungkapnya.

Hitung-hitungan Prof Hadi, dari 366 lubang untuk keperluan keluarga 3-4 anggota keluarga bisa tercukupi. "Waktu itu pernah mencoba 30 lubang yang berbeda jenis tanamannya dan waktu tanamnya bisa panen setiap hari dan dimanfaatkan," tambahnya.

Apotek Hidup

Bahkan sudut sudut pekarangan juga bisa dimanfaatkan sebagai apotek hidup dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). "Pekarangan saya di depan begitu masuk langsung terhampar tanaman obat dan bumbu seperti sereh, jahe bawang Dayak markisa. Begitu dibutuhkan bisa langsung petik dan diambil. Kami sendiri bisa menghemat beberapa pengeluaran untuk belanja di pasar," tuturnya.

Salah satu contohnya sereh, dipotong-potong direbus dijadikan campuran untuk berendam di bathtub. Pangkal serehnya bisa dibuat minuman. Secara berkala panen sereh untuk minuman ditambah apel hijau untuk bisa menguatkan tulang.

"Jadikan makananmu sebagai obatmu, bukan obat sebagai makananmu. Khusus dalam menghadapi COVID 19, kita memelukan stamina bagus. Untuk itu, kita perlu makan yang bagus dan asupan yang bagus. You're what you eat. Cerminan badan kita adalah apa yang kita makan. Ini bisa menjadi gaya hidup masyarakat kota," tuturnya. Karena itu, ketika ada tanaman obat, tidak harus menjadi tablet, menjadi pil, tidak harus menjadi kapsul, tetapi makanlah secara segar yang bisa menjadi obat untuk meningkatkan imun. 

Prof Hadi juga berpesan, penataan pekarangan juga diusahakan estetis tetapi juga fungsional sehingga tidak hanya petak-petak semata. 

 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018