Friday, 07 May 2021


Benua Antartika, Generasi Kedua Peternak Sapi Perah Kediri

05 Mar 2021, 11:27 WIBEditor : Gesha

Peternak sapi Milenial wanita asal Kediri, Benua Antartika | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Kediri --- Bicara peternak sapi perah Milenial, kiprah peternak wanita jarang terdengar. Tetapi di Kediri ternyata ada sosok Benua Antartika yang menjadi generasi kedua peternak sapi perah yang gesit dan ulet.

Namanya adalah Benua Antartika, seorang peternak sapi perah wanita dari Desa Medowo, Kecamatan Kandangan Kediri Jawa Timur ini memilih terjun langsung di usaha sapi perah milik keluarganya, setelah menamatkan sarjananya dan menjadi bagian regenerasi peternak di daerahnya. 

"Saya ingin memunculkan kembali (regenarasi) peternak Milenial yang sedikit. Memang terdengar ambisius tetapi jika nanti banyak peternak dan petani yang bergabung, saya yakin regenarasi ini bisa terwujud," ungkap peternak lulusan Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang.

Sedari kecil dirinya mengaku diajari ilmu beternak sapi dari Bapaknya sendiri. "Sapi perah pertama muncul Kediri, di tahun 1980an dari bantuan Presiden, Bapak dapat bantuan dari Koperasi Unit Desa (KUD). Dari kecil saya lihat sendiri bagaimana manajemen di sapi perah itu dari yang dilakukan Bapak," tuturnya.

Latar belakang inilah yang membawanya untuk menekuni lebih dalam keilmuan peternakan di kampus. Tetapi mengenai keadaan real, tentu saja pengalaman lapangan memberikan pembelajaran tersendiri. "Kita jual susunya langsung ke Nestle sehingg selalu ada pendampingan dari Field Inspector dari Nestle yang ikut monitoring, termasuk adopsi teknologi yang ada di luar negeri," tambahnya.

Di kandangnya dan usaha yang diberi nama Hamengku Sekaring Bhumi Farm ini, Benua memelihara  sapi perah peranakan Frisian Holstein (FH),   ciri cirinya badannya hitam putih, hitam agak kecoklatan dan selalu ada segitiga di dahinya.

Selain itu, dirinya juga memelihara Sapi Jersey sebagai penghasil susu. Lemak susu sapi jenis ini lebih banyak. "Sapi jenis ini warnanya merah sehingga banyak orang yang keliru dengan sapi potong. Ukuran badannya sendiri lebih kecil dari pada peranakan FH," ungkapnya.

"Sapi biasanya diperah 2 kali sehari, dan dimasukkan ke pos penampungan susu setiap pukul 06.00 dan 15.30 WIB. rata-rata produksi susu mencapai 14 liter sehari per ekor," ungkapnya.

Suka duka dirasakan dirinya saat menjadi peternak sapi perah yang sarjana dan wanita "Saya pernah diremehkan, cuma bisa bicara teori saja. Ibaratnya Ngarit rumput enggak bisa, saat saya dan Field Inspector datang sosialisasi untuk kelompok peternak lainnya," tuturnya.

Padahal, di dunia peternakan sapi terutama pengelola kandang di desa-desa, yang rajin dan aktif adalah wanita. 

Kendala Beternak

Dijelaskan Benua, Kendala di sapi perah umumnya dari kesehatan ternak itu sendiri. Sapi perah ini tergolong riskan karena setiap pemberian pakan harus dipikirkan nutrisi untuk sapi hidup dan kebutuhan reproduksi serta kualitas susunya. 

"Paling utama kita berikan pakan hijuan. Dan ini kendala karena semakin sedikit lahan untuk pakan hijauan. 1 hektar lahan hijauan hanya cukup untuk 4-5 ekor sapi saja. Beli sapi gampang, yang susah pakan hijauannya," ungkapnya.

Belum lagi, kondisi cuaca yang tidak menentu mempengaruhi produksi susu sapi perah. "Sapi perah memang bagusnya di kawasan dingin suhu 10 derajat, makanya di tiap kandang ini kita berikan kipas angin di Medhowo sendiri paling dingin 16 derajat Celcius," ungkapnya.

Diakuinya, upgrade kandang untuk menciptakan kondisi ideal pertumbuhan dan produksi sapi perah, bukanlah hal yang murah. Karena itu, kemitraan dengan Nestle membuatnya tidak terlalu pusing karena ada subsidi. "Air juga kita disubsidi, per hari kan sapi perah butuh sampai 150 liter air bersih," ungkapnya. 

Kesehatan sapi juga harus diperhatikan, salah satunya dengan pemberian vitamin injeksi yang dilakukan oleh dokter hewan dari Puskeswan. "Terutama disaat sapi bunting besar, asupan kalsium untuk sapi betina bunting harus dilakukan agar tidak ambruk," urainya.

Diungkapkannya, sapi ketika berumur 6-7 tahun, produksi susunya sudah tidak bagus sehingga peternak biasa menjualnya karena afkir. "Kita jual melalui blantik, untuk kita beli sapi yang siap perah baru. Begitu juga pedet laki-laki kita jual," tuturnya.

===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018