Wednesday, 21 October 2026


Kameliati, Pelestari Obat Tradisional Bumi Borneo  

25 Jun 2021, 19:40 WIBEditor : Yulianto

Kameliati (kiri) di depan stan saat pameran

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Potensi tanaman obat di Indonesia sangatlah banyak. Sayangnya keberadaannya di Tanah Air kian tergusur obat-obatan berbahan baku kimia. Untuk itu perlu ada upaya melestarikan tanaman obat bumi Nusantara ini.

Salah seorang yang kini menjadi pelestari tanaman herbal adalah Kameliati M. Jumain. Wanita yang beralamat di Jl. Bangaris 1 No. 09 belakang bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, Kelurahan Tanjung Pinang ini berupaya melestarikan tanaman obat khas bumi Borneo. “Semua jenis tanaman obat lengkap ada di pekarangan rumah saya. Semua memiliki manfaat dari penyakit ringan hingga penyakit berat,” katanya.

Salah satu produk yang dipasarkan Kameliati adalah produk herbal  M4 Bersaudara. Produk tersebut ikut bertarung mewakili Kalimantan Selatan di ronde terakhir Penganugrahan Paramakarya Tahun 2021 tingkat nasional 30 Mei-2 Juni 2021. “Mohon doanya, semoga apa yang sudah kami jalankan selama ini bisa mendapat juara 1, Aamiin,” ujarnya kepada Sinartani.

Racikan obat tradisional dengan sebutan Seduan 41 Macam Akar, menurut Kameliati, di era pandemi saat ini memiliki banyak manfaat untuk menambah imun tubuh guna mengatasi berbagai macam penyakit. “Saya juga racik seduan bajakah dan bawang dayak yang manfaatnya banyak sekali, seperti dapat mencegah sekaligus mematikan se sel kanker dalam tubuh,” tambahnya.

Kameliati mendapatkan resep dari nenek moyangnya yang asli penduduk Kalimantan “Saya mendapatkan semua resep ini dari leluhur saya secara turun temurun dari nenek moyang. Saya jaga kelestarian hutan agar tanaman tersebut terus tumbuh dan ketika dibutuhkan saya ambil bibitnya saya kembangkan di halaman rumah,” tuturnya.

Alasan Kameliati mengembangkan tanaman obat di pekarangan karena makin sulit mencari tanaman obat di hutan akibat pembukaan lahan hutan dan pemekaran wilayah. Karena itu ia mencari solusi dengan membudidayakan tanaman obat penting di sekitar pekarangan rumah.

Jadi selain berfungsi sebagai kebun obat (herbal garden), juga membuat penghijauan di sekitar rumah tinggal. Bahkan ia mengaku banyak keuntungan menanam tanaman obat di pekarangan rumah. Misalnya, jika ada keluarganya sakit, maka bisa langsung segera diatasi secara tradisional. “Paling tidak bisa mengurangi rasa sakit. Jadi saya tidak perlu lama harus berobat ke dokter untuk mendapatkan obat,” ujarnya.

Poktan Tanaman Obat

Kameliati kini dinobatkan sebagai Ketua Kelompok Tani Saluang Sepakat yang merupakan kelompok tani penanaman obat tradisional dayak Kalimantan Tengah. Tiap anggota memiliki luas lahan 50 x 200 meter persegi. “Dulu saya hanya sekedar penjual dan hobi menanam di pekarangan. Sekarang saya bisa bekerjasama dengan masyarakat di desa mendirikan apotik hidup,” katanya.

Kini ada sekitar 500 jenis tanaman herbal yang dapat diramu untuk menjadi obat berbagai penyakit. Antara lain, akar kuning untuk menyembuhkan malaria dan maag, akar ulin untuk obat awet muda. Ada lagi kayu bawi untuk menyembuhkan sakit pinggang dan batu ginjal.

Kameliati menjelaskan, ada beberapa tanaman obat yang cocok di pekarangan rumah. Contohnya jahe. Selain sebagai bumbu masakan yang enak, jahe juga merupakan tanaman obat yang paling populer untuk mengembalikan stamina dan menghangatkan badan.

Selain itu, tanaman kemangi juga sangat baik ditanam di pekarangan rumah. Fungsinya selain sebagai menu lalapan, juga bisa mengobati beberapa penyakit ringan seperti perut kembung, kurang nafsu makan, luka goresan dan menghilangkan bau badan.

Kunyit juga dapat dibudidayakan di pekarangan rumah. Tanaman tersebut banyak dimanfaatkan sebagai obat alami seperti obat maag, kurang darah. Tanaman obat lainnya adalah Binahong. “Tanaman obat ini berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit ringan dan berat. Selain itu mempercepat kesembuhan infeksi di dalam dan luar tubuh,” kata Kameliati.

Menurutnya, di era pandemi saat ini potensi pasar obat tradisional cukup baik. Selain khasiatnya yang mampu mengatasi berbagai jenis penyakit. obat tradisional juga berbahan dasar alami tanpa mengandung efek samping dan mudah dijangkau kalangan masyarakat.

Dalam memasarkan produknya, Kameliati menggunakan media sosial. “Untuk sekarang kebutuhan pasar sangat banyak, bahkan antar provinsi hingga ke seluruh Indonesia. Saya juga menerima pesanan melalui melalui wa dan fb,” ujarnya.

“Alhamdulillaah saya bisa menjual hingga 200-250 pcs/minggu, karena banyak orang sudah tahu khasiat herbal mengatasi berbagai jenis kanker/tumor, anti oksiden, kista, miom, tekanan darah tinggi, jantung, kolestrol, kencing manis, infeksi luka. Harga yang saya tawarkan Rp100.000 /pcs. Alhamdulillaah ada saja permintaan,” tuturnya.

Meski usahanya melestarikan tanaman obat herbal relatif berjalan, ia mengaku masih memerlukan pendamping. Terutama manajemen pemasaran yang berkelanjutan dan pengolahan lahan yang kurang subur. Banyak lahan di Kalimantan Tengah yang berpasir dan terlalu panas.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018