Friday, 16 April 2021


Irwansyah Komaludin, Ajak Petani Kopi Puntang Berkorporasi

13 Mar 2021, 11:22 WIBEditor : Gesha

Penggerak Koperasi Produsen Murbeng Puntang, Irwansyah Komaludin | Sumber Foto:Ade Mamad

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Ternyata masih ada milenial yang punya semangat untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara agraris dan mengembalikan kejayaan pertanian.  Semangat ini menyala dalam dada 20 anak-anak muda yang dipimpin Irwansyah Komaludin ketika memutuskan mendirikan Koperasi Produsen Murbeng Puntang di Jalan Raya Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. 

“Kopi punya sejarah panjang di Priangan dan di Eropa, Kopi kondang dengan nama Java Preanger,” ungkap Irwansyah Komaludin. Sebagai warga asli sini, dirinya ingin masyarakat juga sejahtera dari potensi kopi yang sudah lama ditanam oleh petani setempat. 

Koperasi yang diberi nama Koperasi Produsen Murbeng Puntang ini bertujuan ingin menciptakan masyarakat yang berkeadilan, sadar akan produk lokal. Kini koperasi itu sudah beranggotakan 125 petani. Dari jumlah itu sekitar 15-18 orang datang dari kalangan milenial. Koperasi ini juga melakukan pembinaan melalui kelompok tani bukan sekadar bertujuan ekonomi, tapi juga mendidik petani lokal untuk berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan di Gunung Puntang dari eksploitasi yang berlebihan yang merusak ekosistem alam dalam jangka panjang.

Pada 2019 Koperasi Murbeng Puntang mampu membukukan omzet Rp790 juta.  Koperasi ini  mengolah lahan seluas 100 hektare  di atas lahan milik Perhutani, dengan Hak Guna Usaha dengan produksi 69 ton per tahun.

Untuk menjadi anggotanya, Irwansyah memberlakukan seleksi ketat. Dirinya memetakan kondisi petani yang tidak sejahtera karena ekonomi. “Kami tidak langsung berikan bantuan percuma. Kita perbaiki dulu karakternya. Petani juga umumnya bertani tanpa keterampilan, menanam seadanya dengan hasil seadanya. Sehingga tidak cukup untuk menghidupi kebutuhan dia,” bebernya.

Namun diakuinya, petani punya keinginan keras hanya tidak punya guide (mentor). “Kami  pun sebulan sekali mengumpulkan petani untuk workshop, dibekali ilmu. Kalau sudah bagus attitude-nya bisa gabung,” katanya.

Sebagai program pertama, ia serahkan pada 1 kepala keluarga untuk mengelola 3.000 pohon. Angka itu, diperoleh dengan menghitung kebutuhan petani, sebagai orang yang punya masalah ekonomi ruwet. “Petani itu, kebutuhannya setiap hari, penghasilannya setahun sekali. Ini harus ada satu program yang bisa menutupi kebutuhan, plus dia bisa melakukan treatment pada kebunnya,” ungkapnya.

Sehingga dari koperasi, dirinya membantu bukan hanya bibit tetapi juga management finansial dan produktivitasnya. “Kalau sudah berhasil kita tambahkan luasan kebunnya. Bisa dari alih garap kebun petani diluar Koperasi,” tambahnya. Koperasi ini juga menjamin kopi dengan harga tinggi dan SHU setiap akhir tahun yang akan diterima anggota koperasi. Dari cara ini, timbul simpati petani untuk ikut bergabung.

Selain cara itu, koperasi jug bersifat seperti Shahibul amal atau pemilik modal dan petani menjadi mudharib amal atau pengelola. Contohnya ketika petani kopi ingin menikahkan anaknya dan membutuhkan uang untuk resepsi, maka koperasi membeli sementara untuk digarap bersama petani koperasi. Keuntungan usaha pun dibagi dua bersama koperasi dan SHU pun didapatkan.

“Kalau dijual bukan ke koperasi, bisa dijual kepada tuannya yang baru, yang tidak mempekerjakan mereka. Saya ingin petani di sini berdaulat atas tanahnya. Dengan syarat attitude dan karakternya baik. Seperti tidak akan curang dan main di belakang. Akan membayar utang tepat waktu, tanpa agunan dan tidak perlu iming-iming bunga,” katanya.

Produk para petani Gunung Puntang ini sudah disuplai rutin ke banyak coffeeshop yang ada di Bandung,  Jakarta, Surabaya, Sumatera, dan Jawa Tengah. Sesekali, Irwansyah mengirim juga pesanan ke Malaysia, Dubai, Korea Selatan, dan Australia. Produk greenbean, bahan baku kopi Puntang diminati pembeli asing. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018