Friday, 07 May 2021


Hasan Kenalkan Melon Dalmatian

09 Apr 2021, 15:13 WIBEditor : Yulianto

Hasan dengan melon dalmation | Sumber Foto:echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Probolinggo---Masih ingat dengan film 101 Dalmatians yang rilis pada tahun 1996? Film tersebut menceritakan sebuah keluarga yang berusaha melindungi anjing peliharaannya dari kejaran wanita yang bernama Cruella de Vil. Anjing yang diburu Cruella adalah anjing dalmatian.

Anjing Dalmation berbulu putih dengan totol hitam. Nama dalmation diambial dari sebuah provinsi di Kroasia, Dalmatian. Penduduknya disebut Dalmatian. Belakangan, Dalmatian juga menjadi nama boyband asal Korea Selatan.

Terlepas dari cerita film dan nama sebuah boyband, ternyata di Indonesia kini ada buah melon Dalmatian. Kebetulan awalnya juga berasal dari negeri K-Pop. Buah melon yang kulit luarnya berwarna putih disertai totol-totol hijau tua itu kini menjadi pendatang baru di kalangan petani di Kota Probolinggo.

 

Sejumlah petani, juga kelompok tani kini gandrung buah segar manis itu. Salah satunya Hasan Prasodjo, pria kelahiran 15 Agustus 1985 yang tergabung dalam Kelompok Tani Lestari Jaya, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo termasuk yang ikut menanam melon Dalmatian.

“Saya bersama rekan rekan yang tergabung dalam kelompok tani menanam melon Dalmatian sejak sekitar tiga bulan lalu,” kata Hasan yang juga mendapat amanah sebagai Ketua Kelompok Tani Lestari.

Hasan bersama rekannya menanam melon Dalmatian di Jl.KH. Ahmad Dahlan No 134 RT 005 /RW 001, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Hasan menanam 500 batang melon Dalmatian dan 1.000 batang melon Golden Luna.

“Kami sedang panen melon saat ini, kami juga punya petak lain yang ditanami 2.000 batang melon Dalmatian, tetapi masih berusia sebulan, buahnya masih kecil-kecil,” kata alumnus Pesantren Nahdlatul Thalibin, Desa Blado Wetan, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo.

Dengan bermodalkan ketekunan dan pengalaman bertani, Hasan mampu menanam dan panen dengan hasil maksimal meski di lahan terbuka di lahan seluas 100 meter persegi. Padahal, melon jenis ini biasa ditanam dan berbuah maksimal di rumah kaca dan ruang tertutup.

Cara Budidaya

Awal menanam melon Dalmation ini, Hasan mendapat kepercayaan dari salah satu perusahaan benih di Kabupaten Banyuwangi. Ia kemudian mempraktikkan arahan dari penyuluh pertanian setempat. Mulai dari merendam bibit selama 5 jam, kemudian dikeringkan selama 30 menit.

Bibit melon Korea tersebut ditanam dengan menggunakan media tisu yang dibasahkan, yang diletakkan di dalam toples selama 24 jam. Setelah tumbuh akar, bibit kemudian dipindah ke sistem polybag dan dibiarkan tumbuh selama 5 hari. Setelah 5 hari, tanaman melon dalmatian yang sudah tumbuh ditanam di area persawahan dengan diberi jarak ideal, sesuai arahan ahli pertanian.

Selama 2 bulan sejak dipindah dari polybag, tanaman melon Dalmatian terus dikontrol. Khususnya PH tanah, setiap 10 hari sekali ditaburi kapur dolomit. Tak hanya itu, kadar air di sekitar tanaman harus juga dikontrol, agar tak terlalu banyak air.

“Melon yang populer di Korea ini saat ditanam di sawah tidak ada kendala. Namun harus sering dikontrol. Baik kandungan airnya maupun kualitas tanahnya,” tuturnya.

Menurutnya, tanaman buah asal Korea biasanya ditanam di rumah kaca dan lahan tertutup. Namun di Indonesia, dicoba tanam pada lahan terbuka. Ternyata, saat di tanam di Kota Probolinggo hasilnya cukup bagus.

Nggak ada kesulitan seperti tanam melon seperti biasa, cuma bedanya melon Dalmatian awal ditanam bibitnya pakai tisu diberi air. Kalau ditanam di grand house butuh biaya mahal," imbuhnya.

Dari 1.500 tanaman melon yang ditanam selama 2 bulan, dapat menghasilkan sekitar 3 ton melon Dalmatian siap jual. Jika harga melon ini Rp 13 ribu/kg, maka keuntungan yang didapat Hasan mencapai Rp 39 juta. Karena sudah ada kerja sama dengan pemasok bibit, maka melon tersebut kembali dibeli perusahaan tersebut,” ujarnya.

Sebagai petani milenial, Hasan berpesan untuk generasi penerus pejuang pangan milenial, apapun profesi jika ditekuni dan fokus, semua pasti bisa, termasuk profesi sebagai petani. “Jika kita terus belajar tentang budidaya tanaman, kita pasti untung dan bisa merubah ekonomi keluarga, termasuk pertanian dari hulu ke hilir,” tuturnya.

--

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018