Friday, 07 May 2021


Wied Areta, Sirup Rempah untuk Lestarikan Warisan Budaya

13 Apr 2021, 08:36 WIBEditor : Yulianto

Wied Areta dengan produk sirup rempahnya | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kecintaan MP Dwi Widiastuti atau yang biasa disapa Wied Areta pada tanaman herbal membuatnya menciptakan aneka sirup alami yang berbahan dasar herbal. Bagi Wied mengolah rempah bukan untuk mencari keuntungan, tapi upaya melestarikan warisan budaya Indonesia.

Berkat kekonsistenannya menjaga rempah asli Indonesia, Wied Desember lalu masuk dalam 100 wirausaha perempuan terbaik dari 1.400 wirausaha perempuan seluruh Indonesia yang mengikuti program WeLearn UN Women. "Produk saya lolos kurasi Smesco, produk alami dari rempah,” ujar Ibu yang tinggal di Bintara Kota Bekasi, Jawa Barat.

Bagi Wied, kegiatannya merupakan bagian dari menjalani misi jiwa - misi kehidupan. Mengolah rempah bukan semata-mata untuk keuntungan duniawi, tapi olahan rempah yang memberikan keberlimpahan dan welas asih. "Dengan rempah saya ingin ikut andil dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya bangsa dengan cita rasa yang kekinian,” katanya.

Wied menjelaskan, sejak tahun 2012 mulai intens menekuni tanaman herbal atau rempah. Ia pun ikut dalam beberapa bimbingan teknis khusus tentang pengolahannya. Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu pendorong untuk mengolah rempah menjadi produk sirup alami.

Inovasi terus dilakukan Wied, sehingga mendapatkan formula produk olahan sirup rempah alami. Setidaknya wanita kelahiran Yogyakarta ini, sudah membuat empat varian sirup alami tanpa bahan pengawet dengan bahan baku rempah atau herbal pilihan dengan brand Walarem.  

Awalnya sirup alami Walarem yang dibuat olehnya hanya dua varian yakni Tamarine dan Secang. Saat ini sudah bertambah dua varian lagi, yaitu sirup bahan baku dasar Rosella dan Pala. Walarem perpaduan Wala dan Rem (bahasa sansekerta). Wala berarti berkelimpahan, sedangkan Rem artinya welas asih. "Rem juga mewakili dari Rempah,” ujarnya.

Wied mengakui, semua varian bahan bakunya didatangkan dari luar daerah seperti asam jawa masak di pohon, gula aren dan gula kelapa asli bahan baku tersebut dipesan langsung dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah.

Begitu pula bunga rosella merah dan rosella ungu kualitas super, sengaja didatangkan dari Daerah Kediri. Sementara buah Pala segar dari Sukabumi. Bahkan kayu secang yang kini langka bisa didapatkan.

Semua sirup Walarem yang dibuat dari aneka tanaman tersebut dilengkapi dengan rempah tambahan seperti jahe merah, jahe putih untuk sirup secang yang istimewa. "Sirup Walarem diramu dengan sepenuh hati, dengan cara manual di rumah dengan formula istimewa yang diharapkan bisa dinikmati dan disukai oleh segala usia,” ujarnya yang kini merambah Penjualan melalui IG Waralem.

Sirup Walarem diklaim Wied sebagai pionir produk sirup rempah alami di Kota Bekasi. Hal tersebut diketahuinya setelah dirinya mendaftarkan produk tersebut untuk berproses mendapatkan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SIPP-IRT). 

Menurut Wied, di tengah Covid-19, ada pergeseran yang disebut tren kekinian, orang pesan Walarem sirup alami untuk dijadikan bingkisan seperti hantaran dengan kemasan khusus. Dikirim ke saudara atau rekanan yang sudah lama tidak bertemu.

“Selama Covid-19 ini, saya lebih fokus karena permintaan sirup alami Walarem meningkat drastis. Padahal saya belum buka penjualan online atau galeri khusus. Murni dari mulut ke mulut ataupun ikut bazar di tingkat kelurahan,” ujar Wied.

Wied mengaku, banyak saran agar dirinya menggunakan bahan pengawet buatan untuk sirup yang diproduksinya. Tapi Wied masih bertahan dengan rempah yang dipercaya mengandung bahan pengawet alami.

Wied ingin tetap mempertahankan keaslian, karena selama ini sirup Walarem bisa bertahan dua bulan meski tanpa tambahan bahan pengawet. Sirup Tamarin bisa lebih dua bulan bertahan karena bahan bakunya sendiri kerap digunakan sebagai bahan pengawet alami seperti gula pasir, gula kelapa atau aren, gula batu dan asam jawa.

“Untuk harga jual dimulai dari Rp. 40 ribu sampai Rp. 45 ribu. Paling mahal Sirup Secang, dan paling murah Rosela, karena masih promosi. Semua harga tersebut memiliki ukuran 500 ml, dan Sirup awet di suhu ruang selama 2 - 5 bulan tergantung variannya,” imbuhnya.

Sebelumnya Wied merupakan wanita karir, lebih dari 25 tahun bekerja dengan berbagai lembaga internasional dan kementerian/lembaga untuk pengembangan kapasitas pemerintahan daerah dan perumusan kebijakan publik. Saat ini dia menjadi Konsultan Bidang Pemerintahan dan Kebijakan publik. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018